Langsung ke konten utama

Untukmu, Untuk Lautan

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, sejak bertahun-tahun yang lalu. Kurasakan perbedaan dari caraku merindui dan mencintaimu. Rasa yang begitu melesak-lesak dalam jiwa, menyuruhku pergi ke suatu tempat untuk menemuimu.



Maka sebelum matahari tergelincir, ketika langit masih memerah saga. Aku telah berada di tempat itu, menyusuri jalan-jalan yang pernah kau lintasi beberapa waktu yang lalu. Menaiki bebatuannya yang bersusun. Merasakan lembutnya angin pantai yang tajam. Mendengar deru dentum ombak yang berkecipuk. Menyaksikan cicak-cicak laut yang menempel di bebatuan yang basah. Kepiting yang berlarian dan siput-siput kecil yang kecoklatan.



Aku takjub. Bukan pada diriku sendiri, tetapi pada yang melesak-lesak begitu kuatnya di dalam hati. aku berdiri menghadap lautan. Membentangkan kelopak tangan. Meliarkan pandangan mata. Meneriaki gemuruh. Ya, aku datang menemui lautan. Untuk bertemu dan berdialog denganmu. Laut! Dan juga engkau.



Sesuatu yang tak begitu kusukai sejak dahulu. Karena menurutku laut terlalu lantang untuk disahabati. Terlalu liar untuk diajak bercengkerama. Terlalu menakutkan untuk dijadikan pelipur hati. Terlalu mistis untuk disinggahi.



Tapi kerinduan terhadapmu mengubah segalanya, aku mencoba menyatu dengan lautan. Aku biarkan saja ketika ombaknya dari celah bebatuan menjilati hingga ke mata kakiku. Aku senang saat ombak-ombak itu seperti mengejar, dan aku berlarian di atas batu-batu berlapis itu. Aku tertawa. Aku berteriak. Hei…beginikah rasanya mencintaimu? Beginikah rasanya dekat denganmu? Beginikah rasanya dicandai olehmu? Beginikah rasanya, ya memang seperti ini rasanya.



Kesempurnaan itu terasa begitu lengkap, apalagi ketika setitik air menyapu lidahku. Asin yang menggoda. Asin yang melahirkan rasa ketidak puasan untuk mengecapnya terus menerus. Seperti rasa yang terus tumbuh dan tumbuh di dalam hati. Untukmu. Untuk lautan. Aku akan kembali lagi! Untukmu, untuk lautan, dan juga untuk engkau!



Ulee Lheu, 22-4-2010

Ihan Sunrise

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.