Langsung ke konten utama

Beulidi!

Google
INI bermula ketika seorang teman bertanya, apa artinya "Glap". Lalu dengan yakin kujawab "Glap" adalah "Seupot", alias "Gelap" yang berasal dari bahasa Indonesia kemudian "diserap" ke dalam bahasa Aceh. Jawabanku ini bukan asal jawab saja, dulu waktu masih kecil sering kudengar nenekku mengatakan "Glap" sebagai pengganti kata "Gelap". Ternyata jawabanku salah. "Glap" adalah "Penjara" kata temanku. Hah? Aku salah dong!

Semua kukira sudah tahu kalau Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia ini memiliki berbagai suku yang majemuk. Di Aceh saja, tempat lahir beta, bahasanya macam-macam. Katakanlah yang umum-umum saja ada bahasa "Aceh" yang umumnya dipakai oleh masyarakat pesisir, bahasa "Gayo" yang umumnya dipakai oleh masyarakat di dataran tinggi Aceh, bahasa "Jamee" yang umumnya terdapat di wilayah barat selatan Aceh. Ada juga bahasa Alas, Tamiang, Simeulue, dan lainnya yang kalau disebutkan satu persatu pasti sangat banyak.

Di pesisir saja, yang sama-sama menggunakan bahasa Aceh, dialeknya juga sangat beragam. Sebagai contoh dialek Aceh Timur tempat saya berasal dengan dialek Pidie. Waktu saya kecil ibu selalu mewanti-wanti agar saya tidak menjawab dengan "Peu" ketika beliau memanggil saya. Tetapi selalu dibiasakan dengan jawaban "Tuwan" yang akhirnya disingkat menjadi "Wan" saja. Dalam tataran keluarga kami "Wan" atau "Tuwan" merupakan jawaban yang sopan. Jika kami menjawab dengan "Peu" maka ibu mengatakan, "Lage ureueng Pidie" alias seperti orang Pidie.


Saya kecil tentunya nggak paham apa yang dimaksud dengan "Lage awak Pidie" itu. Tapi, lambat laun saya menyadari dan memang dialek bahasa Pidie lebih kental aroma Acehnya. Itu karena gaya bertuturnya yang seakan-akan seperti terayun saat diucapkan. Sehingga kata "Peu" seolah-olah menjadi "Peua" ketika diucapkan. Kata "Ile" menjadi "Iley" yang berasal dari kata "Dilee" atau "Dulu".

Tak jarang saat bertemu orang Pidie di mana saja, mendengar mereka bertutur saja tanpa perlu bertanya sudah tahu darimana asal mereka. Ini pernah saya praktekkan pada beberapa teman kuliah dulu, dan tebakan saya tak pernah meleset :-).

Sebaliknya orang Pidie sering menyebut orang pesisir timur agak "Tabeue" atau "Tawar" saat berbicara dalam bahasa Aceh. Ini sering saya dengar dulu saat masih kecil kalau pulang ke kampung nenek di Teupien Raya, Geulumpang Minyeuk, Pidie. Mereka bilang gaya bicara kami hayeu...

Meski kedua orang tua saya berdarah Pidie, namun keduanya lahir di Aceh Tamiang. Bahasa "ibu" ibu saya awalnya bahasa Indonesia. Setelah beliau pulang ke Pidie barulah belajar dan bisa berbahasa Aceh. Setelah menikah beliau pindah ke Aceh Timur dan menetap di sana sampai sekarang. Saat saya masih SD setiap tahun kami selalu mudik ke kampung nenek di Pidie. Di sinilah saya mendengar kosakata-kosakata yang tidak saya mengerti. Sebaliknya teman-teman sebaya yang di sana juga aneh mendengar saya berbicara.

Misalnya, saat kami main pasar-pasaran, saat mereka menyebut kata "Ruje" saya hanya bisa terbengong-bengong. Hey, makhluk apakah Ruje itu, gimana sih bentuknya. Rupanya, Ruje adalah Kayu, yang dalam bahasa kami disebut "Kaye". Ada juga kosakata "Beulidi" untuk menyebutkan baskom yang dalam bahasa Aceh lainnya disebut Ayan. Dan kata "Harok" untuk menjelaskan kata "Suka" atau yang dalam bahasa Aceh yang saya kenal disebut "Galak", tapi bukan galak=judes lho.! Unik yaa.... :-D Itu hanya sebagian kecil, beberapa kata lainnya seperti "umong" yang artinya sama dengan "blang" atau "sawah". 

Tapi kini beberapa kosa kata yang saya sebutkan di atas mulai jarang diucapkan. Saya tidak tahu apa penyebabnya karena saya tidak tinggal di lingkungan itu. Tapi ketika sesekali saya pulang ke rumah nenek, hampir tidak ada lagi yang menyebut beulidi atau ruje. Kata-kata itu telah berganti dengan ayan atau kaye seperti yang umum diucapkan oleh masyarakat Aceh lainnya. Sebaliknya juga tidak ada lagi yang menghayeukan dialog-dialog saya.[]

Komentar

  1. saya pernah cerita balum budee(yg katanya makhluk gaib dlm air) kpd siswa2 saya. rupanya anak2 saya ada yg bingung krn asal daerahnya beda2.
    ada yg blg balum bidi, balum budee, jg balum lidi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kalau dikampung saya itu disebut balum bili, kalau orang jawa bilang hantu gulung tikar heheheheh, lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain pula istilahnya

      Hapus
  2. GELAP itu salah satu band Death Metal, hehe
    tapi menurut saya yg tinggal di medan dan punya teman beberapa org aceh, langsa sih leih tepatnya, kalo udah ngeliat sesama mereka ngomong, pusyiiing..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahah.... Yudi, iyaa, sama seperti kalau kami orang Aceh lihat orang Medan/Batak bicara, pasti sama puyengnya :-D tapi itulah uniknya Indonesia...

      Hapus
  3. dari semua bahasa pidie yang baru liza dengar ruje itu berarti kayu. waktu liza tanya ke mamak katanya ruje itu daun kelapa kering

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehehhe...kalau di kampung Ihan, daun kelapa kering itu disebut oen Ue, seperti kita nyebut kata "mau" dalam bahasa Indoensia

      Hapus
  4. Balasan
    1. Hayooo Hijrah, ke Pidie, ke gampungnya Gubernur kite hihihih

      Hapus
  5. Pidie : hmm, bsa d'jelaskn lbh rinci gk? :)

    BalasHapus
  6. bahasa Aceh memang unik dan tingkat kesulitannya juga tinggi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheheh betul eki, eh, gimana dg bahasa thai

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.