Langsung ke konten utama

Saat Harus Melepas

bunda, jawab dong bunda

begitulah ponakan saya 'memaksa' saya untuk membalas pesan-pesannya diujung perjumpaan sore tadi, ketika bumi baru saja berguncang, ketika matahari telah condong kebarat. saya paksakan diri untuk tidak membalas offline message nya, padahal tangan saya sudah bergerak-gerak ingin menekan tuts tuts keyboard komputer saya. saya diam sampai akhirnya diapun pergi dengan perasaan yang hanya dia sendiri yang tahu.

apakah dia berfikir saya kejam? melepas kepergiannya dengan diam dan tanpa suara? bahkan tanpa sepotong tulisanpun yang bisa ia kantongi untuk menyusur jalan kepulangannya? satu hal yang saya pahami, meninggalkan lebih mudah dari pada ditinggal, melepas lebih mudah daripada dilepas, mengantar lebih mudah daripada diantar, itu yang saya rasakan, tak ada beban untuk melepas dan meninggalkan, juga untuk mengantarkan, tapi berat menerima kenyataan dilepas dan ditinggal. tapi dilain waktu dilepas juga sama tidak enaknya dengan melepas, diantar juga sama beratnya seperti mengantar. apalagi meninggalkan. itu pula yang saya rasakan. ah, kalau begitu sama saja. tentu tidak. ada yang membedakan. ada yang membuat hati biasa-biasa saja, ada yang membuat girang, ada yang membuat hati mendung karena tak kuasa mengantar, diantar, meninggalkan atau ditinggalkan, dilepas atau melepaskan. apa itu? apakah pada prosesi pengantaran, meninggalkan dan melepaskan itu sendiri? atau tergantung siapa yang kita antar, kita tinggalkan, kita lepaskan. orang tua kah, teman kah, kekasih atau suami istri kita kah? atau cuma orang yang tidak kita kenal baik, atau lagi orang yang sama sekali tidak kita kenal? lama saya terpekur kemarin, mencoba mengais kembali kejadian-kejadian beberapa tahun yang lalu, kemudian kejadian-kejadian beberapa bulan yang lalu sampai apa yang saya alami bulan yang lalu sampai yang tadi sore. semua berkisar seputar melepaskan, meninggalkan, mengantar dan ditinggal, dilepaskan, juga diantar. senang, sedih, kecewa juga bahagia pernah saya rasakan semuanya. ternyata yang membuat senang dan bahagia ketika diantar, dilepas, ditinggal bukanlah seberapa banyaknya materi yang diberikan, bukan seberapa banyaknya jumlah barang bawaan atau oleh-oleh yang diberikan. bukan juga pada seberapa ramai orang yang mengantar.
ah, terlalu berbelit-belit saya rasanya. begini saja, apakah anda pernah mengantar ibu atau orang tua anda ke bandara atau terminal? teman dekat atau teman biasa, kenalan atau kekasih anda? bagaimana perasaan anda? perasaan anda pasti berbeda ketika mengantarkan orang-orang yang berlainan. satu kebiasaan saya ketika mengantar atau diantar oleh orang yang paling istimewa dihati saya adalah diam, diam bukan karena tidak suka, diam bukan karena marah, tapi diam karena tidak sanggup.

saya termasuk tipe orang yang paling susah mengeluarkan air mata, ketika beberapa tahun yang lalu kakek saya meninggal, saya masih bisa tersenyum, bahkan saya tidak menangis. ketika orang-orang menangis dan berpelukan ketika lebaran saya malah kedapur, disana saya tertawa sendiri. ah...tapi kenapa saya menjadi cengeng ketika melepas kepergian seseorang yang saya tidak kenal secara fisik tapi secara emosional kami amat sangat dekat, kenapa saya sampai menangis tersedu-sedu ketika kakak saya mengantar kepergian saya beberapa waktu yang lalu? berat sekali rasanya, membayangkan setelah itu entah kapan kami bisa bertemu lagi, membayangkan betapa besar rasa sayang dan cintanya kepada saya, menemani saya berhari-hari yang ketika itu sedang stress berat...mengingat betapa pedulinya dia kepada saya...itulah yang membuat mengapa saya menangis terisak-isak dalam pelukanan lima menit sebelum saya meninggalkannya. diam tanpa kata-kata. ternyata kekuatan emosional lah yang membuat saya tidak rela melepas dan dilepas.
mungkin begitu juga dengan ponakan saya kemarin sore, ketika tengah asyik-asyiknya mengobrol tiba-tiba harus terputus karena masing-masing kami punya kesibukan sendiri-sendiri yang lain. apakah saya menangis? tentu tidak. saya cuma diam, diam karena besok belum tentu bertemu lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n