Langsung ke konten utama

pantun kesepian

Banyak hari silih berlalu

Datang dan pergi membawa rindu

Di sini duduk aku selalu

Dalam dingin pagi yang sendu

Kekasihku entah kemana

Hilir mudik mengukur jalan

Tidak peduli aku merana

Mungkin akan mati perlahan

Pagi dingin senja berembun

Siang lengang kabut malampun turun

Hanya tangan menggurat pantun

Karena hati yang sedih gegetun

Ada awan di langit biru

Membuat mata urung menatap

Ada dendam dihati nan rindu

Lewat kata mungkinkah terungkap

Pinsil digigit mata menatap

Hati sakit duka meratap

Akhir cinta seperti gelap

Di atas bantal sayang terlelap

Libur panjang berujung harap

Tiada surat alangkah berduka

Berkata cinta janganlah kerap

Tiada dijawab jadi petaka

Mungkin kan sering mata berkaca

Karena rindu dalam terukir

Bukan karena buruk cuaca

Janji bertemu ternyata mangkir

Ada tanya di sudut hati

Apakah cinta akan berakhir

Bila nanti aku tlah mati

Tiada lagi mata berair

Kasihku pergi memburu berita

Mambawa kabur kupunya asmara

Setelah mengikat tali cinta

Hingga hati merah membara

Pagi sepi malampun kosong

Tidak bak dulu yang penuh harap

Berangkat sunyi pulangpun kosong

Hanya hampa selalu di dekap

Pantun cinta salinan tangan

Dari hati yang berdebaran

Sedikit bolehlah berangan-angan

Alangkah sedih bila bubaran

Salam likum lalu pamit

Jumpa hanya hitungan detik

Kasihku seperti dipingit

Apakah agar lebih cantik

Kasihku pergi seharian

Katanya sibuk ikut el es em

Meninggalkan aku sendirian

Apakah ia punya te te em?

Inilah kisah orang melayu

Kalau sedih ia berpantun

Bukan karena cintanya layu

Cara kesal yang agak santun

Bacalah baca duhai kasihku

Agar engkau bisa mengerti

Segini banyak sudah rinduku

Tapi ku hanya bisa menanti

Ohh......... L

(seperti yang dikirimkan seseorang)

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…