Langsung ke konten utama

Nama Yang Menjadi Prasasti*

Di telinga istrinya, dulu berpuluh-puluh tahun yang lalu setelah ia menikahi Syaheera. Laki-laki itu pernah berjanji, berbisik mesra: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu. Lalu ia membisikkan kata-kata tersebut pada sebelah telinganya yang lain. Perempuan itu tersenyum senang. Hatinya bagai dihinggapi seribu Marpho Amattonte. Tubuhnya bergetar ketika lelaki yang sangat dicintai menyentuh kedua pundaknya. Lalu merengkuhnya dalam pelukan yang panjang dan damai.

Tetapi sekarang, setelah ia merasa umurnya tak lagi panjang. Laki-laki itu baru menyadari bahwa ia telah menjadi pengkhianat sejati. Ia telah melanggar janjinya sendiri. Celakanya, ia baru menyadari semua itu sekarang. Ketika ia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, lalu memeluk Syaheera dan berkata: aku akan selalu mencintaimu. Akan selalu setia padamu.

Lelaki itu terdiam dalam tidurnya. Ranjang termahal yang dulu ia beli beberapa bulan setelah menikah telah menopangnya selama puluhan tahun tanpa pernah mengeluh. Tempat tidur itu tidak pernah marah, memaki ataupun mengadu, padahal ia tahu sepanjang tahun-tahun yang lalu laki-laki ini sering memikirkan perempuan lain ketika menjelang tidurnya. Ia telah menggrafir sebuah nama selain nama istrinya dan membiarkannya bersemayam di hatinya.

Pun sekarang, ketika laki-laki itu sering menangis diam-diam karena teringat pada perempuan yang bukan istrinya itu. Tempat tidur ini tidak pernah menyalahkan atau menghujat. Walaupun ingin sekali ia memberitahukan semua itu kepada Syaheera. Tetapi ia hanya bisa diam dan diam. Sebab Tuhan sudah mentakdirkannya sebagai makhluk mati.

Laki-laki itu terbaring gelisah. Hatinya bergemuruh hebat mengenang perempuan kekasihnya itu. Belahan jiwanya yang lain. Kemanakah dia sekarang. Tidak tahukah dia kalau laki-lakinya kini terbaring lemah tanpa daya. Tak berdaya menahan benih-benih penyakit yang telah menjadi orok dalam setiap rongga tubuhnya. Bukan hanya satu. Oh…mengapa laki-laki itu terbit kembali rindunya sekarang. Setelah berpuluh-puluh tahun mereka tidak pernah bertemu. Tidak pernah bertukar email ataupun short messege service.

Ah, hatinya teriris mengingat perempuan itu akhirnya memilih menikah dengan laki-laki lain. Setelah merengek-rengek ijin darinya. Dan dengan berat hati ia member ijin ketika itu. Walaupun ada ketidak relaan untuk melepas kekasihnya tetapi ia harus bisa. Karena jauh sebelum ia merasa kesakitan seperti ini telah dahulu berkali-kali ia membuat perempuan itu sakit. Melukai hatinya, mengirisnya dengan sikapnya, mengerat-ngerat hatinya dengan kabar istri dan anaknya. Ah, mengapa baru kali ini lelaki itu mengerti tentang kecemburuan dan sakit yang dirasakan perempuan itu. Beginikah? Dan perempuan itu kembali menggadaikan dirinya dengan menikahi laki-laki lain.

Laki-laki itu menyeka air mata yang meleleh di pipinya. Sejenak tangannya turun meraba pipinya, hidung, lalu naik ke matanya. Dan turun lagi ke dagu, bibir. Berkali-kali dan ia menemukan banyak keriput disana. Ia tak muda lagi, tidak segagah dulu. Apakah perempuan itu masih mencintainya bila nanti ia melihatnya. Tetapi kapan? Ia menjadi ragu. Setelah 23 tahun yang lalu, apakah cinta gadis ini masih belum berubah untuknya? Seperti yang sering diucapkannya. Ah, lagi-lagi mengapa ia berharap kesempurnan dari orang lain. Sedangkan ia tak pernah memberinya kesempurnaan apapun untuk perempuan itu. Yang usianya terpaut 19 tahun dengannya.

