Jangan Membunuh Kenangan

Jangan Membunuh Kenangan

Mencium jemarimu adalah ritual paling dahsyat yang begitu menggetarkan, penghormatan yang menggembirakan dan menyembuhkan, memberi lega dan kepatuhan diri, lain kali, aku akan merasa bersalah bila hanya dapat mencium jemarimu saja.

Barangkali, itulah yang membuatku lantas terdiam, berhenti menduga-duga, berusaha untuk tak menyalahkan, berusaha untuk menerima alasanmu. Karena ketulusan, seperti yang selama ini kupahami selalu saja mengejawantahkan berbagai alasan. Itu pula yang selama ini selalu membawa kita pada muara yang sama.

Dalam dialog panjang kita, resonansi desah nafas yang tak begitu teratur, seiring dengan emosi yang ikut menyelinap. Aku berusaha berdamai dengan keadaan. Kau dan aku dipertemukan dalam perbedaan. Seharusnya kita tak saling menyalahkan seperti ini. Bukahkah kita telah lama saling mencintai?

“Aku datang malam itu, berusaha menemuimu, untuk memenuhi janjiku.” Katamu pelan. Sarat kehati-hatian. Aku hening dalam kesenyapan, tak lantas percaya dengan apa yang kau ucapkan. Aku diliputi keraguan. Benarkah, benarkah kau datang? Tapi mengapa aku tak melihatmu di terminal kota itu?

Aku mendengar tanpa membantah. Siapapun kamu, tentu saja kau berhak membela diri, dan aku, berhak pula mempertimbangkannya.

“Tapi tak kudapati dirimu di salah satu penumpang di dalam bus itu.” Katamu kembali menjelaskan.

Ah…begitu detil kau menjelaskan. Begitu runut. Mungkinkah kau berbohong bila semuanya begitu rinci? Kau benar tentang bus yang kutumpangi malam itu. Kau benar tentang jam keberangkatanku. Tapi yang salah mengapa kau tidak melewati lorong-lorong bus itu untuk menemuiku di bagian belakang?

Hati yang galau. Kemuncak kecewa. Dan kesedihan yang dalam membuatku ingin berlari ketika itu. Menyembunyikan wajahku dari pertanyaan-pertanyaan penuh selidik. Air mata yang menumpuk membuatku tak mampu melihat apapun. Termasuk melihatmu yang berdiri di ambang pintu. Aku menyendiri menyembunyikan luka di mataku.

“Padahal aku telah begitu tergesa-gesa untuk bisa segera menemuimu, kulewati kemacetan kota ini dengan segala keberangan, menyelesaikan kewajibanku secepat mungkin lalu sesegera mungkin menemuimu.”

Aku diam saja. Mendengar penjelasanmu sebaik mungkin. Kuatur nafas setenang mungkin. Aku tak bisa mengartikan apakah ini kesenangan atau apa. Aku hampir tak bisa berkata apapun. Apakah takdir sedang mempermainkan kita ketika itu? Apakah perbedaan itu semakin mencolok saja seperti ini? Sebegitukah sulitnya bagi kita? Rasanya, tawa dan tangisku mulai tak berguna.

“Lalu mengapa kau tidak meneleponku?” tanyaku kemudian. Berharap kali ini kesalahan adalah mutlak milikmu.

“Tapi hape-mu kan tidak aktif…” suaramu menggantung. Serak. Berat.

Ah…siapa yang salah sebenarnya? Hape-ku yang kehabisan baterai atau kamu yang datang terlambat sedikit?

“Ya, tapi aku kan sudah beri tahu jadwal keberangkatanku. Bahkan aku sudah menunda satu jam hanya untuk menunggu kedatanganmu. Tapi kamu masih juga terlambat.” Protesku.

“Lain kali, datanglah lebih awal atau pulang lebih akhir. Kau tahu, kita hidup diluar prediksi.”

Kalau bukan karena jemarimu, mungkin aku akan selamanya marah kepadamu. Ketakziman yang pernah hinggap di jemarimu menjelma menjadi oase di saat-saat kritis ketidak pastian di antara kita.

Seharusnya memang tak perlu kita saling menyalahkan. Kenangan yang tercipta telah membuat kita menjadi orang-orang yang tak biasa. Keluar biasa-an ini yang selamanya akan tumbuh dan hidup.

“Sampai mati.” Katamu

“Ya, sampai salah satu dari kita mati.” Jawabku.

Hening. Selalu menjadi saksi atas pertengkaran kita. Tapi hening, juga selalu menjadi saksi atas ketak bersyaratan cinta yang kita punyai bertahun-tahun ini.

11:14 pm

15 april 2010

Komentar