Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Lentera yang Lahir dari Rahim Nama

Memang hanya selalu diam yang tercipta setiap kali waktu mengantarkan kita pada keadaan bernama pertemuan. Dan memang hanya itu yang diinginkan keadaan pada waktu itu. Sebab diam selalu memberi keleluasaan untukku menikmati wangi parfummu. Hanya diam yang mampu menenggelamkanku dalam balutan imajinasi yang menggebu. Dan hanya diam yang membuatku kenyang menatap manik matamu.

Dan bibir, menarik segaris senyuman untuk menterjemahkan pergumulan rasa. Kita hanya butuh diam. Sebab keadaan bernama pertemuan tidak membutuhkan celoteh riang. Karena kata hanya dibutuhkan ketika jasad sedang berjeda. Bahasa tubuh kita tidak memerlukan rayuan seperti yang selalu dikirimkan langit kepada alam. Karena jiwa kita mempunyai bahasa sendiri untuk saling mengerti. Semuanya dalam diam!

Kesakralan tercipta dalam diam. Seperti prosesi ijab qalbu yang telah kuikrarkan sejak bertahun-tahun silam. Saat aku melamar hatimu untuk hidupku. Sebelum rahim namamu melahirkan geletar yang terus tumbuh dan hidup. Dan ia …

Aku Lelah Memanggilmu Cutbang

Entahlah. Sejak pertama kali melihatmu aku merasa bahwa kita akan menjadi dekat. Dan ketika kita semakin sering bertemu aku bertambah yakin kalau kamu adalah jodohku. Tapi saat itu belum ada rasa cinta untukmu. Hanya sebatas rasa suka dan kagum. Kekaguman yang memaksaku untuk bersikap dingin terhadapmu.

Kita jarang bertukar sapa. Kecuali jika memang sangat-sangat kepepet seperti saat berpapasan di pintu masuk atau ada keperluan lainnya yang tak dapat didelegasikan. Kaupun, sepertinya memang tak begitu menganggapku penting. Aku menduga-duga saja karena sebagai ketua kelas kau jarang sekali meminta bantuanku yang waktu itu kebetulan menjadi sekretaris kelas. Tapi aku senang, kecanggungan yang tercipta di antara kita membuatku terbebas dari berbagai kesibukan sekolah. Dan aku bisa fokus sepenuhnya pada pelajaran.

Itu cerita belasan tahun silam. Saat kau dan aku masih duduk di bangku sekolah menengah ekonomi atas. Kupikir cerita tentang rasa kagum itu akan hilang begitu…

Dalam Gerimis

Di hujan gerimis itu, kulihat kau berjalan pelan. Matamu lurus menerjang butir-butir hujan, badanmu melayang-layang terkibas angin yang kencang. Sementara langit yang merah kian menenggelamkanmu dalam silau yang panjang. Kau tersaruk-saruk dalam desau angin yang liar.

Aku menyusurimu di belahan jalan yang lain, mengamatimu, mengikuti gerakmu yang mistis, menyeimbangkan diri dengan liukan angin yang begitu nakal. Aku ikut tersaruk, dalam desau angin, ikut tenggelam dalam silau yang dahsyat.

Kita berjalan beriringan, namun dalam ritme badan jalan yang berbeda, aku melihatmu, memanggilmu, tapi suara lengkingku hilang sebelum resonansi suara sampai ke telingamu. Kau tetap berlalu dan aku terus mengejar. Setiap kali aku akan meraih lenganmu yang terapit-apit, setiap kali pula kau terlempar pada jarak yang begitu jauh. Seperti apa kau berjalan, secepat kilat yang sesekali datang bersamaan dengan gemuruh yang resah. Aku ternga-nga, ada apa gerangan denganmu?

Masih dalam hujan yang gerimis, kali…