Jalan Lengang

Barangkali, ini adalah langkah di jalan panjang yang lurus, sepi dan lengang, anginpun enggan untuk ada. Udara hanya seperti butir air, menyusup malas ke ruang paru-paruku. Cukuplah denyut nadi sebagai indikator bahwa Tuhan masih bermurah hati. Meski lengang, Ia masih memberiku kesempatan untuk menikmati suasananya.

Jalan ini begitu lurus, tak ada kelokan, tak ada persimpangan, tak ada lampu merah, juga tak ada tanda-tanda akan segera berakhir. Aku terus berjalan, dengan pikiran yang tak lagi mampu mengembangkan imaji, meski untuk menghadirkan sebuah nama dan wajah. Langkahku tak terhenti, meski semua kata telah membeku, membentuk tebing curam yang licin, lidahku tak lagi mampu mentasbihkan narasi.

Ini jalan yang mistis untuk dilalui seorang diri, meski semua rasa telah tawar tetapi ada nikmat dalam pandangan jarak yang panjang. Di ujung sana, semua kisah telah terjilid, semua prasasti telah tersusun, semua sejarah telah tertata rapi, semua kenangan telah menjadi layar lebar.

Lengang ini sungguh luar biasa, bila putih adalah putih sempurna tanpa sekelebat gelap pun, dan bila gelap adalah sempurna bekat tanpa cahaya sebesar dzarrah pun. Ini adalah keadaan yang tercipta dengan sendirinya dan tidak seorangpun bisa mendurhakainya.

Tak ada indikator bahwa angin benar-benar ada di sini, sebab tak ada pepohonan yang bisa bergoyang dahannya, tak ada kabel-kabel listrik, tak ada rumput ilalang. Ini adalah jalan panjang, yang di sisi-sisinya bukan gurun, bukan lautan, bukan tanah lapang, bukan pula savana atau belantara.

Jalan ini, adalah jalan panjang yang di setiap sisinya bertebaran jiwa-jiwa, bertabur hati-hati, berserakan perasaan, jangan memintaku menjelaskan tentang sesuatupun, karena aku hanya pejalan di jalan yang lengang ini.


09.46 pm
19 -Sept 11
Permata Punie

Komentar