Langsung ke konten utama

Lentera yang Lahir dari Rahim Nama

Memang hanya selalu diam yang tercipta setiap kali waktu mengantarkan kita pada keadaan bernama pertemuan. Dan memang hanya itu yang diinginkan keadaan pada waktu itu. Sebab diam selalu memberi keleluasaan untukku menikmati wangi parfummu. Hanya diam yang mampu menenggelamkanku dalam balutan imajinasi yang menggebu. Dan hanya diam yang membuatku kenyang menatap manik matamu.

Dan bibir, menarik segaris senyuman untuk menterjemahkan pergumulan rasa. Kita hanya butuh diam. Sebab keadaan bernama pertemuan tidak membutuhkan celoteh riang. Karena kata hanya dibutuhkan ketika jasad sedang berjeda. Bahasa tubuh kita tidak memerlukan rayuan seperti yang selalu dikirimkan langit kepada alam. Karena jiwa kita mempunyai bahasa sendiri untuk saling mengerti. Semuanya dalam diam!

Kesakralan tercipta dalam diam. Seperti prosesi ijab qalbu yang telah kuikrarkan sejak bertahun-tahun silam. Saat aku melamar hatimu untuk hidupku. Sebelum rahim namamu melahirkan geletar yang terus tumbuh dan hidup. Dan ia berubah menjadi pijar serupa lentera. Dengan itulah aku melihat masa depanku. Dengan lentera yang lahir dari rahim namamu.

Dan bukanlah sesuatu yang berlebihan bila aku mengatakan: aku bangga menjadi seseorang yang berarti di hatimu.

Ihan Sunrise
__________________
Senin, 28.06.2010, 11.38 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja