Langsung ke konten utama

Engkau dalam Burdah Rahasia

Sebab selalu ada rahasia untuk kita nikmati bersama, aroma tubuhmu rahasia, tatapan matamu
rahasia, sentuhanmu rahasia, gelak tawamu rahasia. Namamu rahasia, sketsa wajahmu rahasia,
mencintaimu rahasia, tetapi adalah rahasia yang mampu lahirkan klimaks imajinasi.

Rahasia yang tercipta bagai angin, yang mampu menyentuh bagai kulit lembutmu, yang mampu
membuat berdesir seperti tiupan bibirmu. Yang mampu mendebarkan jiwa, menggetarkan kalbu, lalu,
adakah rahasia lain yang melebihi senikmat mencintaimu?

Kau yang mengalir lembut bagai air sungai, menghanyutkanku ke luasnya hatimu, dan kita terdampar di
delta jiwa, di mana hanya ada kita di sana; aku dan engkau. Untuk kemudia bersama-sama melafalkan
ikrar untuk saling membalut diri dalam kerudung rahasia kehidupan.

Bersamamu kita mengitari alam nirwana, dengan tangga dari leguh-leguh yang sempat muncul dari
suara yang terputus-putus. Di sebuah terminal, tempat semua rahasia terkumpul kita berhenti sejenak,
sekedar untuk menikmati sepoi dari tumpukan kesepakatan. Di sanalah kita pernah menghela napas
lega yang panjang, sambil memasuki ke dalamnya mata masing-masing.

Tak perlu engkau bila hanya ingin menyentuh perasaanmu, tak perlu engkau bila hanya ingin
merasakan hangatnya sentuhanmu, tak perlu engkau bila hanya ingin menjelajahi tatapanmu, tak perlu
engkau bila hanya ingin menyingkap tabir rahasia. Sebab kita adalah rahasia itu sendiri.

Kekasih, dengan bertambahnya usiamu maka bertambah pula usia cinta kita, bertambah pula usia kesungguhan kita untuk meneguhkan hati, untuk saling mencintai, saling menyayangi, saling mendoakan meski engkau dan aku sering berada di ruang dan waktu yang berbeda.

Teruslah besar menjadi pohon yang rindang, agar engkau bisa menjadi payung bagi jiwa-jiwa rentan, teruslah mengalir bagai air agar engkau mampu menyejuki jagad raya, teruslah hidup untukku, dan untuk alam. Teruslah dan jangan pernah berhenti, seperti harapan kita yang semakin tumbuh dan besar.

Happy Birthday My Beloved Z


Yang selalu mencintaimu
Ihan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis