Langsung ke konten utama

Mister eF

facebook
KEMARIN sore aku buka puasa bareng Ferhat dan Atien, keduanya saat ini menjadi rekan kerjaku di tempat yang sama. Ini merupakan kali kedua aku buka puasa bareng Ferhat, sebelumnya sore Minggu, 21 Juli 2013, bareng Nurul Fajri, wartawan di The Globe Journal yang biasa dipanggil Sinyak.

Kali ini aku mau cerita soal Ferhat, sosok teman yang satu ini menurutku cukup menyenangkan. Meski dia lulusan Sarjana Ekonomi tapi selera humornya tinggi. Orangnya easy going menurutku. Doi baru sebulan lebih bergabung di tempatku bekerja, tapi kami sudah kenal lama. Aku dan Ferhat satu kampus, hanya beda angkatan saja. Meski usia kami sama, aku dua tahun lebih awal masuk kuliah dibandingkan Ferhat. Kemarin sore baru tahu ternyata si Ferhat sempat nganggur setahun. Tapi aku lupa nanya, nganggurnya di mana, apa tamat TK, SMP atau SMA.

Pemuda yang pernah bekerja sebagai teller bank ini seorang penulis. Karyanya bertebaran di mana-mana, kadang-kadang aku iri sama keahliannya yang satu ini. Nah, cerita soal keahlian Ferhat, aku mau flashback ke waktu sepuluh tahun lalu.

Waktu itu pertengahan tahun 2002, aku baru saja menjadi mahasiswa di sebuah universitas negeri di Banda Aceh. Karena berasal dari daerah, aku terpaksa kost di Banda Aceh. Tapi aku sudah terbiasa dengan pola hidup seperti itu dan jauh dari orang tua. Karena sejak SMP sudah kost kok :-)

Bukan seperti Ferhat yang ahli, tapi aku punya sedikit hobi menulis. Saat kuliah kebetulan aku jadi anggota mading di UKM, dan itu ternyata berpengaruh pada hobi menulisku. Aku jadi senang menulis cerpen, puisi, note, jaman itu aku masih menulis di buku dan kertas.

Di kost ada kakak-kakak yang waktu itu masih kuliah di Akbid Depkes Banda Aceh. Dua tahun di atasku, namanya Lisna Unita aku biasa panggil Kak Lisna. Dari dialah aku dengar nama Ferhat pertama kalinya. Waktu itu Ferhat masih di SMA. Kak Lisna cerita katanya ada anak belakang rumah -kost-anku dekat rumah Ferhat- masih SMA tapi sudah pandai menulis. "Anak itu" katanya juga aktif di Forum Lingkar Pena. Waktu itu aku penasaran sekaligus takjub, gileee masih SMA udah jago nulis, terniat ingin belajar dan berharap Kak Lisna kenalin aku ke Ferhat waktu itu. Tapi nggak pernah kesampaian hingga akhirnya cerita soal Ferhat terlupakan begitu saja.

Entah gimana ceritanya Ferhat ternyata juga kuliah di Fakultas Ekonomi. Pokoknya aku kenal dia di Fakultas Ekonomi Unsyiah, tapi ya kenal-kenal gitu aja. Sampai akhirnya aku keluar dari kampus dan kami jarang sekali sharing soal tulis menulis. Setelah loss contact begitu lama, kami kembali bertemu di Facebook dan sering ngobrol. Sampai akhirnya aku dan Ferhat berniat untuk bikin buku bareng, tak lupa Ferhat mempromosikan temannya Sinyak. Itu tahun 2011 lalu.

Proyek buku pun berjalan, aku, Ferhat dan Sinyak jadi sering bertemu. Kami ketemuan di satu warung kopi ke warung kopi lainnya di Banda Aceh. Hasilnya buku itu setelah rampung 80 persen sampai sekarang nggak keurus lagi karena kesibukan masing-masing :-D (atau kemalasan). Tapi pertemanan kami nggak berakhir dong, kami bertiga sesekali masih sering bertemu sekedar untuk ngopi dan cerita ceriti sambil cekikikan di warung kopi.

Sampai akhirnya akhir bulan Juni lalu Ferhat bergabung di tempatku bekerja, kami jadi satu tim dan semakin sering bertemu. :-D Ferhat...Ferhat...[]

Komentar

  1. Ge-er pasti si Ferhat kalo baca ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahahha....mudah-mudahan dia nggak merasa "senior" ya ki, nanti aku bisa dipelonco sama dia

      Hapus
  2. senang kali pasti ferhatt.com ditulis khusus oleh kak ihan di personal blog lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhahaha, liza, sementara masih di personal blog, soalnya kalau dikirim ke New York Times, mesti jadi macam Kang Abik dulu wkwkwk

      Hapus
  3. Oh, jadi gitu ceritanya, #Catet

    Mudah-mudahan berakhir habagia ya #Eh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya hijrah, tapi aku ngga pake sksd lah, secara aku bukan teller bank xixixi

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.