Langsung ke konten utama

Di ambang pintu

Melihatmu berdiri di ambang pintu, menjelang malam, sekilas kau melempar senyum ketika mata kita saling bertemu. Memakai baju motif kotak-kotak, dipadu celana jeans, kau terlihat muda dan energik sekalipun usiamu tak lagi cukup muda. Apalagi dengan potongan rambutmu yang pendek sehingga telingamu kentara terlihat.

Aku masih tersenyum, ketika kulihat seseorang turun dari mobil lalu menuju ke arahmu, mataku mencari-cari manik matamu untuk menanyakan sesuatu. "Diakah?" tanyaku dengan pandangan mata memberi isyarat. Kau tersenyum pertanda iya. "Benar", aku yakin itulah jawaban yang kau beri ketika itu sekiranya kita dekat. Sayang, aku hanya dapat melihatnya sebentar saja, sebab senja semakin gelap dan aku harus segera pulang.

Aku kembali tersenyum ketika hampir satu jam kemudian melewati rumahmu. Tapi kali ini sedikit rasa satir dan getir. Pintu rumahmu kulihat terbuka, menganga, tapi kalian sama sekali tak mampu kutangkap bayangnya. Ah...mungkin saja kalian sedang asyik bercengkerama, seperti biasa yang sering kalian lakukan. Aku terus berlalu...

Seharusnya...kau tak harus berlaku begitu, tak harus berdiri di ambang pintu menyambutnya, apalagi kerap tergesa-gesa menjelang kedatangannya, kau yang begitu bersemangat, merasa istimewa dan kehangatan yang menjalari lekuk hati dan jiwamu, tapi diam-diam sering kau pertanyakan mengapa begitu. Harus kah aku menjawab? Haruskah aku bercerita? Haruskah aku memberi tahu bahwa sebaiknya kita sudahi saja semuanya. Kau menyudahi lakonmu, dan aku menyudahi peranku. Menurutku, masing-masing kita sudah punya jawaban.



12:12 pm
25 Mei 2010

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…