Langsung ke konten utama

jabaran

ihan,

ceritakan pada ku tentang rumput hijau yang sering dijadikan alas duduk anak penggembala dan padang padang yang dijadikan penyangga perut hewan hewan gembala.

katakan pada ku tentang manisnya roman percintaan namun dengan kesakitan menahan rindu yang terbelah-belah, rindu ku tak lagi bercabang, bahkan bulan ini tak seperti bulan kemarin.

jabarkan tentang kata "ha hah"...yang keluar dari mulutmu nyaris sebagai desisan hingga libido ku naik berlipat-lipat dan kau tidak mau bertanggung jawab, kau memang tak salah sebab itu memang sudah menjadi kebiasaan mu. dan kau bahkan tak tahu menahu tentang eranganku mendengar "ha hah" mu itu.

jangan lupa pada teriakan kita "malam ini gila! bushet! malam ini memang gila!" yah...malam ini memang gila dan kau bilang ada "body guard" disampingmu hingga kau tak bisa berbuat apa-apa. aku kesakitan, dan kau bilang "mengertilah dengan keadaan ku" dan aku mengerti.


ihan,

tuliskan tentang cerita burung pipit yang tak sengaja hinggap dikamarku dan menyampaikan pesan bahwa kau merindui ku malam ini, aku tak bisa menggambarkan bagaimana bentuk paruhnya yang tajam bergerak-gerak mengirim isyarat dari mu.

aku tahu kau gelisah akhir-akhir ini, ada yang "tak lagi biasa" kan? ada yang kau pikirkan, percayalah sayang itu hanya sebuah kesalah pahaman, lupakan siapa-siapa yang tak layak diingat dan rengkuh siapa-siapa yang bisa memberikan cinta untuk mu, ah...aku cemburu kau terlalu banyak mendapatkan cinta. sedang cinta yang kuberi tak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang sudah kau peroleh.

kirimkan kepada ku catatan kecil usang mu yang titipkan untuk seseorang itu, aku senang akhirnya kau bisa, aku senang akhirnya kau mampu. semua butuh proses, dan kau mulai mematangkan logika

hahahah...aku tergelak mendengar cerita mu tentang lelaki tikus itu...sungguhpun itu sebuah imaji tapi mereka selalu ada didekat mu...dan mereka menebar aromanya yang membuat selera makn kita hilang dan ingin muntah....hahahahaha...aku ikut membantu mu mentertawa kan mereka

ihan,

aku tahu kau kejam, sekali waktu kau membunuh dengan cara tak biasa, seperti cara mencintamu yang tak biasa pula. aku salut dengan cara mu membunuh, dengan cara mu menyiksa, mungkin aku bisa berguru pada mu untuk yang satu ini.

akhirnya...kita bebas terbang diudara kan? dengan teriakan teriakan gila yang lebh keras dan membahana memecah gelap malam, yah...pergi dan jangan lupa kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n