“Aku takkan pernah bisa menjadi suamimu.” Ucapnya dulu, ketika suatu hari mereka bertemu.
“Aku juga tidak pernah berharap banyak untuk itu.” Perempuan itu menjawab lirih. Laki-laki itu tahu ia berbohong. Matanya tidak bisa menutupi itu. Ia menunduk, berperang melawan gejolak hatinya.
“Lalu?”
“Aku hanya ingin mencintaimu. Mengukir namamu lalu mengubahnya menjadi prasasti. Dan suatu saat, kelak bila kita diperkenankan bertemu kembali. Kamu masih melihat prasasti itu senantiasa menggantung di mataku.” Perempuan itu berujar.
Betapa lirih ucapannya. Hanyut dalam kebekuan dan kesunyian yang tercipta dalam keheningan. Laki-laki itu bagai terbang. Terbuai indah dengan ketulusan dan kebesaran cinta gadisnya. Ia ingin bergerak, menyentuh dan memeluknya. Tetapi rasa bahagia yang telah memakunya seperti pualam membuatnya berubah seperti arca. Hingga gadis itu pergi. Hilang bersama angin, ia masih di tempatnya. Termangu meresapi setiap kalimat yang dikirim kepadanya berapa saat yang lalu.
Itu adalah masa 17 tahun silam. Dan sekarang ia makin sukar untuk menenangkan jiwanya. Betapa ia sangat ingin melihat gantungan prasasti dimata perempuan itu. Masih adakah? Atau cerita pada masa itu hanya untuk membuat ia senang semata. Kelebat perempuan itu menjelma bagai angin, masuk dalam relung jiwanya.
***
Segera laki-laki itu memejamkan matanya ketika terdengar pintu kamar berderit. Syaheera datang dengan segelas juice wortel di tangannya. Istrinya yang tak pernah kekeringan sumber cinta. Yang tak pernah bosan melayannya dengan kualitas cinta nomor satu di dunia. Bahkan mampu mengalahkan cinta Juliet kepada Romeo.
Pelan perempuan itu menyentuh dahinya. Lalu dikecupnya dengan lembut. Ia sangat beruntung bias mencintai lelaki sekharismatik suaminya. Hidupnya selalu basah dengan cinta dan kasih sayang. Kemesraan selalu membalut hidup mereka. Mengantar mereka pada pasangan paling romantis dan membuat siapa saja akan cemburu. Dan…tentu saja perempuan itu.

Lelaki itu masih terbaring dengan mata terpejam. Sesungguhnya ia sedang tidak tidur. Ia hanya merasakan saja ketika tangan lembut istrinya memijit kepalanya. Ia menikmati semua itu dengan jiwa yang melayang, memeluk bayang perempuannya. Ia semakin ingin bertemu. Ingin mencari kebenaran tentang prasasti itu. Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin ia akan melakukan perjalanan seperti dulu. Menempuh jarak 15 jam lamanya hanya untuk menenangkan riak di hatinya.

Tiba-tiba terbersit sesuati di benaknya. Bagaimana kalau perempuan itu saja yang menemuinya. Maukah dia? Tapi bagaimana dengan suaminya, apakah ia mengijinkan? Lalu anak-anaknya? Ternyata semua itu tidak semudah yang ia pikirkan. Dan…apakah istrinya juga mengijinkan ia bertemu dengan perempuan lain? Apakah ia tidak akan curiga nanti. Pasti aka nada pertanyaan apa, siapa mengapa dan….. laki-laki itu menjadi pening.
***

Hari ini hari ke sepuluh ia bergulat dengan alam pikirnya. Antara istri dan kekasihnya saling bertabrakan dalam selongsong jiwanya. Setelah begitu lama tidak bertemu dirinya tidak yakin apakah ia masih pantas dipanggil kekasih. Tiba-tiba kematian yang telah ia persiapkan ini menjadi ingin diubahnya. Ia tidak ingin mati sebelum bertemu dengan perempuan itu. Berkali-kali dalam doanya ia meminta kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan beberapa waktu lagi. Dalam setiap doa Rabithahnya ia terus mengingat nama perempuan itu agar jiwanya bergetar. Dan mereka dipertemukan oleh kekuatan doa itu.

“Kenapa Abang sangat gelisah?” Tanya istrinya, berpuluh tahun menyelami jiwa lelaki itu telah membuatnya sangat hafal dengan perangainya. Kesedihan dan kebahagiaannya tidak akan bertukar tempat dalam ingatannya. Tetapi mengapa ia gelisah, itu yang terus mengganggu pikirannya beberapa hari ini. Laki-laki itu masih diam, larut dalam pikiran rumitnya. Apakah ia harus berterus terang, atau berbohong .
“Abang?” Syaheera menyentuh lengan suaminya.
“Ya,…” Jawabnya lemah, antara ingin meneruskan dan tidak.
“Sudah beberapa hari ini abang terlihat gelisah, ada apa? Apakah aku sudah tidak pantas lagi untuk abang jadikan tempat berbagi rasa?” Tanyanya berterus terang.
“Bukan, bukan begitu, jangan berfikir macam-macam. Abang hanya khawatirkan kamu dan anak-anak. Bagaimana bila Abang sudah tidak ada nanti…” jawab lelaki itu berusaha menutupi gelisahnya.

