Langsung ke konten utama

Untung Rugi Promosi Blog di Media Mainstream

ilustrasi @juragancipir.com


Setiap blogger pasti ingin eksis (baca: terkenal). Postingannya diharapkan selalu dinanti-nanti khalayak, dibanjiri komentar, apalagi kalau postingannya sampai dibagikan oleh pembaca. Ugh senangnya pasti bikin minta ampun, bikin makin semangat ngeblog ya? Bikin ketagian menulis, menuangkan ide dalam 'secarik' new entri.

Dampak positifnya juga nggak main-main lho, selain ranking yang bisa terus singset, popularitas bloggernya juga kian terdongkrak. Jangan heran kalau nama-nama blogger dewasa ini tak kalah populernya dari nama-nama jurnalis beken. Sebut saja misalnya Marischa Prudence yang eks jurnalis Metro TV itu.

Pertanyaan berikutnya adalah, apa yang perlu dilakukan agar blog kita dikenal banyak orang, yang otomatis akan membuat pemilik blognya (blogger) ikut terkenal pula. Setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda-beda soal ini. Tapi lazimnya sih promosi di sosial media yang kita punya. Itulah mengapa blogger punya akun hampir di semua sosial media, walaupun teman-temannya nyaris sama semuanya :-D.

Belakangan ini promosi blog ternyata tidak hanya bisa dilakukan lewat media sosial saja, tapi juga bisa dilakukan melalui media mainstream (media online). Tak bisa dipungkiri, pesatnya perkembangan media online ikut berdampak pada 'kehidupan' para blogger. Ya karena media mainstream itu menyediakan space khusus (baca: kanal) untuk menampung tulisan-tulisannya para blogger ini. Nggak perlu saya sebut apa kalian pasti sudah tahu khan... khan... khan....

Adalah Yudi Randa, Humas Gam Inong Blogger yang tampaknya paham banget soal hal ini. Dalam sebuah diskusi di grup pada Selasa malam, 14 Juni 2016 lalu, Yudi si empunya blog hikayatbanda.com ini berbagi informasi terkait plus minus sharing blog di media mainstream. 


Hmm... jadi bertanya-tanya kan, kalau untungnya sih sudah jelas bisa menarik pengunjung yang sangat banyak ke blog kita. Bahkan, kata Yudi, bisa mendatangkan viewer hingga 10k lho! Wuihhh... dashyat.... kalau gitu ruginya di mana dong?

"Tapi ada satu hal yang harus kita ketahui. Kalau ternyata itu berdampak pada tingginya bounce rate kunjungan blog dan itu bisa berbahaya bagi blog di mata Google," kata Yudi mengawali 'kuliahnya' malam itu. 

Mengutip keterangan singkat di blognya jokosusilo.com dijelaskan, 
bounce rate adalah persentase pengunjung yang meninggalkan web/blog anda setelah hanya membuka satu halaman saja. Misal, pengunjung tersebut membuka halaman utama web/blog atau halaman tertentu web anda, namun tidak membuka halaman lainnya. Bisa dibilang, pengunjung yang masuk kemudian mental lagi.


Itu belum termasuk support backlink yang luar biasa dari setiap blog yang memasang banner si media tersebut lho. Parahnya lagi bila ternyata judu yang kita buat adalah judul viral yang seharusnya bisa naik ke page one Google, karena dimuat di media mainstream biasanya yang berada di puncak pencarian Google malah media itu, bukan blog kita. Kenapa? Karena dari segi rating tentu saja blog kita kalah dari media mainstrem tersebut.


iseng nyari kata kunci 'duda' ternyata ada link postingan terbaru saya di halaman satu Google



Tapi, bukan berarti tak bisa diakali kan? Artinya, si blogger tetap bisa menarik keuntungan agar nggak 'ketipu' dengan media promosi tersebut. Suami dari satu istri dan ayah dari dua buah hati ini lantas membagikan trik mencari selamat dari tenggelamnya blog karena pengaruh 'kalah saing' dari media mainstrem tadi.

"Dimuat di sana pasti sangat membantu, karena kita nggak perlu mengejar kata kunci. Jadi viewer yang tinggi akan membantu pendapatan blog yang ada adsensenya, viewer yang banyak ditambah visitor yang banyak bisa-bisa merampingkan Alexa dengan catatan mereka yang mau komentar. Lalu... share di media mainstream, kita bisa dapat backlink dari web besar dan linknya hidup ini laba besar sebenarnya tapi...."

Tapi... kalau salah share maka kitalah yang mati. Untuk menghindarinya kita bisa mengirimkan link tulisan kita setelah postingan dimuat di blog pribadi sekitar dua atau tiga hari. Lebih bagus lagi kalau udah berumur seminggu. Itupun setelah dishare secara manual ke berbagai sosial media dan bookmark, tapi bukan untuk mengejar adsense lho ya.


"Kenapa? Karena google harus mengindeks dulu artikel tersebut  sebagai kita punya. Dan sebagai artikel original. Baru setelah itu share ke media, begitu dipublish oleh media tersebut blog kita tetap di atas di halaman Google. Jadi, blog kita nggak tenggelam dalam pencarian Google," kata pria berkacamata ini.


Nah, sekarang udah tahu kan apa untung ruginya buat kita kalau share link blog di media mainstream, selanjutnya terserah kita mau mengambil sikap seperti apa. Tapi ingat yang paling penting adalah tetap menulis, menulis, menulis![]

Komentar

  1. Saya sih ingin terkenal hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu alamiah Ubai, orang yang menulis nggak bisa menolak risiko 'ketiban' terkenal ini

      Hapus
  2. Aku ikut saran bang Yudi, kirim ke viva setelah dua-tiga minggu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ambil yang kira-kira saling menguntungkan untuk bersama :-)

      Hapus
  3. Sama sekali belum pernah kirim link ke media mainstream. Hehe tapi penjelasan Kak Ihan detail dan ringan. BTW lama ga bw kemari, rasanya terakhir x bw masih nulis yg melankolis gitu. Kangen aja diksi Kak Ihan yang aduhai itu 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. insya allah akan hadir kembali postingan yang 'begituan' Isni :-D

      Hapus
  4. Info baru ni buat newbie spt saya di dunia perbloggingan. Mantap deh bg. Hehe

    BalasHapus
  5. Thanks untuk rangkumannya, Han. Ubek2 diskusi ini di grup WA kita itu, tapi udah panjang kali di atas sana. Untung Ihan udah nulis. Tha.ks again, yaa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak, udah teringat siyy.... itu info menarik, makanya Ihan rangkum

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…