Langsung ke konten utama

Di Panca Inderaku, Wangi Tubuhmu Melekat

my beloved Z in frame
Pagi ini, aku bangun dengan wajah kusam, mata bengkak dan sembab, bekas air mata semalam. Ada lelah di batinku yang membuat tubuhku terasa berat, membuatku enggan beranjak dari kasur yang ringkih. Hawa dingin menambah kesan beku di hatiku yang memang telah beku.

Aku tak langsung teringat padamu, Cinta. Karena mengingatmu saat bangun tidur adalah ritual yang telah bertahun-tahun kulakukan, meski terkesan sepele namun aku mendapatkan energi dari ritual tersebut. Dan karena aku telah mengingatmu semalam suntuk, pagi ini aku ingin alpa sekali.

Aku terngiang pada pertanyaan semalam, dari seorang Alvin yang memiliki wajah kuning khas Rusia. “Apakah kamu benar mencintai dia?” Tanyanya di ujung telepon.

Sungguh, jika waktu tidak selarut semalam aku tidak ingin terjebak dalam diam panjang, yang membuatku tak mampu berkutik dan gugup meski kami sedang tidak berhadapan. Dan dengan diam itu lelaki keturunan rusia itu akan membuat kesimpulan yang jauh dari kesalahan.

“Tolong berikan handphonenya pada Zorro. Aku ingin bicara dengannya.” Kataku.

“Zorro sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, ia lelah. Kamu belum jawab pertanyaanku. Apakah kamu benar-benar mencintainya?”

“Jangan tanyakan itu padaku.”

“Aku tidak ingin kamu mempermainkan dia, dia mencintai kamu, aku yakin itu.”

Cinta, kukira ia ingin mempertanyakan itu sejak pertama sekali bertemu denganku, karena menurutku ia menaruh curiga atas sikap kita, mungkin, ia melihat bagaimana cara mata kita berbicara satu sama lainnya, dan  bagaimana cara aku mencium tanganmu saat engkau datang dan saat aku beranjak pergi.

Kurasa, ia memperhatikan gelagatku saat mencandaimu, dan saat aku menyerahkan lukisan wajah itu, kau masih ingat cinta? Saat kita duduk sangat berdekatan menyentuh sketsa wajahmu dalam bingkai minimalis itu. Aku sempat melihat senyumnya yang tak biasa soal itu.

Tapi ini bukan tentang Alvin, ini tentang kita, Cinta. Yang sering menaruh kesal pada keadaan yang tidak bisa ditolerir. Kita yang sering memohon pada takdir agar mau sedikit berpihak kepada kita, agar kita tidak perlu melalui lorong-lorong sembunyi hanya untuk menyampaikan bahwa kita menaruh rindu yang sama.

Ah Cinta, jika saja aku dapat berterus terang pada lelaki berwajah kuning itu seperti aku jujur padamu, betapa aku ingin meneriakkan di telinganya bahwa engkau begitu penting untuk hidupku, engkau adalah warna yang membuat duniaku ramai dan indah, engkau adalah anugerah terindah yang posisinya tidak akan bisa digantikan oleh siapapun, engkau lelaki paling istimewa dan aku akan selalu mencintaimu.

Memang, kadang-kadang aku terlalu emosional dalam mencintaimu, aku ingin kita terbang bagai burung liar yang tidak terikat oleh peraturan-peraturan adat, aku ingin sesekali kita bagai perahu yang melayari lautan tanpa perlu khawatir ada yang melihatnya, dan esoknya tidak muncul sebagai berita.

Tapi Cinta, lagi-lagi untuk kali ini kita mesti berdamai dengan diri sendiri, mencoba untuk mentolerir keadaan bahwa kita harus menghormati hubungan istimewa ini, dan, sekalipun semua orang tahu siapa engkau tetap tidak akan mengubah perasaanku untukmu, lelaki hebat yang telah mencintaiku dengan cara sederhana, namun begitu rumit untuk diaplikasikan.

Air mataku telah kering, menguap bersama matahari pagi yang menghangatkan tulang belulang kita, dan meski aku tidak dapat menciummu kali ini, tapi wangi tubuhmu selalu melekat di panca inderaku.

Komentar

  1. Karya ini pantas dinikmati oleh publik yang lebih luas. Karenanya perlu dipublish di media cetak nasional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thankyou bang Akmal :-) sukses selalu untuk abang ya

      Hapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis