Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Yang Menghapus Airmataku

HAMPIR setahun ini kami sekeluarga harus menjalani hari-hari yang teramat sulit. Seperti badai! Kesulitan itu datang tanpa pertanda apapun. Lantas memporak-porandakan apa yang ada di sekitar kami. Menghancurkan tiang-tiang yang selama ini menjadi tempat kami berpegang dan bersandar. Menerbangkan atap-atap yang selama ini melindungi kami dari hujan dan terik.

Semuanya terjadi begitu cepat. Berawal dari sakitnya Ibu pada awal September tahun lalu. Waktu seolah berlari. Tanpa terasa waktu setahun hanya tersisa beberapa bulan lagi.

Badai juga ikut memadamkan lampu-lampu yang selama ini memberi terang untuk kami. Lalu apa yang terjadi? Ya, kami terseok-seok, kesulitan mencari jalan sekadar untuk melangkah. Konon lagi untuk berlari. Kami terpisah satu sama lainnya. Kami terpuruk!

Kami seperti berada di sebuah lorong yang gelap dan panjang. Pengap. Saat kami melewati lorong itu yang terdengar hanya suara kami sendiri. Suara yang menyiratkan kegelisahan dan ketakutan. Kami terus berjalan mes…

Ayah, Peluklah Aku

ilustrasi ayah dan anak perempuannya
Ayah, Apa kabarmu di sana? Kau pasti baik-baik saja bukan? Ayah pasti baik, karena aku selalu mendoakan ayah dari kejauhan.
Ayah, Ceritakan padaku tentang wangi surga yang dirindukan itu. Aku ingin sekali sekadar mengetahui seperti apa wajahnya. 
Ayah, Bolehkah aku menceritakan sesuatu padamu?  Aku tahu, sedikit sekali waktu yang kita punya dulu agar bisa saling bertukar cerita. Aku dan ayah selalu jauh, hidupku habis di perantauan, bahkan sejak usiaku masih sangat belia. Ayah juga terlalu cepat pergi, meninggalkan aku, meninggalkan ibu, meninggalkan semuanya. Padahal kami masih sangat membutuhkan ayah.
Ayah tahu apa yang terjadi setelah ayah tiada? Semuanya berjalan baik-baik saja, normal-normal saja. Tapi itu hanya di awal-awal saja. Belakangan terlalu banyak hal-hal yang tidak diinginkan hadir di kehidupan kami. Di hidupku, di kehidupan ibu, di kehidupan adik-adik.
Dan tahun ini adalah puncak dari semua hal yang tidak menyenangkan itu. Aku tidak ingin be…

Karena Ibu Aku Rela Jadi Istri Kedua

Hanya beberapa saat setelah saya memposting Akhir Kisah Mencintai Lelaki Beristri, sebuah pesan masuk ke akun media sosial saya.

Pesan itu dari seseorang yang sudah saya 'kenal' lama. Namun beberapa tahun belakangan ini kami hampir tak pernah berinteraksi. Terakhir berkomunikasi dengannya pada Februari lalu, setelah tanpa sengaja saya melihat fotonya dengan seorang bayi muncul di beranda saya.

"Hai Dek, selamat ya sudah punya momongan. Lama tidak saling komunikasi ternyata sudah ada yang berubah status," tulis saya melalui pesan inbox ketika itu.

"Heeii kaka... yaa ampuuun kamana wae.. hehe. Iya alhamdulillah, makasih yaa ka." balasnya singkat.

Setelah itu tidak ada lagi komunikasi. Tidak pula kami bertukar pin dan nomor telepon. Sampai akhirnya beberapa hari lalu ia kembali menyapa saya melalui pesan inbox, "kisah aku ditulis dong kak."

Saya sempat terpekur sesaat. Mengapa ia meminta saya menuliskan kisahnya? Adakah sesuatu yang 'tak lazim&#…

Akhir Kisah Mencintai Lelaki Beristri

AKU duduk dan membuang pandang ke jalan raya. Menyaksikan lalu lalang kendaraan dari meja kerjaku. Matahari mulai bersujud. Pertanda sebentar lagi hari akan gelap. Sesekali kupandangi kotak masuk di email. Ada banyak pesan yang masuk dari sebuah nama. Sudah dua hari ini, setiap kali memandangi kotak masuk di email, hatiku selalu bergerimis. Nyeri. Perih. Sakit.
Seperti saat ini. Tanpa sadar mataku kembali menjadi basah saat melihat nama itu di deretan pesan masuk. Hatiku bergemuruh. Emosiku menjadi tak karuan. Perbincangan dua hari lalu dengan pemilik nama itu kembali terngiang. Seolah seperti hantu yang terus membayangi dan memunculkan wajahnya. Ya, percakapan melalui email. Percakapan yang bisu namun telah meruntuhkan perasaan dan harapanku.
Email-email itu dari Juan (nick name). Lelaki bergelar kekasih yang sudah lebih sepuluh tahun bersamaku. Waktu yang teramat lama untuk mendefinisikan sebuah perasaan, cinta dan juga kesetiaan. Aku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Menyebut n…

Siapa yang Menanggung Dosa karena PLN?

ilustrasi @sindonews.com
SUDAH habis kata untuk melukiskan kedongkolan yang disebabkan oleh PLN. Listrik padam tiba-tiba saat sedang bekerja sudah menjadi santapan sehari-hari. Mau tidak mau, terima tidak terima, suka tidak suka harus ditelan. Sayangnya, dalam sehari bukan cuma sekali saja padamnya, tapi bisa dua hingga tingga kali. Durasinya juga bukan cuma satu dua jam, tapi sampai berjam-jam.
Sungguh! PLN sudah membuat para pelanggannya seperti narapidana yang disekap di penjara bawah tanah. Berkubang kegelapan. Tanpa cahaya. Tanpa harapan. Melalui hari-hari hanya untuk mengutuk dan memaki. Siapa yang akan menanggung dosa karena itu? Apakah Manajer PLN? Ataukah pemimpin daerah yang seolah ikut menikmati 'drama' kezaliman ini?
Saya adalah salah satu dari jutaan masyarakat Aceh yang menjadi korban kezaliman perusahaan negara itu. Jangan tanya berapa besar kerugian yang kami alami akibat efek domino dari sering padamnya listrik. 
Saat ini, saat sedang menuliskan ini kekesalan saya…

7 Mei

Aku terjaga dari tidur. Ketika itu matahari sudah begitu liar hingga nekat menerobos masuk ke kamarku yang gelap. Aku menepiskan selimut. Menepiskan bantal. Lantas meraba-raba mencari telepon genggamku. Mataku mengerjap-ngerjap karena silau ketika benda itu kunyalakan. Kemudian menjadi terbelalak saat sebuah pesan muncul di layar datarnya.

Pesan itu dikirimkan seseorang. Meski namanya tidak tertera di phonebook, tapi aku tahu siapa pengirimnya. Aku hafal benar kode tiga angka pertamanya.

Aku membaca pesannya perlahan. Dengan hatiku. Dengan sisa kantuk yang masih ada namun tiba-tiba menghilang dalam hitungan detik. Aku membacanya berulang-ulang. Tanpa kusadari bibirku menarik segaris lengkung. Hatiku serasa mekar seperti adonan yang diberikan pengembang. Mataku berbinar-binar. Aku bisa merasakannya. "Terimakasih sudah membuatku istimewa, aku mencintaimu," balasku singkat kepadanya. Aku mengecup layar ponselku sebagai ganti mencium pipinya.

7 Mei adalah hari lahirku sesuai ya…