Langsung ke konten utama

Kisah Orang-Orang (Tak) Biasa



Kami--saya dan Hayat--langsung antusias saat mendengar penjelasan Pak Mustafa Sabri—Kepala Biro Mahasiswa dan Alumni Unsyiah—tentang niatnya yang ingin membukukan kisah para mahasiswa penerima Bidikmisi di Unsyiah--setelah sebelumnya mendapat informasi melalui telepon oleh salah satu guru literasi kami Pak Sulaiman Tripa.

Ia menceritakan secuplik kisah tentang segelintir mahasiswa dari keluarga miskin dan kuliah di Unsyiah, membuat kami merinding dan nyaris tak bisa mengungkapkan kata-kata. Kisah-kisah yang mirip seperti di sinetron-sinetron. Penuh drama. Beraroma satire. Bergelimang air mata. Terbelenggu oleh kemiskinan. Nyaris tanpa harapan. Sayangnya, semua itu nyata. Bukan cerita mengada-ada.

Namun, apa yang membuat kisah mereka patut dibekukan menjadi karya yang abadi? Semangat! Ya, para mahasiswa itu memiliki semangat dan daya juang yang membuat mereka memiliki gelar paling prestisius yaitu menjadi mahasiswa. Dengan menyandang gelar itu, kelak insyaallah mereka bisa menyibak tirai kegelapan yang selama ini menyelubungi nasib keluarganya. Hingga akhirnya semburat cahaya akan menerangi hidup mereka.

Harapannya, siapa pun yang membaca kisah mereka nanti akan ikut terbakar semangatnya, membara keinginannya untuk bersekolah setinggi-tingginya, berkobar-kobar geloranya dalam mengejar impian hingga berhasil digenggamnya dengan erat. Dengan begitu, satu per satu, perlahan demi perlahan, pohon-pohon kemiskinan itu akan tercerabut hingga ke akar-akarnya. Jika pun tak sampai terberantas, setidaknya dapat meminimalisir angka kemiskinan di Indonesia, khususnya di Aceh.

Semangat itu seperti memiliki kekuatan magis yang membuat kami langsung mengatakan “iya” saat Pak Mustafa meminta agar kami menyunting kisah-kisah mereka. Berawal dengan menyeleksi lebih dari seribu cerita yang telah ditulis oleh mahasiswa penerima Bidikmisi angkatan 2016 – 2018 di Unsyiah. Lalu terpilih 50 cerita yang mewakili semangat, sikap pantang menyerah, dan konsistensi mereka untuk tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Usai mendapatkan 50 cerita terbaik, kami juga mengadakan pertemuan khusus dengan penulisnya untuk membekali beberapa hal terkait kepenulisan. Dengan begitu, mereka bisa menyempurnakan kembali cerita yang sudah ditulis. Setelah itu, barulah kami menyunting naskah tersebut. Namun, dari 50 cerita terpilih, hanya 42 orang yang mau merevisi naskahnya sehingga layak untuk diterbitkan. Cerita-cerita terpilih itulah yang kami poles kembali hingga akhirnya menjadi karya seperti yang bisa Anda baca.

Kami selaku editor sangat bahagia karena sempat menatap wajah-wajah empunya kisah itu. Mereka orang-orang yang memiliki harapan. Rata-rata mereka telah duduk di semester akhir yang tak sabar ingin segera mengenakan toga, meskipun ada beberapa yang masih semester awal.

Saat proses penyuntingan berlangsung, terkadang kami harus berhenti sejenak, membayangkan kisah hidup mereka yang getir, bahkan sampai menetes air mata kami. Apa yang ditulis semua keluar dari lubuk hati mereka. Cerita yang apa adanya. Hampir semua tulisan membuat kami terenyuh saat membacanya.

Kisah mereka pun sangat beragam: ada yang sampai kini ayahnya tak kunjung kembali dari perantauan; meninggal ibunya ketika mereka masih bayi; menjadi korban konflik; korban tsunami; hingga yang berjuang menjadi pembantu walaupun tidak digaji asalkan ada tempat tinggal. Persamaan dari semua cerita itu adalah mereka merupakan anak-anak yang berprestasi dan tak ingin kalah oleh kemiskinan.  Semua cerita itu terangkum dalam buku ini.

Menariknya lagi, menurut pengakuan beberapa mahasiswa, di antara mereka ada yang merasa lega telah menuliskan kisah suramnya menjadi sebuah catatan. Mereka seperti telah melepaskan separuh masalah yang dipikul selama ini.

Kami yakin, kelak mereka akan mejadi orang yang berguna dan perjuangan mereka tak sia-sia. Mereka adalah lentera yang akan mengubah nasib keluarganya. Kisah-kisah mereka kami harapkan bisa memotivasi siapa pun yang memiliki keinginan untuk kuliah, tetapi tidak memiliki biaya. Kisah orang-orang (tak) biasa yang telah mengajarkan kita tentang arti pentingnya menggapai asa untuk mewujudkan impian.[]
Banda Aceh, April 2020
Editor
 
Ihan Nurdin
Hayatullah Pasee

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n