Langsung ke konten utama

Puasa untuk melatih diri? Ah, yang benar saja

Ilustrasi belanja @merdeka
Ramadan hanya tersisa empat hari lagi, hari ini, besok, lusa, dan lusa raya. Artinya bulan penuh hikmah yang menjadi bulan penempa umat Muslim ini akan segera berakhir. Bagi yang benar-benar memaknai bulan Ramadan tentunya akan berakhir dengan kekhawatiran, masihkah tahun depan bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini? Atau sebaliknya, Ramadan berlalu begitu saja dengan berakhirnya ibadah puasa dan datangnya hari raya.

Bulan puasa juga sering diartikan bulan “latihan”, latihan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Dengan puasa kita diharapkan bisa merasakan kepedihan para miskin yang selama ini selalu hidup dalam kekurangan, kadang makan kadang tidak. Kadang punya uang kadang tidak. Kadang nyaris berpuasa setiap hari.

Tapi rasanya hal itu kok terdengar muluk-muluk ya? Setelah seharian berpuasa, sorenya banyak di antara kita (mungkin) berbuka dengan menu super wah yang bahkan di hari biasa pun jarang kita nikmati. Lihat saja, selama bulan puasa di setiap ruas jalan protokol tak ubahnya bagai festival kuliner yang menjual berbagai jenis menu, dan membuat air liur kita menetes. Dalam keadaan lapar mata kita ingin buru-buru buka puasa untuk menyantapnya. Lalu bagaimana mungkin kita bisa merasakan apa yang dirasakan para papa.

Yang paling menyolok adalah di hari-hari terakhir Ramadan. Pasar Aceh lebih mirip pasar malam. Antrian kendaraan roda dua memenuhi sepanjang trotoar, sedangkan kendaraan roda empat parkir sampai ke depan kantor PLN di Jalan Merduati. Di sepanjang jalan Diponegoro, Jalan KH Ahmad Dahlan, dan di Jalan Muhammad Jam, jangan bayangkan bisa berkendara dengan leluasa karena macetnya bikin kita berucap berulang kali. Terutama bagi pengendara yang merasa terjebak dan salah jalan karena niatnya bukan untuk berbelanja.

Di setiap toko orang-orang penuh sesak, di tangan mereka hampir semuanya menenteng plastik berlabel nama toko. Di emperan para pengemis juga tak mau kalah, sibuk menyodorkan timba untuk meraih “berkah” di akhir Ramadan kepada setiap pengunjung toko, swalayan, supermarket, atau mall. Jika beruntung mereka akan menerima sekeping atau selembar seribuan lecek, jika tidak maka mereka kembali menunggu para pemurah lainnya.

Jika begini, berhasil kah puasa kita sebagai ruang latihan pengendalian nafsu? Ahm… mungkin jawabannya ada di kantong belanjaan kita.

Mungkin kita tidak melakukan kedua hal di atas, tapi barangkali sikap kita yang tidak berpuasa. Misalnya tidak berpuasa dari memancing amarah orang lain, tidak disiplin pada kesepakatan bersama, dan sebagainya. Lalu, apanya yang akan dilatih dari berpuasa?[]

Tulisan ini telah ditayangkan di atjeh today

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…