Langsung ke konten utama

Senandung Murung Bagi Negeri Ku

Apakah Tuhan tidak lagi sayang pada negeri ini? bukan, Tuhan sayang, karena itu musibah demi musibah diberikannya kepada negeri tercinta ini, negeri ini kaya, barangkali Tuhan hanya ingin kita menunaikan zakat dengan cara yang tidak biasa, dengan cara hilang harta benda, hilang keluarga dan sanak famili, aku teringat lagu masa kecil dulu, balon ku ada lima...meletus balon satu ...duarrr....hati ku sangat kacau...pagi ini, meletus lagi satu pesawat ku...duaarrr....hati ku amat sedih, sebab harga pesawat tak sepadan dengan harga balon merah kuning hijau, harga hati yang pecah karena balon tak setara dengan hati yang rusak oleh tubuh-tubuh yang gosong.

belum lupa kan dengan lagu...naik kapal kecil takut goyang-goyang...naik kapal besar tidak punya uang...hari ini, naik kapal kecil dan besar sama saja, sama-sama goyang sama-sama mengeluarkan banyak uang, sama-sama mengeluarkan nyawa, sama-sama menakutkan, sedemikan seraknya kah sudah negeri ini? terlunta-lunta, tertatih-tatih, aku ngerih, bahkan dalam tidur pun kadang mengigau "sayang....hari ini ada saudara kita yang musibah,..." sebuah suara gemetar dipagi hari.

menangiskah? air mata akhir dari segalanya kah? bukan, tawa, bahagia, canda, airmata, semuanya leburan rasa dan kumpulan kenikmatan, bisa sekarang bisa nanti, bisa didunia bisa diakhirat nanti. tapi kadang semuanya menjadi tidka berarti, lembaran-lembaran kain kafan ditukar dengan harga lima ratus perak!

aku ingin bersenandung kecil tentang negeri ini, ingin menyanyikan saja-sajak lagu ebiet g. ade, tapi aku tak hafal baitnya. adakah yang ingin membantu ku? tidak, aku ingin mereka-mereka itu membantu ku, mengeja dan mengajarkan ku berhafal. orang-orang kaya, orang-orang pintar, agamawan, semua,...bukan pada orang yang melarat yang untuk segenggam beras harus merampok.

bolehlah sekedar menyenangkan hati burung-burung kecil, agar ia sedikit leluasa terbang dari dhan-dahan kecil.
sajak kepada negeri yang basah, oleh air, oleh darah, oleh hujan

Komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

Pucuk Meranti SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah. Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar. Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yaki