Langsung ke konten utama

Rindu Kampung

HARI ini Minggu, 14 Juli 2013 tepat memasuki hari kelima Ramadan. Saat-saat menunggu waktu berbuka adalah prosesi paling menyenangkan. Khususnya bagi saya, meski sajian berbuka tidak terlalu mewah tetap saja menjadi sangat istimewa. Apalagi kalau bukan momen berbukanya yang menjadi ajang berkumpul dengan keluarga tercinta.

Hari ini saya berbuka di kantor. Sembari menunggu waktu berbuka, saya mendengarkan lagu dan beberapa artikel di internet. Sampai akhirnya saya memilih untuk menulis catatan kecil ini di blog ketika ingatan saya melayang pada jarak beratus-ratus kilometer di Timur Aceh.

Hari pertama puasa yang jatuh pada Rabu, 10 Juli kemarin saya masih berada di sana. Menikmati momen berbuka puasa bersama keluarga tercinta, ibu, adik, ipar dan juga keponakan yang lucu dan menggemaskan. Kami berbuka puasa dengan antusias, menikmati hidangan yang sudah disiapkan sejak sore, ada kurma, es timun cincau, dan juga lauk-pauk.

Bagi saya momen seperti itu sangat berharga mengingat jarang sekali bisa berkumpul dengan mereka. Dalam setahun saya hanya pulang ke rumah ibu selama tiga kali, saat awal puasa, lebaran puasa dan saat lebaran haji. Itu pun dengan waktu yang sangat terbatas, paling hanya tiga hari saja atau maksimal lima hari sudah termasuk waktu di perjalanan.

Kerinduan tiba-tiba kembali terbit di hati saya meski beberapa hari yang lalu saya masih berada di rumah ibu. Tiba-tiba saya ingin kembali merasakan suasana rumah yang tenang, lapang dan nyaman. Yang selalu basah oleh cinta ibu saya.

Sejenak ingin bernostalgia, terkenang cerita-cerita lama dan merasa betapa sedikitnya waktu yang saya habiskan di rumah. Sekedar kilas balik, usai tamat SD saya sudah merantau. Jaraknya memang hanya beberapa puluh kilometer dari rumah kediaman ibu. Saya pulang seminggu sekali setiap akhir pekan atau saat liburan sekolah. Tapi hari-hari selama SMP banyak saya habiskan di ibu kota kecamatan di rumah kost. Parahnya selama tiga tahun itu tiga kali saya berpindah rumah kost.

Saat SMA, meski sudah tinggal sekampung dengan ibu tapi saya serumah dengan buyut alias Nek Tu saya. Meski sering bertemu ibu tapi tetap saja waktu malam yang biasanya menjadi ajang untuk bertemu keluarga saya habiskan di rumah buyut dan pesantren tempat mengaji. Tamat SMA saya pun kembali merantau ke Banda Aceh untuk meneruskan pendidikan dan akhirnya saya bekerja di sini. Intensitas bertemu keluarga semakin terbatas, jarak yang jauh memang jadi kendala utama untuk pulang ke kampung sebentar-sebentar.

Ah...waktu berbuka hanya tinggal sepuluh menit lagi, kerinduan tetaplah kerinduan, dan nyatanya teknologi tak mampu menolong banyak untuk itu.[]

Komentar

  1. Ah, berbuka di kampung memang beda ya. masak bareng dan duduk lesehan rame-rame :D

    BalasHapus
  2. iya Eky, rasanya seru banget, meskipun di sini aku tinggal sama sodara, tapi tetap tidak bisa menggantikan suasana keluarga inti kita :-)

    BalasHapus
  3. Ouch... Siapa bilang teknologi tak mampu berbuat banyak ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.