Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Engkau dalam Burdah Rahasia

Sebab selalu ada rahasia untuk kita nikmati bersama, aroma tubuhmu rahasia, tatapan matamu
rahasia, sentuhanmu rahasia, gelak tawamu rahasia. Namamu rahasia, sketsa wajahmu rahasia,
mencintaimu rahasia, tetapi adalah rahasia yang mampu lahirkan klimaks imajinasi.

Rahasia yang tercipta bagai angin, yang mampu menyentuh bagai kulit lembutmu, yang mampu
membuat berdesir seperti tiupan bibirmu. Yang mampu mendebarkan jiwa, menggetarkan kalbu, lalu,
adakah rahasia lain yang melebihi senikmat mencintaimu?

Kau yang mengalir lembut bagai air sungai, menghanyutkanku ke luasnya hatimu, dan kita terdampar di
delta jiwa, di mana hanya ada kita di sana; aku dan engkau. Untuk kemudia bersama-sama melafalkan
ikrar untuk saling membalut diri dalam kerudung rahasia kehidupan.

Bersamamu kita mengitari alam nirwana, dengan tangga dari leguh-leguh yang sempat muncul dari
suara yang terputus-putus. Di sebuah terminal, tempat semua rahasia terkumpul kita berhenti sejenak,
sekedar untuk menikmati sepoi dari…

Jalan Lengang

Barangkali, ini adalah langkah di jalan panjang yang lurus, sepi dan lengang, anginpun enggan untuk ada. Udara hanya seperti butir air, menyusup malas ke ruang paru-paruku. Cukuplah denyut nadi sebagai indikator bahwa Tuhan masih bermurah hati. Meski lengang, Ia masih memberiku kesempatan untuk menikmati suasananya.

Jalan ini begitu lurus, tak ada kelokan, tak ada persimpangan, tak ada lampu merah, juga tak ada tanda-tanda akan segera berakhir. Aku terus berjalan, dengan pikiran yang tak lagi mampu mengembangkan imaji, meski untuk menghadirkan sebuah nama dan wajah. Langkahku tak terhenti, meski semua kata telah membeku, membentuk tebing curam yang licin, lidahku tak lagi mampu mentasbihkan narasi.

Ini jalan yang mistis untuk dilalui seorang diri, meski semua rasa telah tawar tetapi ada nikmat dalam pandangan jarak yang panjang. Di ujung sana, semua kisah telah terjilid, semua prasasti telah tersusun, semua sejarah telah tertata rapi, semua kenangan telah menjadi layar lebar.

Lengang …

Mereka yang Datang

Mereka datang dengan luka berdarah, kaki patah sebelah, jalan terseok-seok, wajah meringis kesakitan, keringat mengalir di pelipisnya. Mereka datang menemui dokter. Lalu pulang dengan luka mengering, kaki telah kembali tegak, berjalan dengan gagah, muka sumringah penuh senyum, keringat telah kering di pelipisnya.Mereka terluka fisiknya.

Sebagian yang lain datang dengan hati terluka, juga berdarah-darah, wajah kusut menahan murung, senyum terkatup seperti pintu yang terkunci rapat. Mereka datang menemui sepi. Dan tak pernah berharap untuk kesembuhan. Mereka terluka perasaannya. Hidupnya cacat.

Mereka mengurung diri dalam sepi yang panjang, menutup jendela-jendela dunia, memadamkan lampu-lampu cahaya, memotong harapannya sendiri, menciptakan kubangan perih. Lalu menceburkan diri hingga tenggelam. Mati!

Bergumul dengan Diam

Aku mulai mengerti, mengapa kadangkala angin bertiup lebih kencang dari biasanya, dan air bergerak memutar-mutar gelombang dengan cepat tak sesuai dengan ritmenya, dan matahari menyengat melebihi panas yang sanggup ditahan oleh indera.

Aku mengerti, diam memang banyak memberikan inspirasi, dan juga maknawi terhadap sesuatu yang berlaku, diam mampu menjadi kekasih di saat paling tidak terduga sekalipun, dan pergumulan dengan diam adalah abstrak yang tidak akan diketahui oleh siapapun, maka memilih diam adalah luar biasa.

Diam adalah oase agar api tak menjalar terlalu cepat, hati telah kering memang, tetapi air mata yang jatuh telah melembabkan gurun jiwa yang sepi. Sekali lagi, diam mendamaikan gemuruh serupa guntur sebelum hujan datang, engkau!

Ya, aku telah mengerti sekarang, dan cinta yang akan terucap itu biar dia menjadi karam bersama gelombang yang akan surutu, biar ia menjadi tenang serupa angin yang berhenti berputar, biar ia menjadi dingin serupa matahari yang ditenggelamkan w…

Gelombang Air dan Musafir

Benarkah, ketika engkau mengatakan bahwa yang tidak terlihat telah mampu kau lihat, benarkah,tentang hatiku dan tentang diamku yang tidak memberikan penjelasan apapun. Tetapi engkau telah megetahui semuanya. Sedangkan kita baru beberapa kali bertemu.

Mungkin, kau telah mengetahui segalanya, tentang hatiku, tentang jiwaku, tentang perasaanku, tetapi seperti katamu, kita masih memiliki senyum sebagai tamu agung yang harus diperlakukan dengan kasta tertinggi. Untuk mengelabui galau dan resah yang lebih sering datang.

Dan, bahkan ketika engkau menitikkan air mata, aku sanggup bertahan untuk tidak melakukan itu. Seperti aku tak bisa memenuhi permintaanmu untuk pertemuan pada purnama yang akan menjelang ini. Kita tahu itu hanya sebentar lagi, tetapi akupun tahu hati yang tertutup ini bukan sepenuhnya seperti yang engkau katakan.

Air selalu menemukan jalannya untuk menyelesaikan masalah, anggap saja aku air yang hidup dengan kepulan gelombang, dan engkau adalah musafir yang sin…

Tentang Waktu

Ini adalah saat di mana hati tertinggal begitu jauh, berserak-serak, terlalu jauh dari pangkal. Ini adalah saat di mana aku mengetahui mengapa aku harus kembali ke kota ini, memang, semuanya adalah penundaan untuk berterus terang, tetapi ini penundaan yang terasa lebih bijaksana. Menurutku!

Yang datang dan yang pergi sama saja, sama-sama menyisakan rindu yang membinasakan. Mungkin, semua pintu memang sudah tertutup, dan hasrat mulai mengatup. Rapat. Erat. Tak ada lagi celah. Tetapi ini juga tentang kebiasaan, adat isitiadat, hukum alam yang tak dapat ditolak.

Ini adalah masa di mana aku hampir tak mengenali diriku sendiri, membisukan kata dalam diam adalah jalan keluar dari semua pertanyaan yang menyesakkan dada. Yah, ini bukan hanya tentang hati yang telah terkunci rapat.!