Langsung ke konten utama

Akhir Kisah Bulan Juni

ilustrasi @flipsnack.com

PADA akhirnya aku ada hanya untuk mengantarkan kepergian Juni. Tahun ini, semua pertanda itu telah terlihat sejak Maret hadir. Maret, yang seharusnya menjadi awal dari musim panas justru takluk pada mendung yang muram. Mentari hanya bisa kusaksikan di antara awan yang menggumpal dan butir hujan yang menumpuk.

Di bulan April, aku melewatkan kuning-kuning bunga angsana yang mekar begitu saja. Aku tak ingat menyesap wanginya yang abstrak. Aku bahkan tak memahami ketika bunga-bunganya yang kuning lebat itu berguguran satu persatu. Dan daun-daunnya kembali memuda lagi rimbun. Bukankah semua itu pertanda?

Di bulan Mei, kita sempat berbasa-basi sebentar. Saat mentari belum sempurna terbit ketika itu. Di antara kelopak mata yang masih enggan mengembang. Ya, basa-basi yang ternyata hanya mengantarkanku pada Juni yang kaku lagi beku.

Di bulan Juni, aku sadar bahwa semua ini telah begitu renta. Anggaplah ia sebatang pohon, pernah begitu rindangnya, pernah begitu hijaunya, lalu tiba-tiba menjadi kering dan mati di hadapan kita. Aku ingin sekali bertanya, begitukah kita memperlakukan Juni?


Saat kita tak pernah lagi membicarakan tentang Maret dan Juni, lalu apalagi yang bisa kita harapkan dari sebuah pertautan ini?

Entahlah, mungkin inilah kisah orang-orang di kampung pesisir. Suatu hari mereka menemukan seorang pelaut terdampar dalam kondisi memprihatinkan. Hatinya hancur lebur karena nyaris kehilangan harapan. Di kampung pesisir ini si pelaut seperti menemukan dirinya yang hilang. Semangat hidupnya perlahan ia tata kembali. Luka hatinya berangsur pulih. Dan setelah itu ia bersiap untuk pergi. Maka melambaikan tangan adalah cara terbaik melepaskan kepergiannya.

Tentu saja ada gerimis yang jatuh. Mungkin dari mata seseorang. Tetapi ia telah memutuskan untuk berhenti mencintai.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…