Sabtu, 04 Juni 2016

Selamat Jalan, Z Sayang...



“Perlukah menangisi kepergianmu yang ingin ‘menjauh’ dariku? Selamat jalan Z sayang... selamat jalan... aku akan terus berpuisi untukmu... ya.... hanya untukmu...”

Sudah kuputuskan untuk tidak menuliskan apapun lagi tentangmu.  Tapi aku gagal setelah berhari-hari mencobanya.  Dan aku akan terus mencobanya. Sampai kapanpun.

Jantungku seperti mau meledak manakala setiap ingatanku melompat pada semua kenangan yang pernah ada. Hatiku terasa hancur berkeping-keping, saat menyadari semuanya sudah dengan cara seperti ini. Dalam hening yang panjang, dalam diam yang bisu, tanpa sempat mengatakan selamat tinggal. Semuanya serba tiba-tiba.  Tak ada tanda-tanda.

Aku akan mengubur semua kenangan ini, bersamamu yang telah terkubur oleh waktu. Aku akan menghapus semua tentangmu, seperti angin menghilangkan jejak kaki di pasir pantai. Aku akan mengikis semua cerita yang pernah kau kisahkan hingga bekasnya tak terbentuk lagi.  Dan kaupun tahu semua itu akan membutuhkan waktu yang teramat sangat lama. Ya, kita hanya perlu satu detik untuk saling jatuh cinta, tapi berapa banyak waktu yang akan kita habiskan agar bisa melupakan?

Bagaimana aku akan melupakanmu, jika aku tetap menulis. Dan bagaimana bisa aku berhenti menulis jika aku ingin tetap hidup. Dan kaupun tahu, sudah bertahun-tahun lalu kau bereinkarnasi menjadi ruh dari setiap narasi yang lahir dari benakku. Sesungguhnya kaulah tulisanku.  Jika aku terus menulis bukankah itu artinya kau akan terus hidup di ingatanku? Aku tak ingin kau terus ‘hidup’ hanya untuk melukai perasaanku. Aku tak ingin kau mengiris-iris hatiku dengan cara yang tak kausadari. Aku tak ingin, bahkan setelah kau tiada, kau masih bisa membuat hatiku bergerimis. Aku tak ingin duniaku menjadi sendu dan muram karenamu.

Tapi aku akan terus melakukannya, aku akan tetap menulis, hingga aku tak bisa berpikir lagi, hingga tanganku tak kuasa menekan tuts-tuts laptop mungilku lagi.  Ya, aku akan terus menulis karena hanya dengan itu lukaku bisa tersembuhkan.

Bagiku kau serupa aroma uap kopi yang tak pernah bosan untuk kusesap. Yang sudah setahun ini tak pernah kusentuh lagi. Aku khawatir tak akan terlepas dari candumu yang memabukkan. Maka aku meninggalkannya perlahan-lahan. Setidaknya itu cukup membantu saat kau meninggalkanku dengan cara tak terduga seperti ini.

Ah, memangnya siapa aku ini bisa menduga-duga rencana Tuhan? Jika Tuhan ingin mengambilmu dariku, aku bisa apa? Aku tak akan protes pada Tuhan,  aku tak akan marah, aku tak akan menangis. Apa perlu menangisi kepergianmu, Z? Apa aku perlu mengatakan kau jahat karena telah melupakan apa yang pernah kau ucapkan? Tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku akan membiarkanmu tenang di duniamu sendiri. Ya, dunia kita selalu berbeda bukan?

Aku bahkan tak menyadari kau telah tiada. Aku masih menunggu-nunggu dengan cemas email darimu, atau sepotong pesan pendek yang apa adanya. Aku mengirimimu pesan-pesan, tapi tidak ada yang berbalas, ah... aku jadi lupa, jika tidak ada lagi yang menekan tombol-tombol gadget milikmu, lalu siapa yang akan membalasnya untukku, kan?

Aku menjadi lebih sering membuka arsip-arsip lama, membaca apa saja yang berkaitan denganmu. Semua yang manis-manis kini menjadi pahit. Padahal belum genap sebulan kau pergi. Aku merasa beruntung karena bisa menyusun kata, hingga aku tak perlu bermuram durja pada diriku sendiri.

Bagiku namamu bukan sekadar sebuah inisial. Tapi adalah inspirasi. Bagai embun yang dirindukan dedaunan di pagi hari.  Aku masih mengingat saat kau menemuiku di koridor rumah sakit setahun lalu. Lidahku kelu. Ototku menjadi kaku. Tak mampu menjawab apapun yang kau katakan. Kupikir kau akan selalu ada untukku, memberiku kekuatan seperti hari itu, terus mendukungku tanpa perlu mempersoalkan tentang jarak dan waktu.  Rupanya aku salah. Kau bahkan lebih dulu pergi dari yang aku harapkan.

Aku telah kehilanganmu, teman bertengkarku. Kita takluk pada takdir. Atau hanya aku? Aku tak pernah tahu jawabanmu, karena kau keburu pergi.

Selamat jalan....
Pergilah ke mana angin menerbangkan anai-anai
Mungkin di sana kau akan menemui makna dari kehilangan

Bergeraklah ke mana air menghanyutkan daun-daun
Mungkin di sana kau akan menemui makna sebuah pertemuan

Bergegaslah ke mana angin menerbangkan pasir-pasir
Mungkin di sana kau akan menemui makna sebuah keikhlasan

Selamat jalan....
Saat tersesat kau hanya perlu memutuskan;
melanjutkan atau kembali pulang

Saat berlayar kau hanya mempunyai kemungkinan;
sampai ke tujuan atau  karam bersama ombak yang menggulung

Saat mendaki kau hanya punya pilihan;
berpegangan erat atau kau akan tergelincir

Selamat jalan....



Previous Post
Next Post

Coffee addicted and mother of words

0 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)