Langsung ke konten utama

Mak, maafkan aku nggak feminim

foto by blog.aglamslam
HARI ini sudah dua pekan ibadah puasa berlalu, artinya dua pekan lagi seluruh umat muslim di dunia akan menyambut hari besar Idul Fitri. Termasuk saya, yang selalu menyambut momen ini penuh suka cita dan hati girang. Apalagi kalau bukan karena bisa pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga.

Ngomong-ngomong soal hari raya, identik dengan baju baru meski itu bukan perkara wajib. Nah di keluarga kami hal ini juga berlaku, meski tak pernah bermewah-mewah tapi belum sekalipun alpa melewati tradisi ini. Biasanya sepekan sebelum hari raya ibu akan mengajak anak-anaknya ke kota untuk berbelanja pakaian.

Nah, saya sendiri sejak kecil termasuk tipe anak yang bukan tukang protes. Apa yang dibeli itu yang saya pakai, kalaupun tidak suka biasanya saya simpan di hati saja. Saya berfikir sudah dibelikan sudah syukur, jangan malah neko-neko. Sejak kecil ibu selalu membeli saya pakaian yang kasual seperti jeans, kemeja atau t-shirt. Setelah saya agak besar baru ibu sering membelikan saya baju perempuan karena lucu dan modelnya lebih beragam. Oh ya, saya perempuan lho bukan peria alias pria heheheh.

Saat saya SMP ibu mulai belajar menjahit, sejak itu saya jarang dibelikan baju kalau lebaran tapi sering dijahit dengan model pakaian perempuan yang macam-macam, busana muslim, blazer, rok kembang, ah pokoknya banyak deh.

Tapi ya dasar setiap orang itu punya karakter sendiri ya, saya cenderung lebih suka pakaian yang praktis dan fleksible, bisa dipakai untuk acara apapun. Dengan begitu baju-baju yang saya punya jadi terpakai semua tidak cuma disimpan di lemari. Tau-tahu sudah jelek, sudah kecil, sudah kusam padahal dipakai pun jarang.

Setelah besar (tamat kuliah) saya mulai sering belanja baju sendiri, tapi tetap saja kalau untuk beli baju lebaran ngajak ibu. Maklum, saya nggak terlalu pandai berbelanja fashion, saya juga nggak pandai nawar kalau belanja, dan parahnya saya nggak tahu model pakaian yang lagi trend, itu makanya saya lebih suka pilih kemeja. Kemeja pun saya lebih suka kemeja pria yang simple, tanpa kupnat dan nggak banyak detilnya.

Karena ini mau lebaran saya kembali teringat pada peristiwa dua tahun lalu. Waktu itu sekitar dua atau tiga hari lagi mau lebaran ibu mengajak saya ke pasar untuk beli baju baru. Dari semua anggota keluarga yang belum punya baju baru cuma saya :-D.

Pergilah saya dan ibu berdua ke pasar. Jangan bayangkan bagaimana sesaknya suasana pasar kalau mendekati hari raya begitu. Jalan-jalan protokol penuh sesak dengan lalu lalang kendaraan. Di lorong-lorong toko penuh sesak dengan lalu lintas manusia. Melihat itu saya rasa-rasanya mau pusing, mana puasa, perut kosong dan tenggorokan kering, tambah muter-muter lagi. Kami keluar dari satu toko ke toko yang lain.

Pertama-tama toko yang kami kunjungi tentu saja toko yang menjual pakaian perempuan, gaun-gaun cantik, modis dan terlihat stylish terpajang di manekin. Harganya jangan tanya, mahalnya masya Allah. Tapi baju-baju itu nggak ada yang bikin aku suka. Akhirnya kami ke luar dan pergi ke toko lainnya. Entah beberapa jam kami ke luar masuk toko dan tidak ada satupun yang terbeli. Ibu mulai kesal, aku juga, karena semua baju yang ditawari tidak sesuai seleraku. Padahal aku sudah bilang maunya kemeja saja.

Sembari masuk beberapa toko ibu sempat ngegeremeng alias ngomel kecil. Katanya jadi perempuan kok nggak modis sedikitpun. Mungkin karena sudah capek mutar-mutar bercampur gondok akupun menangis di pasar. Tapi nggak sampai mewek-mewek lah, air mata saja yang berlinang, tapi bikin nyesek di dada dan ngga bisa bicara. Ibu pun akhirnya kehabisan cara membujukku. Akhirnya kami pun pulang tanpa hasil. Aku nggak sedih meski nggak beli baju baru. Besoknya aku pergi ke pasar sendirian dan kubeli sebuah kemeja hitam yang menurutku cocok.

Bagiku berpakaian dan kenyamanan adalah dua hal yang tak terpisahkan, beberapa pakaian kubeli karena untuk menjaga perasaan ibuku saja. Tapi setelah itu jarang sekali kupakai. Sementara ibuku, menginginkan aku tampil feminim layaknya anak-anak gadis lain. Berlebaran dengan kaftan atau gamis berjuntai, bersepatu atau sendal hak tinggi, berjilbab anggun. Oh, sampai sekarang aku belum merindukan hal-hal seperti itu. Aku mashi nyaman dengan sepatu kets, kemeja atau baju kasual lainnya. Ternyata, pakai rok saja tidak membuatku terlihat feminim.[]

Komentar

  1. Ehehehe..kemeja emang enak, simpel, longgar, cocok segala suasana. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, trus juga dia ngga pernah out of date,

      Hapus
  2. Hahaha....bertambahnya usia biasanya selera berpakaian juga berubah Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahhaahh masih nyaman dengan style yang sekarang mbak hehehe

      Hapus
  3. jadi teringat jln2 sama umi ke pasar malam lebaran..kocak euyyyy :P :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheheh yaaa...ke pasar malam-malam memang kocak

      Hapus
  4. Ihan Sunrise kupikir laki-laki...

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-) banyak yang menduga begitu, terimakasih sudah berkunjung ke blogku mbak Leyla

      Hapus
  5. Aku paling perempuan diruma, dan senyamannya saja berpakaian. Tapi semakin tua, saya tinggalkan hem. Soalnya kerap tidak cocok dipakai pada acara tertentu. High heels juga jrg pake. Sakit. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku mulai beberapa tahun ke belakang ini ada pakai-pakai high heels, tapi belum tentu sebulan sekali :-) pas awal-awal dulu sempat kram kakiku

      Hapus
  6. Hehhehehehe.. teringat cerita ente malam itu han..

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.