Langsung ke konten utama

Pemuda imajinatif itu namanya Hijrah "Piyoh" Saputra

Hijrah Saputra @facebook
SEBENARNYA aku sudah lama ingin menuliskan profil pemilik Piyoh Design, Hijrah Saputra, dalam sudut pandang kacamataku sendiri. Selama ini aku memang sering menuliskan kiprahnya sebagai salah satu pengusaha muda Aceh, tapi itu untuk kebutuhan lain. Tentu saja citarasanya juga berbeda.

Rencana menuliskan tentang Hijrah sudah bercokol di benakku sejak usai Idul Fitri pada bulan Agustus lalu. Tapi terulur-ulur terus sampai sekarang sudah mau lebaran Idul Adha. Hari ini kurasa momen yang tepat untuk menulisnya karena pria muda itu sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke twenty nine my age alias ke 29.

Nama Hijrah sebenarnya sudah kudengar sejak tahun 2007 atau 2008 lalu. Waktu itu Hijrah yang ada dalam benakku adalah Hijrah Saputra yang sealmamater denganku. Rupanya aku salah. Itu kusadari setelah suatu hari aku nyasar di blognya di piyoh.blogspot.com. Pertemuan pertama kali dengan pria hitam manis ini pada akhir 2011 lalu, tepatnya di event Festival Kopi yang dibuat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh. Waktu itu aku bersama Ferhat dan Nurul Fajri lagi muter-muter di sana, dan karena si Ferhat ini kenal sama Hijrah, begitu berpapasan mereka langsung ngobrol. Aku, cuma bisa diam mengamati... oh ini toh si Hijrah itu... kelihatannya ramah juga ya (dari facenya). Tapi kok nggak nyapa aku yaaa...tuing tuing tuing...

Logo Piyoh @facebook
Pertemuan kedua di sebuah seminar yang dibuat oleh Saman UI di aula balai kota Banda Aceh. Waktu itu aku datang dengan seorang teman yang juga temannya Hijrah. Bukan bertemu sebenarnya karena kami hanya duduk di belakang dan menyaksikan Hijrah cuap-cuap ngasi motivasi untuk anak-anak SMA di Banda Aceh. Rupanya selain ngembangin usaha sendiri, si abang yang pernah jadi Raka Malang ini juga aktiv bagi-bagi informasi ke orang. Dia pernah bilang share ilmu ke orang ngga perlu takut, karena ngga bikin kita (dia) jadi bangkrut atau miskin.

Kalau orang-orang bilang hidup baru berawal di usia 40 tahun, aku justru baru memulai di tahun 2012. Maksudnya, aku baru mulai kenal Hijrah lebih dekat pada awal April 2012 lalu. Jadi praktisnya usia persahabatan dengan Hijrah itu baru seumur jagung. Tapi aku merasa sudah berteman lamaaaaaaaaaaaaa kali sama cowok yang pernah jadi Duta Wisata Sabang ini.


Entah darimana kuperoleh nomor hapenya, pokoknya di suatu pagi pada 2 April 2012 aku dan Hijrah sudah duduk semeja di Tower Cafe di Taman Sari. Aku menghubunginya karena tertarik menuliskan profilnya yang menurutku cukup kerenlah. Hijrah masih muda, tapi kreatifitasnya itu tak terbatas. Hasil ngobrol-ngobrol dengannya waktu itu ada di sini. Oh ya, sekedar info aja, kalau kita ngobrol dengan orang positif dan optimis, aura itu juga kontak ke kita lho. Itu yang kurasain waktu ngobrol sama Hijrah.

Yang bikin aku terus ingat adalah permintaan Hijrah untuk main ke kantor usai wawancara. Sebenarnya waktu itu pengen nolak sih, tapi ngga berdaya menolak tawaran dari cowok baik hati itu heheheh. Akhirnya sampai juga dia ke kantor kami yang imut-imut. Sampai di kantor sekitar pukul sepuluhan pagi gitu, Hijrah minta izain untuk solat dhuha, wow.... aku makin respect jadinya. Ibaratnya kalau makan di warung dia ini udah porsi komplit. Maksudnya dia udah good looking (sori maen fisik), trus pintar, kaya dan sangat memperhatikan ibadahnya.

