Langsung ke konten utama

Pertemuan dalam ruang Imaji

Aku takjub! Tidak. Bukan. Tepatnya heran. Sebab baru kemarin aku berfikir tentang kalian. Menempuh perjalanan sejauh lima puluh kilometer aku sengaja mengatup mata agar kalian bisa hadir bersamaan dalam ruang imajiku. Dan benar saja, kalian hadir begitu memikat, nyaris sempurna. Dan aku merasa senang, juga rasa puas yang begitu besar. Sebab aku bisa pertemukan kalian, walau hanya di ruang imaji yang terbatas.


Takdir berperan besar terhadap perkenalan kita, tentu juga perkenalan antara kau dan dia. Dan kedekatan yang tercipta di antara kita seratus persen aku yakin karena ruang gelisah yang kita punyai mempunyai panjang dan diameter yang sama. Pendeknya, kita bisa bertukar kenyamanan sehingga kita merasa cocok dan bisa bersahabat. Tentu itu tidak mudah bukan mengingat masing-masing kita adalah pribadi yang tertutup.


Tetapi kedekatanmu dengannya, aku yakin karena ikatan kimia yang lain, bukan untuk bertukar kegelisahan, bukan untuk bertukar kekhawatiran, tapi hanya tempat untuk mengeksplorasi rasa senang dan perasaan. Bahwa kalian membutuhkan satu sama lainnya.


Maka setelah itu kita sering bertukar kegelisahan yang sama, bertukar kesedihan, kekesalan hingga bertukar kesenangan. Semuanya seperti titik-titik air yang jatuh dan menyuburkan olah kata kita untuk tak lagi punya rahasia. Semua tentang akal, pikiran, hati dan perasaan, dan juga logika. Semuanya begitu nyata dalam pesan-pesan singkat yang kita terima.


Untuk itulah aku benar-benar takjub. Aku lebih suka mengatakannya kaget. Sebab baru kemarin aku mempertemukan kalian di ruang imajiku, baru kemarin kau bercerita tentang rasa suka citamu, baru kemarin kau berbagi tentang bagaimana kau menunjukkan rasa cintamu terhadapnya, baru kemarin, yah baru kemarin. Baru kemarin juga kau mengatakan bahwa kau menginginkan sesuatu yang tumbuh dan hidup dalam rahimmu, dan itu dari dia. Walaupun untuk itu entah bagaimana caranya. Dan memang baru kemarin aku mempertemukan kalian dalam ruang setengah sadarku untuk mewujudkan keinginan itu.


Kegelisahan itu semakin terasa saat kau mengatakan bahwa kamu mungkin sedang patah hati. Kau tahu, katup-katup jiwa kita mulai menyatu kurasa. Sehingga rasa patah hati benar-benar kurasa menyelinap dalam rongga jiwaku. Aku tergugu untuk beberapa saat. Urung memejamkan mata meski malam sudah sangat larut. Dan kelelahan yang seharian membalut jasad kurasa menghilang. Aku mengkhawatirkanmu. Aku tercenung. Benarkah kau patah hati?


“Tapi patah hati bukanlah bentuk lain dari sebuah kekalahan.” Kataku padanya, mungkin juga pada diriku sendiri.


Entahlah, kau tak butuh nasehat pastinya. Dan aku kesulitan ingin mengatakan apa. Jawabannya tentu saja ada pada airmatamu yang terus mengalir, pada pikiranmu yang susah sekali diajak berdamai, dan tentu saja pada jiwamu yang mulai rasakan bahwa sesuatu itu telah benar-benar tumbuh dan hidup dalam dirimu, meski bukan dalam rahimmu seperti yang kau inginkan.


“Aku hanya inginkan kebenaran atas semua keterusterangannya.” Jawabmu berkali-kali dengan kata yang berbeda.


Aku bukan sedang ingin menyimpulkan, tapi, apakah kebenaran bisa didapatkan tanpa pernah melihat gesturenya? Bahkan ketika ia berbicara, kau tak pernah bisa melihat seperti apa matanya yang ikut berbicara, lalu bagaimana anggota tubuhnya yang lain ikut menterjemahkan. Aku tak sangsi dengan apa yang kau rasakan, aku tahu bahkan sangat tahu bila kau benar menaruh rasa padanya. Bahwa kau sedang tak ingin bermain-main dengan perasaanmu, dan tentu saja perasaannya. Tapi, tapi aku bingung dengan arti kebenaran itu sendiri.


Langit yang kujunjung hari ini memang mendung, tapi semoga saja itu bukan representasi dari akumulasi kesedihanmu yang begitu dalam. Sedihmu adalah sedihku juga. Sebab, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya bahwa kita memiliki ruang kegelisahan dengan ukuran panjang dan diameter yang sama. Yang tentu saja bisa saling bertukar tempat. Percayalah, tak ada ketulusan dan keikhlasan yang sia-sia. Sekalpun hanya untuk sebuah pertemuan yang tercipta di ruang imaji.

Ihan Sunrise

Banda Aceh, 6-5-10

11.05 am


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.