Langsung ke konten utama

Tik Tok Tik Tok...

tik tok tik tok tik tok...itu bukanlah suara cicak di dinding melainkan suara hujan diatap. kalau saja tidak ada atap pasti air hujan jatuh tepat keatas wajahku. dan dinginnya pasti lebih dari ini, meringkukpun pasti bukan seperti ini juga. dagu dan lutut sudah pasti bertemu, tangan dua-duanya menyelinap ke paha. kepala dikempit sedemikian rupa persis kepala burung yang diselipkan kesayapnya. begitulah....

tik tok tik tok tik tok...lagi-lagi suara hujan masih seperti tadi, menendang-nendang seng tapi tidaklah sampai membuat bising sebab hujan tidak terlalu deras, dentingannya menimbulkan irama tersendiri dan menimbulkan geletar-geletar yang indah pula. yang tidak indah adalah hawa dingin yang disampaikan ujan terlalu berlebihan, tapi inilah kondisi alam yang mau tidak mau harus kita terima.

tik tok tik tok tik tok....
ritmenya memang terdengar indah dan berirama, persis seperti nyanyian cinta para ibu yang meninabobokan anaknya sambil dikepit dalam gendongan. apalagi sesekali ditambah dengan desau angin yang meliuk-liukkan pepohonan. aku hanya bisa mendengar, tanpa bisa melihat sebab meringkuk dikasur lebih menyenangkan daripada mengamati bumi dari jendela. tapi tidak sepenuhnya begitu, aku masih bermain kata disini, hingga tanganku terasa pegal dan jari jemariku serasa telah menjadi jempol semua. sebuah pertanyaan kecil muncul dibenak "bisakah ibu meninabobokan anaknya kalau perutnya lapar dan menjerit-jerit?"

tik tok tik tok tik tok....
entah mengapa akhir-akhir ini aku telah kecanduan tidur larut malam, kalau pukul sembilan sudah diatas tempat tidur rasanya ada yang aneh dengan diriku, dan aku kembali beringsut, mengambil kertas dan pulpen, lalu jadilah tulisan ini. baru menjelang tengah malam atau kadang lewat tengah malam kembali keperaduan. kalau bukan karena capek dan lelah semalampun pasti aku sanggup menulis, apalgi dengan cuaca yang sejuk bahkan cenderung dingin. tidak seperti biasanya, panas, panas dan panas. banda aceh memang panas!!!

hhhhhhh......brrrrrrrrrr..........
aku menyelonjorkan kaki, merebahkan badan, membentangkan kedua tangan...capek! letih!
mataku lurus menatap langit-langit kamar, kalau tidak ada loteng pastilah aku bisa melihat atapnya, kalau tidak ada atap lagi pastilah aku bisa melihat langit, dan air hujan jatuh tepat keatas tubuhku. mensucikanku dari persetubuhan dengan kertas-kertas dan tinta. mengeramas rambut ku dari debu-debu tubuhku sendiri. tapi dingin...kembali membuat ku meringkuk. kembali membuat ku menunda....ini tengah malam, tak baik menyiksa diri dengan air dingin walau sebenarnya itulah obat dari segala obat atas penyakitku ini.

tik tok tik tok tik tok....
rintik hujan kembali menyemai benih, tapi sayangnya ada yang hanyut terbawa arus yang terlalu besar. beningnya berubah hitam dan bau, akupun terasa mual ditengah malam begini. segarnya berganti dengan isakan tertahan disudut rumah tanpa dinding, tanpa atap, tanpa tiang, tanpa lantai dari marmer. jangan tanya pada ku rumah seperti apakah itu?


malam tak lagi muda, beberapa kali aku menguap, meskipun bayang-bayang dirimu masih berkelebat dipelupuk mata itu tak seberapa bila dibandingkan dengan kantuk yang telah memelukku. ia akan segera membawaku kelangit ketujuh, mengajakku bercinta dengan angan dan imajinasi ku. membawa ku terbang dengan mimpinya yang indah...dan kata ku..selamat malam...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja