Yang Terulang

Rasanya masih belum berubah, masih menyisakan perih ketika nikotinnya menjalari tenggorokanku lalu keluar melalui lubang hidung yang sedikit berair. Dan rasa pahit yang getir terasa menempel seperti siput yang melekat di atas batu lalu kemudian di sapu ombak, walau tanpa seribu kaki siput yang kecil tetap melekat dengan kuatnya. Dan ludahku tak mampu hilangkan kegetiran ini.

Tanpa batuk setiap hisapan kuhirup dalam-dalam, merayapi hingga ke relung dada dan menembus paru. Lalu asapnya mengepul lebat membentuk labirin hingga hilang di telan udara tanpa bekas.

Dengan bantuan tutup parfum yang telah kosong, dua batang benda mungil yang tak lagi utuh bersemayam untuk yang terakhir kalinya. Berlumur dengan debu keabuan yang hadir akibat perubahan kimiawi. Ah, aku hanya menyedot nikotin dari dua batang benda mungil dengan ukuran sembilan senti.

Kutangkupkan tanganku ke mulut, lalu kutiup sepotong nafas untuk memastikan bahwa aromanya masih belum berubah. Hidungku masih bekerja optimal, beruntung kelenjar polip dalam cangkang hidungku sedang tidak membengkak sehingga apa yang kucium sekarang benar-benar seperti tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun, bukan waktu yang singkat, tapi juga tidak terlalu lama untuk membuatku kembali rindu pada benda putih mungil itu. Bahkan rasanya yang manis menempel di ujung bibir masih sama kadarnya. Berkali-kali lidahku menjilatnya, lalu menelannya. Tak terlalu nikmat, tapi menyenangkan.

Lebih beruntung lagi karena aku tak perlu bertemu dengan pacarku besok pagi, sehingga dia tak perlu memindahkan sisa rasa ini dari bibirku ke bibirnya. Dengan begitu aku masih bisa menyimpannya sampai besok malam, besok malamnya lagi atau mungkin sampai tiga tahun yang akan datang. Sampai aku membutuhkannya lagi.

Kapan kita bisa duduk berdua, untuk merokok bersama?

Itu pertanyaan sederhana pada seorang teman, yang telah meninggalkan namanya dalam ingatanku. Ia pergi sebelum keinginan itu terwujud. Dan malam ini, aku mewujudkan impian itu. Dalam perjalanan pulang sore tadi, dua batang mungil kecil meringkuk dalam kantong samping ranselku. Ketika menjelang malam ia kuambil, bentuknya telah keriput karena terhimpit kacamata.

Tapi bodohnya, ketika aku melahapnya sendirian, aku lupa untuk mengajak temanku itu. Walaupun aku tahu dia tak akan datang, tapi paling tidak sekedar untuk mengatakan satu untukmu dan satu untukku. Nyatanya dua-duanya kuhabiskan seorang diri dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Benda ini, yah....benda ini telah memberikanku inspirasi besar ketika itu. Sebuah tulisan sederhana yang mampu mengubah seseorang. Lebih sederhana lagi ketika ada beberapa orang yang berani mengakui kesalahannya karena membaca tulisan itu. Tetapi menjadi tidak sederhana ketika dengan tulisan itu aku merasa telah menyelamatkan diriku.

Apakah benda ini pahlawan? Juga tidak menurutku. Tapi ketika jari ini menjepitnya memang seperti ada kemenangan tersendiri. Kemenangan yang tak nikmat. Kemenangan yang mengantarku pada belantara hayal yang tinggi. Pada saat itu aku kembali ingin berkata kapan kita duduk berdua, untuk merokok bersama? Tetapi kali ini bukan untuk temanku, tapi untuk pacarku.


1 juni 2009

Komentar