Langsung ke konten utama

Jangan Menangis, Adikku....


Jangan menangis adikku,

Karena air matamu adalah pedang yang sangat tajam. Mendengar suara tangismu seperti merasakan sebilah pedang menyayat hatiku secara perlahan. Mengiris-ngiris hingga menjadi remuk tak berbentuk.

Jangan menangis adikku,

Aku tak ingin mengatakannya, tapi harus kukatakan. Bahwa kehidupan itu hanya akan memihak pada mereka yang kuat. Karenanya janganlah pernah menjadi lemah apalagi menyerah.

Aku tak punya kata-kata yang tepat untuk menghibur hatimu yang lara. Aku memahami dengan sangat segala hal tak menyenangkan yang kau alami. Raga kita terpisah jauh, tapi percayalah jiwa dan hatiku selalu bersamamu. Kau adalah bagian dari doa-doaku yang panjang.

Jangan menangis adikku,

Sebab kekecewaan tak selamanya perlu diperlihatkan lewat air mata. Kita harus mendapatkan satu persatu bintang di atas sana, menolehlah ke atas, banyak hal indah yang bisa kau saksikan di atas sana. Langit-langit biru dengan gumpalan awan selaksa kapas, daun-daun yang tak pernah bosan bermanja dengan angin, burung-burung yang mengepakkan sayap dengan sempurna, membelah cakrawala tanpa pernah merasakan ketakutan.

Adikku,

Bukan karena jauh, lantas aku tak memahami apa yang kau rasakan. Bukan karena jauh aku lantas akan abai padamu. Sungguh, yang selalu kurindukan darimu adalah rengek manjamu yang kadang menyebalkan. Bukan suara tangis yang terasa lebih menggelegar dari gemuruh di tengah hari.



Adikku,

Bersabarlah. Jika hidup ini mudah, maka kesuksesan menjadi sama sekali tiada artinya. Jika hidup ini mudah maka perjuangan menjadi sia-sia. Terkadang kita harus menukarkan apa yang kita minum dengan air mata yang bertubi-tubi tumpah. Harus merelakan perasaaan kita terluka bahkan dicabik-cabik orang lain.

Adikku,
Jangan menangis lagi...
Hapus air matamu. Abaikan semua hal yang mengganggumu. Abaikan semua orang yang menyakitimu. Tulikan telingamu pada ucapan-ucapan yang tak ingin kaudengar. Butakan matamu dari hal-hal yang tak ingin kau lihat. Bisukan lidahmu dari hal-hal yang tak ingin kau katakan.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n