Langsung ke konten utama

Menulis; Antara Idealisme dan Profesi*

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengatakan begini kepada saya; saya terpaksa memilih profesi lain karena dunia sastra tidak menjanjikan kehidupan yang layak bagi saya. Secara tersirat ia ingin mengatakan dengan menjatuhkan pilihan menjadi sastrawan berarti pilihan untuk tidak mapan dan menjadi kere. Sedangkan pada saat yang bersamaan saya tengah bermimpi agar suatu saat bisa menyamai JK. Rowling dengan ‘Harry Potter” nya dan saya dengan karya saya yang lainnya. Alangkah indahnya hidup, terkenal, kaya dan tidak kere. Bahkan kekayaan JK. Rowling telah melebihi Ratu Elizabeth sekalipun, mudah-mudahan saya bisa melebihi kekayaan keluarga cendana.

Tapi memang begitulah kenyataannya, banyak orang yang takut menjadikan menulis atau dunia sastra sebagai profesinya, karenanya wajar bila tidak ada seorangpun yang berani mencantumkan sastrwan atau penulis sebagai pekerjaannya pada kartu pengenalnya, sebagaimana yang ditulis oleh Musmarwan Abdullah dalam cerpennya bertajuk “Pada Tikungan Berikutnya”. Orang menjadi takut miskin dan dianggap tidak bergengsi bila memilih menjadi seorang sastrwan atau kalaupun ada itu hanya sebagai kerjaan sampingan penyaluran hobi. Wajar kalau akhirnya orang berlomba-lomba meraih gelar hingga profesor agar menjadi hebat, terkenal dan kaya. Sehingga potensi menulis dalam dirinya menjadi terabaikan gara-gara pola pikir yang materialistic, semua diukur berdasarkan untung rugi bukan dengan maslahat atau mudharatnya.

Uniknya, berlum pernah saya menemui nama-nama sastrwan besar yang mencantumkan gelar di belakang nama mereka, padahal bukan sedikit diantara mereka yang menempuh pendidikan formal hingga keluar negeri. Kesederhanaan inilah yang membuat para sastrawan tidak pernah menciptakan kesenjangan sosial dengan siapapun, sehingga mereka masuk k edalam seluruh elemen masyarakat.

Bagi mereka yang berfikir pragmatis ekonomik, menulis memang hal yang tidak menjanjikan secara finansial. Mengapa? Apalagi bagi seorang penulis pemula yang namanya belum kesohor. Sudah lelah menulis, menghabiskan banyak kertas dan tenaga, terkantuk-kantuk dan bukan tidak mungkin mata menjadi kabur karenanya, eh…malah masuk ke keranjang sampah alias ditolak dimeja redaksi. Ataupun kalau dimuat honornya hanya berkisar puluhan ribu, bahkan tidak mencukupi untuk biaya kertas dan kopi saat menulis, apalagi untuk biaya rental internet yang mahal. Tapi bagi media-media yang sudah mapan jumlah honor yang mereka berikan sudah lumayanlah. Lalu akhirnya mereka lebih memilih untuk tidak menulis.

Saya pribadi berpendapat bahwa keterampilan menulis adalah anugerah, layaknya bibit, maka ia harus dirawat, disiram, diberi pupuk agar terus tumbuh dan berkembang sehingga impian menjadi JK. Rowling atau Pramoedya Ananta Toer bukan hanya mimpi disiang bolong. Mengapa saya mengatakan anugerah? Karena tidak semua orang bisa menuangkan idenya dalam bentuk tulisan walaupun sebenarnya ia mempunyai potensi untuk menulis, sekalipun ia seorang professor lulusan luar negeri. Menyangkut dengan hal ini sambil bercanda saya pernah mengatakan pada seorang teman, belajarlah menceritakan apa yang ingin kamu katakan dalam bentuk tulisan, karena jika suatu saat Tuhan mentakdirkanmu menjadi orang hebat tidak perlu lagi mengupah orang untuk membuatkan teks pidato kenegaraan.

Semua orang sepakat bahwa untuk menulis tidaklah mudah, dan akan selalu sulit jika tidak pernah dimulai. Tapi cobalah kita perhatikan apa yang dituliskan oleh para penulis dan sastrawan didalam karya mereka. Baik dikoran-koran maupun dalam kumpulan cerita pendek. Akhir-akhir ini saya sering melakukan itu, sampai-sampai saya berfikir “kalau seperti ini saya juga bisa” ini tentu saja bukanlah maksud untuk merendahkan karya orang lain, tetapi membaca apa yang mereka tulis sebenarnya mengangkat tema yang sangat sederhana sekali. Hanya tentang pertemuan tidak sengaja antara seorang dosen dengan mantan mahasiswanya disebuah terminal. Dan tulisannya dimuat dikoran. Indah nian seperti itu. Tapi kenapa media tidak pernah memuat tulisan saya? Karena saya (dan orang-orang yang seperti saya) tidak pernah menulis dan hanya puas dengan mengatakan “kalau Cuma itu saya juga bisa” selesai!

Komunitas Sastra

Sangat menyenangkan mendengar Forum Lingkar Pena Aceh telah mempunyai percetakan sendiri, itu artinya peluang untuk bisa menerbitkan karya para penulis lokal menjadi lebih terbuka. Mereka yang selama ini telah bersusah payah membesarkan lembaga tersebut akhirnya dapat berlega hati. Namun bagaimana dengan mereka-mereka yang berada di luar komunitas menulis, yang secara resmi tidak mempunyai orientasi lembaga yang terarah dan sistematik. apakah mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengaktualisasikan diri mereka melalui dunia tulis menulis? Tetap bisa!

