Langsung ke konten utama

Dianggap Ada dan Penting

Ilustrasi reuters


Di tengah obrolan santai kami melalui Whatsapp, tiba-tiba Zenja memintaku untuk membuatkan sebuah tulisan yang menurutnya cukup representatif untuk memperingati gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam. Aku yang langsung ngeh dengan permintaannya segera merespons.

"Status di mana?"

"WA."

Berselang menit kukirimkan sebuah kalimat beraroma kontemplasi. 

"Thanks, Say," balasnya.

"Iya, Cinta."

"Kenapa kamu memintaku yang membuatnya. Padahal kamu bisa bikin sendiri, kan?"

"Kamu jagonya," jawabnya.

Seketika hatiku jadi mekar.

"He he he. Aku jadi tersanjung."

"Hmmm..."

"Makasih atas pujiannya. Aku senang kalau itu kamu yang bilang."

"Benar kok."

Lalu kami jadi sibuk bernostalgia. Membicarakan kembali percakapan-percakapan indah yang pernah kami bincangkan.

Memang bukan sekali ini saja Zenja memintaku membuatkan kalimat-kalimat yang ingin ia bagikan kepada publik. Barangkali karena ia tahu aku menggeluti dunia literasi, sehingga hal-hal penting seperti itu ia percayakan padaku.

Lebih dari itu, buatku pribadi ini merupakan hal terindah, ketika orang yang kita sayangi dan cintai menganggap kita ada dan penting. Kami memang sering berdiskusi berbagai hal, mulai dari yang ringan-ringan seperti kegemarannya memasak dan kegemaranku menyantap makanan, hingga yang berat-berat seperti isu-isu politik menjelang pemilu 2019. Aku bersyukur, secara politik kami memiliki pandangan yang sama. Kalau pun tidak, ya enggak masalah, justru karena perbedaanlah kami bisa saling mencintai dan melengkapi.

Dianggap ada dan penting oleh orang-orang terdekat kita menurutku sangatlah penting. Sebab, dengan orang-orang di 'ring 1' inilah kita sering berinteraksi dan berkomunikasi. Disadari atau tidak, hasil interaksi tersebut akan menghasilkan dua energi yang saling bertolak belakang, yaitu energi positif dan negatif. Dua energi ini otomatis akan menjadi roda penggerak bagi kehidupan seseorang. Nah, bergerak seperti apa, ya tergantung dominannya energi apa yang mereka terima.

Dianggap ada dan penting oleh orang-orang terdekat akan membuat seseorang merasa lebih semangat, produktif, dan optimis. Bikin hidup jadi terasa lebih hidup. Membuat kita selalu berupaya melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Begitulah.[]

Komentar

  1. Kadang orang meremehkan kekuatan "dianggap ada", padahal dari sanalah semangat sepanjang hari seseorang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, manusia itu punya jiwa yang harus diberi 'makan', salah satunya ya dengan suplai energi positif dari orang-orang terdekat.

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Puisi Langit

Pernahkah kalian mendengar cerita tentang langit?
Konon katanya langit berada di suatu tempat di ketinggian sana Keberadaannya tak terjangkau segala apa yang ada di bumi
Jangan bilang bahwa kau selalu melihatnya,  Sebab itu hanyalah sekumpulan awan yang menjadi salah satu penghalang antara kau dan langit.
Kau,  Sama seperti aku mungkin juga punya hasrat untuk menatap wajah langit  Konon katanya wajah itu bertabur cahaya  Berpendar seperti kunang kunang  Merekah seperti kelopak mawar jingga yang merona.
Konon, banyak makhluk bumi yang begitu merindukannya  Berharap suatu saat ia mau membuka selubungnya dan membagikan sedikit cahaya kunang kunangnya.
Di meja makan kita berharap bisa duduk saling berhadapan Tak perlu saling bertukar kata Sebab langit memiliki kode dan bahasa yang berbeda Baginya semua begitu kompleks Ah, ya, mana ada sih yang sederhana di atas sana
Kesederhanaan itu milik bumi sepenuhnya  Tempat bagi daun daun luruh  Tempat bagi cacing membelah diri  Tempat bagi tanah bersemayam  Tempat bagi…