Langsung ke konten utama

Pagi Itu, Sembilan Tahun Silam

PAGI itu, aku sedang mengaduk adonan agar-agar di tungku kayu. Asap dari kayu bakar tak hanya membuat mataku perih dan berair, tapi juga hidung jadi beleran. Abu bekas kayu bakar sebelumnya di sekitar tungku beterbangan. Percikannya menempel di bajuku.

Tak lama kemudian, kukira adonan di panci belum sempurna mendidih. Atap rumah yang terbuat dari daun rumbia tiba-tiba bergoyang. Tiang-tiang dapur yang berupa kayu (beroti) kecil berderik-derik. Goyangan yang semula hanya berupa hentakan berubah menjadi goncangan yang begitu hebat. Aku menancapkan kaki di lantai dapur yang sepenuhnya berupa tanah. Ujung-ujung kaki menancap kuat. Di atas tungku adonan bermuncratan dari dalam panci.

Setelah beberapa saat aku mendengar suara nenek dari luar rumah. Ia berteriak-teriak menyuruhku keluar. Ia khawatir rumah akan roboh karena guncangan yang demikian hebatnya. Aku menurut karena goncangannya memang sangat kuat. Hampir saja membuatku limbung.

Di luar kulihat nenek berdiri di halaman samping. Ia berpegangan pada sebatang pohon kendondong hutan yang besarnya tak sampai sebesar lenganku. Tertatih-tatih aku menggapai pohon itu. Kami berdua bertumpu pada sebatang pohon,  tetapi tetap terayun-ayun mengikuti gerakan goncangan dari dalam tanah. Sembari itu kami juga berzikir.

Seumur hidup rasanya sulit sekali bagi saya melupakan pagi itu. Minggu, 26 Desember 2004. Waktu itu umur saya baru 19 tahun. Itu adalah pagi di mana saya merasakan gempa yang sangat kuat. Belakangan saya tahu gempa pagi itu berkekuatan 8,9 SR. Ada yang mengatakan 9 SR. Dahsyat! Menghilangkan nyawa masyarakat Aceh hingga ratusan ribu jiwa.

Waktu itu saya masih kuliah. Mestinya pagi itu saya berada di Banda Aceh, tapi karena dua hari sebelumnya libur Natal, saya memutuskan untuk berlibur ke tempat nenek di Teupien Raya, Kecamatan Geulumpang Minyeuk, Pidie. Entah bagaimana nasib saya jika hari itu saya berada di Banda Aceh.

Setelah gempa berhenti saya kembali ke dapur, menyalakan api yang sudah padam. Lalu memasak adonan hingga matang. Beberapa menit kemudian dari luar saya mendengar suara ribut-ribut. Penasaran saya pun keluar untuk mencari tahu. Rupanya para tetangga nenek sudah mengetahui adanya kabar air laut naik (tsunami) di beberapa tempat seperti Banda Aceh, Sigli dan Pante Raja. Kabar tersebut ditambah dengan berita duka bahwa banyak orang yang meregang nyawa, terutama di Banda Aceh. Nenek ikut-ikutan panik, saya juga, pasalnya siang itu saya harus balik ke Banda karena besoknya masuk kuliah. Yang bikin saya tambah panik, tugas mengetik manual yang diberikan tiga hari lalu belum selesai. Saya urung kembali di Banda Aceh karena ada teman yang mengabarkan Ibu Kota Provinsi itu telah porak-poranda. [bersambung]



Komentar

  1. Ayo lanjutkaaan! selalu terkesima jika membaca dan menyimak cerita2 tentang Tsunami

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…