Syaratnya hanyalah menulis, menulis dan terus menulis, menulis hingga bosan dan menuliskan kebosanan itu. Lalu beranikan diri untuk mempublikasikan karya kita. Sekali dua kali ditolak itu biasa, tapi yakinlah seperti yakinnya Gola Gong yang terus menulis dan baru dimuat yang keseratus kalinya. Atau seperti Muhidin M. Dahlan yang terus menulis walau tulisannya selalu ditolak dimeja redaksi hingga pada akhirnya ia menulis bukan untuk dimuat tapi untuk dikembalikan.

Tapi, bukan main senangnya saat tulisan pertama kita dimuat oleh sebuah media, senang karena ide-ide kita dibaca orang, puas karena kita bisa menularkan pengetahuan kepada yang lain, bahagia karena nama kita sejajar dengan mereka-mereka yang namanya berekor alias bergelar sedang kita hanya punya nama yang buntung tanpa gelar apapun. Ini membuktikan bahwa menjadi penulis tidak perlu title khusus layaknya title dokter bagi seseorang yang ingin menyembuhkan orang lain.

Karena itu menjadi penulis hendaknya punya visi dan misi pribadi yang jelas, karena menjadi penulis berarti tengah belajar bagaimana mempengaruhi orang lain melalui ide-ide kita. Nah, sekarang terserah kepada masing-masing individu ingin memberikan pengaruh yang positif atau pengaruh negatif dengan catatan, yang negatif atau positif tersebut tetap dikenang orang. Secara ekstreem barangkali bisa dikatakan, menulislah untuk bisa ke surga atau ke neraka.

Almarhum Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan “menulislah, selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah”.

Apa yang dikatakannya seratus persen benar, bayangkan bila seorang Chairil Anwar tidak pernah menulis barangkali orang tidak akan pernah mengenangnya dalam sejarah dan dalam berbagai buku-buku sastra. Begitu juga dengan Socrates, seorang filsuf Yunani yang terkenal jika saja ia tidak mempunyai murid secerdas Plato yang gemar menulis bisa dipastikan nama mereka akan ditelan sejarah dan pemikiran brilian mereka tidak pernah kita temui di jaman ini.

Sastrawan Perempuan

Alhamdulillah, saya terlahir sebagai perempuan, sehingga saya bisa bebas menghujat laki-laki melalui tulisan saya. Ah, tidak, bukan begitu. Dalam dunia tulis menulis tidak ada si A menghujat si B, atau si C menghukum si D. tapi kalau sekedar mengkritik dan menggugat bolehkan? Dan alangkah baiknya jika satu sama lainnya saling mendukung.

Tapi dalam dunia nyata, penulis laki-laki memang lebih banyak dibandingkan penulis perempuan padahal jumlah perempuan adalah mayoritas. Dalam tulisan-tulisan yang ada dikoran-koran atau media lainnya nama laki-laki lebih mendominasi, bahkan dalam mailing list pun nama perempuan jarang sekali muncul. Padahal untuk sekedar berkomentar dimailing list tidaklah diperlukan keahlian khusus. Mengapa bisa begitu? Saya juga heran. Bisa jadi karena perempuan malas ribut-ribut apalagi untuk memaki satu sama lainnya, atau memang tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya. Maka jadilah dunia seperti apa yang difikirkan oleh laki-laki.

Kenapa saya mengatakan begitu? Ini mungkin agak sedikit melenceng dari topik karena sudah beralih ke persoalan gender dan persamaan antara laki-laki dan perempuan. Banyak para aktivis yang mendengungkan dan memperjuangkan hak-hak perempuan pada corong-corong microphone sambil berpanas ria di bawah terik matahari tapi tidak ada yang berfikir untuk menuliskan berbagai persoalan mereka lalu membagi-bagikan kepada masyarakat secara gratis agar mereka menjadi cerdas.

Dunia perempuan banyak sekali ditulis oleh penulis laki-laki, sebut saja misalnya buku-buku tentang pernikahan dan bagaimana mengelola rumah tangga. Sehingga yang sering kita temui adalah bagaimana perempuan harus menyenangkan laki-laki bukan bagaimana keduanya harus tampil optimal bagi pasangannya.

Padahal, dengan menulislah perempuan bisa maksimal memperjuangkan hak-haknya yang selama ini sering termarginalkan. Tidak perlu berteriak dan berpanas-panas dibawah matahari dan cukup duduk dengan manis lalu menuliskan keinginan merekan, megnkritik atau menggugat keotoriteran dan kefanatikan sebuah sistem. Perlu diketahui bahwa dunia menulis adalah dunia penuh kebebasan, bebas menjadi orang kaya atau gelandangan, bebas menjadi orang baik atau orang jahat melalui karya mereka. Seorang sastrwan rasanya tidak pernah membangun jarak dengan orang-orang miskin justru mereka yang membuat dunia terbuka melalui cerita-cerita mereka, dan seorang sastrawan juga tidak perlu merasa rendah diri dengan orang-orang yang namanya berekor karena dengan sendirinya mereka telah menjadi orang hebat dengan kepiawaiannya mengolah kata. Nah, ingin menjadi orang hebat dan bebas? Maka menulislah. (Ihan).

*artikel ini pernah dimuat di koran Harian Aceh, edisi Ahad, 7 juni 2009

Komentar

  1. Salam kenal. Saya suka gaya tulisan anda

    BalasHapus
  2. salam kenal kembali Mr. David, seseorang yang masih belajar menulis, terimakasih atas apresiasinya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.