Berawal dari situ, komunikasi dengan Hijrah terus terjalin. Aku sering menulis kegiatan-kegiatan yang dilakukannya, tentu saja yang sifatnya positif dan menginspirasi orang banyak. Terus terang, aku kagum dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini. Ia seorang lulusan Sarjana Planologi yang menurut hematku tak kesulitan mencari pekerjaan di instansi atau perusahaan swasta. Ia juga punya keahlian lain seperti mendesain, tapi itu tak dibiarkannya terpendam begitu saja. Aku kagum karena energinya mampu dikemas dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Kini dia mengelola tiga gerai Piyoh, satu di Sabang dan dua di Banda Aceh. Dengan inisiatifnya itu dia tak hanya bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain, tapi juga sudah mempromosikan Sabang dan Aceh ke seluruh penjuru mata angin. Kalau tak percaya coba saja iseng-iseng cari di internet soal Sabang, atau pemuda kreatif Aceh, pasti yang banyak muncul foto-fotonya Hijrah.

Dan, satu pernyataannya yang menurutku paling sreg di hatiku adalah keinginan Hijrah yang tidak mau dulu berenang di dunia politik. Entah kenapa waktu kutanyakan itu pada Hijrah aku sedikit cemas, jangan-jangan jawabannya tidak seperti yang kuharapkan. Tapi akhirnyaaaa.... pemuda kelahiran Sabang 29 tahun lalu itu memilih untuk konsisten di jalur ekonomi kreatif yang dikembangkannya. Ah, aku lega, seperti ada harapan.... harapan apa yaaa.... harapan untuk kemajuan Aceh lebih baik. Karena itu lebih ril.

Hijrah juga sempat main-main dua kali ke kantor kami yang baru. Keseruan "main-main" dengan Hijrah ternyata berlanjut sampai ke tabloid, edisi cetak yang keluar seminggu sekali di perusahaan tempatku bekerja. Yang tak terduga adalah permintaa bos besar agar Hijrah dan kawan-kawan yang tergabung di The Leader menjadi cover utama tabloid untuk edisi itu. Wooo... secara pribadi aku sangat tidak keberatan dengan usulan itu. Maka begitu "perintah" kuterima, aku langsung menghubungi Hijrah untuk sesi pemotretan (gaya kali istilahnya).
Foto bareng Hijrah (jaket merah) usai ambil gambar di kantor. @ATJEHPOSTcom/Heri Juanda

Hijrah juga sangat murah hati, buktinya aku pernah dikasi hadiah hahahah. Suatu hari dia datang ke kantor dan nyerahin bungkusan ke aku. Isinya mau tau apa? Sebuah t-shirt Piyoh yang keren dan bakal batik dari Sulawesi. Bakal itu katanya dibeli khusus untukku waktu dia ikut kapal pemuda nusantara tahun 2012. Selain itu juga ada gantungan kunci cantik yang kini kugantung di lemari pakaianku. Aduhhh aku jadi ngga enak hati sebenarnya, sampe sekarang belum ngasi apa-apa buat si Hijrah. Dan sebagai gantinya aku berniat membuat catatan di blog tentang dia, itung-itung sebagai kejutan gitu biar dia merasa happy....eee tapi kok ketundaan terus sampai akhirnya lihat pengumuman lomba blog papa Piyoh. Ujung-ujungnya menulis untuk mengharapkan hadiah (lagi) dari Hijrah :-D.
Kokoru kreasi Hijrah @facebook

Padahal belum lama ini aku juga diberikan hadiah cantik berupa kreasi kokoru. Tapi apa yang kutulis ini memang tulus mulus dari hatiku kok, ngga ada maksud apa-apa. Aku hanya berfikir yang tertunda-tunda kemarin-kemarin itu rupanya ada rencana indah lain dari Tuhan. Aku hanya berharap semoga catatan kecil ini bisa jadi hadiah kecil di hari ulang tahunnya. Selamat ulang tahun Hijrah. Senang bisa berteman denganmu.[]

Komentar

  1. wah baca tulisannya kak ihan bkin pengen ditulisin juga ... hahaha
    maybe someday :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok maybe someday, sekarang aja hehehehe :-)

      Hapus
  2. Waaah....Ihaaaan....keren banget, tapi ini lebih fokus ke Hijrahnya ya :D, tak apalah, suka..suka...ternyata sudah banyak cerita di antara kita #Hasyeek :D

    BalasHapus
  3. baru tau kalo Hijrah pernah jadi duta wisata :D

    BalasHapus
  4. kak ekiii... kemana aje. bang hijrah itu duta wisata aceh kak. Ckckckck. berarti duluan liza dong kenal sama bg hijrah. kenalnya lewat blog. eh ga taunya Abang leting di.sma

    BalasHapus
  5. cie cie cei kak ihan (alhamdulillah nggak manggil bang lagi) rupanya secret admirenya hijrah :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…