Langsung ke konten utama

Jalan Lengang

Barangkali, ini adalah langkah di jalan panjang yang lurus, sepi dan lengang, anginpun enggan untuk ada. Udara hanya seperti butir air, menyusup malas ke ruang paru-paruku. Cukuplah denyut nadi sebagai indikator bahwa Tuhan masih bermurah hati. Meski lengang, Ia masih memberiku kesempatan untuk menikmati suasananya.

Jalan ini begitu lurus, tak ada kelokan, tak ada persimpangan, tak ada lampu merah, juga tak ada tanda-tanda akan segera berakhir. Aku terus berjalan, dengan pikiran yang tak lagi mampu mengembangkan imaji, meski untuk menghadirkan sebuah nama dan wajah. Langkahku tak terhenti, meski semua kata telah membeku, membentuk tebing curam yang licin, lidahku tak lagi mampu mentasbihkan narasi.

Ini jalan yang mistis untuk dilalui seorang diri, meski semua rasa telah tawar tetapi ada nikmat dalam pandangan jarak yang panjang. Di ujung sana, semua kisah telah terjilid, semua prasasti telah tersusun, semua sejarah telah tertata rapi, semua kenangan telah menjadi layar lebar.

Lengang ini sungguh luar biasa, bila putih adalah putih sempurna tanpa sekelebat gelap pun, dan bila gelap adalah sempurna bekat tanpa cahaya sebesar dzarrah pun. Ini adalah keadaan yang tercipta dengan sendirinya dan tidak seorangpun bisa mendurhakainya.

Tak ada indikator bahwa angin benar-benar ada di sini, sebab tak ada pepohonan yang bisa bergoyang dahannya, tak ada kabel-kabel listrik, tak ada rumput ilalang. Ini adalah jalan panjang, yang di sisi-sisinya bukan gurun, bukan lautan, bukan tanah lapang, bukan pula savana atau belantara.

Jalan ini, adalah jalan panjang yang di setiap sisinya bertebaran jiwa-jiwa, bertabur hati-hati, berserakan perasaan, jangan memintaku menjelaskan tentang sesuatupun, karena aku hanya pejalan di jalan yang lengang ini.


09.46 pm
19 -Sept 11
Permata Punie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n