Sabtu, 23 Desember 2006

Tik Tok Tik Tok...

tik tok tik tok tik tok...itu bukanlah suara cicak di dinding melainkan suara hujan diatap. kalau saja tidak ada atap pasti air hujan jatuh tepat keatas wajahku. dan dinginnya pasti lebih dari ini, meringkukpun pasti bukan seperti ini juga. dagu dan lutut sudah pasti bertemu, tangan dua-duanya menyelinap ke paha. kepala dikempit sedemikian rupa persis kepala burung yang diselipkan kesayapnya. begitulah....

tik tok tik tok tik tok...lagi-lagi suara hujan masih seperti tadi, menendang-nendang seng tapi tidaklah sampai membuat bising sebab hujan tidak terlalu deras, dentingannya menimbulkan irama tersendiri dan menimbulkan geletar-geletar yang indah pula. yang tidak indah adalah hawa dingin yang disampaikan ujan terlalu berlebihan, tapi inilah kondisi alam yang mau tidak mau harus kita terima.

tik tok tik tok tik tok....
ritmenya memang terdengar indah dan berirama, persis seperti nyanyian cinta para ibu yang meninabobokan anaknya sambil dikepit dalam gendongan. apalagi sesekali ditambah dengan desau angin yang meliuk-liukkan pepohonan. aku hanya bisa mendengar, tanpa bisa melihat sebab meringkuk dikasur lebih menyenangkan daripada mengamati bumi dari jendela. tapi tidak sepenuhnya begitu, aku masih bermain kata disini, hingga tanganku terasa pegal dan jari jemariku serasa telah menjadi jempol semua. sebuah pertanyaan kecil muncul dibenak "bisakah ibu meninabobokan anaknya kalau perutnya lapar dan menjerit-jerit?"

tik tok tik tok tik tok....
entah mengapa akhir-akhir ini aku telah kecanduan tidur larut malam, kalau pukul sembilan sudah diatas tempat tidur rasanya ada yang aneh dengan diriku, dan aku kembali beringsut, mengambil kertas dan pulpen, lalu jadilah tulisan ini. baru menjelang tengah malam atau kadang lewat tengah malam kembali keperaduan. kalau bukan karena capek dan lelah semalampun pasti aku sanggup menulis, apalgi dengan cuaca yang sejuk bahkan cenderung dingin. tidak seperti biasanya, panas, panas dan panas. banda aceh memang panas!!!

hhhhhhh......brrrrrrrrrr..........
aku menyelonjorkan kaki, merebahkan badan, membentangkan kedua tangan...capek! letih!
mataku lurus menatap langit-langit kamar, kalau tidak ada loteng pastilah aku bisa melihat atapnya, kalau tidak ada atap lagi pastilah aku bisa melihat langit, dan air hujan jatuh tepat keatas tubuhku. mensucikanku dari persetubuhan dengan kertas-kertas dan tinta. mengeramas rambut ku dari debu-debu tubuhku sendiri. tapi dingin...kembali membuat ku meringkuk. kembali membuat ku menunda....ini tengah malam, tak baik menyiksa diri dengan air dingin walau sebenarnya itulah obat dari segala obat atas penyakitku ini.

tik tok tik tok tik tok....
rintik hujan kembali menyemai benih, tapi sayangnya ada yang hanyut terbawa arus yang terlalu besar. beningnya berubah hitam dan bau, akupun terasa mual ditengah malam begini. segarnya berganti dengan isakan tertahan disudut rumah tanpa dinding, tanpa atap, tanpa tiang, tanpa lantai dari marmer. jangan tanya pada ku rumah seperti apakah itu?


malam tak lagi muda, beberapa kali aku menguap, meskipun bayang-bayang dirimu masih berkelebat dipelupuk mata itu tak seberapa bila dibandingkan dengan kantuk yang telah memelukku. ia akan segera membawaku kelangit ketujuh, mengajakku bercinta dengan angan dan imajinasi ku. membawa ku terbang dengan mimpinya yang indah...dan kata ku..selamat malam...
Previous Post
Next Post

Mencintai Pagi seperti Mencintai Zenja

0 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)