Langsung ke konten utama

I Need You, Not Google

@ihansunrise


Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.

Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 

Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.

Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia melihat kening kita berkerut karena kebingungan atau sedang menganalisis sesuatu, tiba-tiba dia berceletuk: gitu aja bingung, sini aku jelasin lagi.

Itulah bedanya kita sebagai manusia, yang dianugerahi kecerdasan untuk saling memahami emosi dan pikiran. Bila ada orang yang bertanya kepada kita, jangan buru-buru dicap bahwa dia malas mencari informasi. Bisa jadi, dengan pertanyaannya itu justru menstimulasi kita untuk ikut berpikir, mencari jawaban, belajar menelaah, saling mengemukakan pendapat/ide dan argumentasi, hingga menemukan jawaban yang saling memuaskan.

Atau bisa jadi, seseorang itu menaruh kepercayaan lebih kepada kita. Kita tahu, orang tidak akan sembarangan bertanya pada orang yang tidak dia kenal/dekat/percayai kecuali untuk urusan tertentu. Orang juga tidak akan sembarangan mengeluarkan pikiran-pikirannya pada orang yang tidak membuat mereka nyaman.

Jadi, bila ada yang bertanya pada kita janganlah buru-buru memutuskan 'silaturahmi kata' dengan jawaban seperti di atas. Kecuali memang sudah benar-benar mentok. Akan ada saatnya di mana kita membutuhkan orang lain untuk sekadar didengar.[]

Komentar

  1. Betul.
    Bisa jadi seseorang mengajukan pertanyaan ke kita itu bukan dikarenakan malas atau sebetulnya dia sudah tau sebenarnya jawabannya apa (hanya pura-pura bertanya) ..., itu dilakukan agar tetap terjalin kedekatan hubungan melalui komunikasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Apalagi di era sosmed dan digital sekarang ini, kadang kita udah face to face aja orang masih sibuk sama gawai ya kak? Jadi rindu sama komunikasi verbal yang bener-bener hidup.

      Hapus
  2. Thanks for every other excellent post. The place else could anybody get that kind of info in such a perfect approach of writing?
    I have a presentation subsequent week, and I am at the look for such info.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Puisi Langit

Pernahkah kalian mendengar cerita tentang langit?
Konon katanya langit berada di suatu tempat di ketinggian sana Keberadaannya tak terjangkau segala apa yang ada di bumi
Jangan bilang bahwa kau selalu melihatnya,  Sebab itu hanyalah sekumpulan awan yang menjadi salah satu penghalang antara kau dan langit.
Kau,  Sama seperti aku mungkin juga punya hasrat untuk menatap wajah langit  Konon katanya wajah itu bertabur cahaya  Berpendar seperti kunang kunang  Merekah seperti kelopak mawar jingga yang merona.
Konon, banyak makhluk bumi yang begitu merindukannya  Berharap suatu saat ia mau membuka selubungnya dan membagikan sedikit cahaya kunang kunangnya.
Di meja makan kita berharap bisa duduk saling berhadapan Tak perlu saling bertukar kata Sebab langit memiliki kode dan bahasa yang berbeda Baginya semua begitu kompleks Ah, ya, mana ada sih yang sederhana di atas sana
Kesederhanaan itu milik bumi sepenuhnya  Tempat bagi daun daun luruh  Tempat bagi cacing membelah diri  Tempat bagi tanah bersemayam  Tempat bagi…