"Cerita Sore"

aku duduk dikursi yang sudah tidak utuh lagi setelah menyerahkan motor kepada montir. aku memperhatikan dari jauh apa yang dilakukannya, mula-mula ia melepaskan ban dalamnya lalu menambalnya dengan karet dan dibakar suapaya menempel, prosesnya cukup lama juga. dan aku harus menunggu agak sedikit lama, mesin gen set besar sangat membuatku tak nyaman dan bising. saat itu masih pukul 17:39.
"kak, udah dicari kemana-mana ngga ketemu juga rumahnya, malah udah sampai ke fajar hidayah. bawa pulang aja lagi ke takengon jilbabnya" tulisku melalui layanan short message service. barangkali kedengarannya agak sedikit pedas tapi aku tidak bermaksud begitu. saat itu akupun tidak tahu apa yang sudah tertulis dilayar hand phone ku.
sudah satu jam lebih aku berputar-putar, keluar masuk lorong untuk mencari rumah yang dimaksud, tempat kak isra menginap selama ia berada di kota ini. tapi tidak ketemu juga rumahnya, yang membuatku sedikit kesal adalah karena sebelumnya aku sudah pernah kerumah itu beberapakali dan sudah pernah menginap, rasanya sangat tidak lucu kalau sekarang aku lupa dan sama sekali tidak tahu lagi dimana rumahnya. entah sudah berapa orang kutanyai tapi tidak ad satupun yang bisa memberikan petunjuk dengan benar.
"Assalammualaikum. kak numpang nanya ya? rumah yatim darul aitam dimana ya?" tanyaku pada seseorang yang ada dikios samping jalan.
"oh kedepan lagi dek, jalan ini lurus aja, nanti ada kios kecil rumah yatimnya disebelah kiri." tunjuknya. aku mengangguk meski agak sedikit ragu. pasalnya jalan yang ditunjuk oleh kakak itu sudah sangat jauh dari ruas jalan utama. tapi aku tetap saja menuju ke rumah yang ditunjuk tadi dan ternyata memang bukan rumah yatim yang ku maksud.
"duh...kenapa aku bisa lupa rumahnya ya?" batinku. padahal aku sudah pernah kesana. aku memutar arah dan berniat mencari rumah yatim yang satunya lagi. aku harus menemukan rumah itu, tekadku.
mei yang lalu aku pergi ke takengon dan meninggalkan selembar kerudung disana. kerudung berwarna biru yang sangat aku sukai. aku agak teledor dan waktu itu pulangnya memang agak buru-buru. tapi syuurlah kak isra tidak lupa membawanya kemari dan aku harus mengambil kerumahnya sore ini juga karena nanti malam ia akan pulang.
tapi rupanya Tuhan berkehendak lain, ban depan motorku tiba-tiba kempes. dengan kondisi seperti ini tentu saja akutidak bisa meneruskan pencarian. tugas berikutnya yang harus kulakukan adalah mencari bengkel untuk menambal ban, kalau tidak terlalu sore munkin aku akan meneruskan mencari rumah itu. kalau tidak ya aku harus mengikhlaskannya. biarlah dibawa pulang lagi ke takengon sana.
dengan laju yang lambat aku menyusuri jalan pulang, hatiku sempat kacau juga bagaimana kalau tiba-tiba hujan turun melihat langit sudah mulai gelap karena mendung. angin bertiup kencang sekali, menerbangkan debu-debu dan sampah membuatku kesulitan melihat.
apes belum cukup sampai disitu rupanya, ketika sedang jalan tiba-tiba motornya berhenti dan tidak mau bergerak lagi. "oh Tuhan..." hanya itu yang keluar dari bibirku, selanjutnya melihat kekiri dan kekanan, kalau-kalau ada yang berjualan bensin ditempat sepi seperti ini. beruntung tidak jauh dari sana ada pedagang bensin. akupun kembali melaju dengan laju motor yang terseok-seok.
sudah pukul enam kurang seperempat, ban motorku masih belum selesai ditambal. aku berdiri dan melihat sungai yang ada dibelakangnya. airnya mengalir tenang, berwarna agak kehijauan tetapi debit airnya tampak berkurang. yah..kemarau yang berkepanjangan telah membuat airnya menyusut. aku kembali lagi ketempat tadi, lalu mengeluarkan buku the motor cycle diary nya Che Guevara yang kupinjam dari seseorang. tinggal beberapa halaman lagi dan aku telah menyelesaikannya sore itu.
aku teringat lagi pada kerudung biru itu, harusnya sudah diambil sejak senin yang lalu tetapi karena ada sesuatu dan lain hal akhirnya tidak jadi. biarlah ia kembali lagi ke eropa barat daya sana, begitu aku menyebut kota dingin itu. aku benar-benar telah jatuh cinta pada kota itu. aku ingin kesana lagi, mungkin saja suatu hari nanti aku akan mengambil sendiri kerudung itu kesana.
pukul enam lebih, ban sudah selesai ditambal, aku langsung membayar dan meninggalkan tempat itu. aku melarikan motor dengan sangat gila sore itu, seperti orang mabuk. aku ingin cepat-cepat sampai dirumah. aku capek, aku lelah, dan aku hiv.

Komentar