Langsung ke konten utama

Dalam Gerimis

Di hujan gerimis itu, kulihat kau berjalan pelan. Matamu lurus menerjang butir-butir hujan, badanmu melayang-layang terkibas angin yang kencang. Sementara langit yang merah kian menenggelamkanmu dalam silau yang panjang. Kau tersaruk-saruk dalam desau angin yang liar.

Aku menyusurimu di belahan jalan yang lain, mengamatimu, mengikuti gerakmu yang mistis, menyeimbangkan diri dengan liukan angin yang begitu nakal. Aku ikut tersaruk, dalam desau angin, ikut tenggelam dalam silau yang dahsyat.

Kita berjalan beriringan, namun dalam ritme badan jalan yang berbeda, aku melihatmu, memanggilmu, tapi suara lengkingku hilang sebelum resonansi suara sampai ke telingamu. Kau tetap berlalu dan aku terus mengejar. Setiap kali aku akan meraih lenganmu yang terapit-apit, setiap kali pula kau terlempar pada jarak yang begitu jauh. Seperti apa kau berjalan, secepat kilat yang sesekali datang bersamaan dengan gemuruh yang resah. Aku ternga-nga, ada apa gerangan denganmu?

Masih dalam hujan yang gerimis, kali ini agak sedikit lebat, dan kau mulai terlihat basah, rambutmu sujud di atas cangkang yang melindungi otakmu. Langit tak lagi merah, cahaya telah meredup, kini gelap yang hadir memasung, dunia dan cakrawala. Tapi kita masih bertahan, kau terus berjalan dan aku terus mengikuti.

Kupanggil namamu sekali, kau menoleh tapi tak menjawab, aku lega, tak sia kuikuti kau sejak tadi. Cemasku hilang, gundahku berkurang. Kau lempar senyum, senyum yang telah membuatku tak alpa mengingatmu sejak bertahun-tahun yang lalu. Hatiku merekah. Gelap ini adalah gelap terindah sepanjang hidupku, sepanjang hariku menunggumu, hingga kutemukan kau di tengah gerimis matahari yang merah hingga gelap mencengkeramnya.

Kupanggil lagi namamu, berkali-kali, tapi kau tak lagi menoleh, pergi dan terus pergi, aku terkapar dalam halusinasi yang kejam, Tuhan menjemputku dengan cara tak biasa, Tuhan mempertemukan kita di saat aku sangat ingin melihatmu, walaupun aku hanya mampu melihatnya dengan imajinasiku, bahkan hingga jasadku hancur berkeping-keping dan darahku bercampur air hujan, aku masih bisa memanggil namamu, nama yang akan membuatku selamanya hidup. Kamu!



17.31 pm
16-06-2010

--------------------
Ihan Sunrise

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.