Berbohong adalah pilihan untuk keadaan serumit ini. Tapi sayang, istrinya sudah cukup mafhum dengan tabiat suaminya. Ia tahu, ada yang disembunyikan oleh suaminya.
“Kalau soal aku dan anak-anak, abang tidak perlu khawatir. Semua yang hidup akan mati, dan kita semua sedang mempersiapkan diri untuk itu bukan? Agar kelak di surga kita bisa berkumpul kembali, Menjemput keabadian.” Jawab istrinya bijak ” Tapi adakah yang lain, yang aku tidak ketahui?” Tanyanya lagi dengan lembut dan hati-hati.
Laki-laki itu menatap istrinya, dalam. Sedalam samudra Hindia yang dulu pernah ia arungi ketika menjadi salah satu atlit olah raga air. Adakah istrinya menyimpan sesuatu tentang dirinya? Ia bingung berkali-kali bagaimana harus bersikap. Diambilnya tangan istrinya. Diciumnya lalu diletakkan diatas dadanya.

“Aku ingin bertemu seseorang sebelum kematian menjemputku,” akhirnya ia berkata. Berterus terang.
“Dengan siapa? Indra, Haris, Maimun….?” Syaheera menyebut satu persatu nama teman dekat suaminya. Tapi lelaki itu masih menggeleng. Membuat ketidak mengertian Syaheera semakin besar.
“Lalu siapa?” perempuan itu heran dengan gelengan yang lemah itu.
“Serunai”
“Serunai!” Ia terkaget, Serunai…. Ia mengingat-ingat. Selama ini tidak ada kerabat atau teman mereka yang bernama serunai. Siapa dia? Syaheera menebak-nebak. Tapi… ya, akhirnya ia tahu di mana pernah melihat nama Serunai. Di buku yang sering dibaca suaminya.
“Serunai penulis terkanal itu?” Tanyanya setelah yakin.
“Iya, Abang ingin sekali bertemu”
“Apakah abang sangat mengidolakan dia? Kenapa tidak minta bertemu dengan Andrea Hirata, atau Kang Abik, atau…. Cak Nun mungkin, mereka semua kan idola abang juga” seingatnya nama Serunai tidak pernah disebut-sebut suaminya sebagai tokoh idola sastranya. Tetapi kenapa dengan dia justru suaminya ingin betemu. Tapi…. Syaheera mengingat-ngingat. Buku yang ditulis oleh perempuan itu memang mendominasi koleksi buku-bukunya.

Ah, ia merasa ada yang aneh dengan suaminya, siapa Serunai? Ia tidak perlu menjawab. Tapi ada apa dengan Serunai, dan suaminya? Itu yang ia herankan, ia merasa sesuatu yang aneh merambati alam pikiranya tak perlu dipertanyakan lagi, siapapun akan jatuh cinta padanya. Begitu ia menyimpulkan.

***

Serunai mengatakan sebuah alamat kepada sopir taksi. Tidak sulit karena ia telah mengingat alamat itu berpuluh-puluh tahun yang lalu, yang ia pikirkan sekarang justru bagaimana bisa segera sampai ke sana secepatnya, ia tidak ingin terlambat sedikitpun tidak, maka, kegelisahan adalah teman paling sempurna dalam perjalanannya.
Setelah 17 tahun, bagaimana ia masih bisa sepeduli ini, merasakan takut kehilangan orang itu, ia terbayang akan sebuah suara yang meneleponnya semalam. Suara yang sama gelisahnya dengan dirinya, suara yang menyiratkan tidak ingin kehilangan orang yang amat dicintai, dan untuk itu ia akan melakukan apapun, karena itulah Serunai ada di sini.

Terpaku ia menatap bel yang terletak di sisi sebelah kiri pintu. Antara iya dan tidak, diliputi keraguan. Benarkah kehadirannya memang diinginkan? Tapi kalaupun iya, kehadirannya tentu tidak bisa menjadi obat bagi ajal yang dekat. Ia bergidik memikirkan itu, Ia tidak ingin terlambat sedetikpun dan …. Pintu terbuka.
Seroang perempan meyambutnya, berdiri anggun dengan raut muka yan susah ditebak, Serunai terpaku ditempatnya berdiri. Berharap perempuan itu mengatakan sesuatu kepadanya tapi kata sepertinya memang telah hilang ditelan antara campuran rasa marah dan bersalah, takdirkah ini? Pun ketika Tuhan mengirimnya ke kota ini 3 hari yang lalu untuk sebuah seminar sastra. Apakah Tuhan memang sudah men settingnya agar ia bisa bertemu dengan lelaki itu? Tapi dimana dia? Serunai masih di tempatnya. Dan perempuan itu masih menatapnya tanpa tanya.

Apa ini? Seperti mimpi. Mereka seperti terjerembab oleh parasaaan masing-masing, terasa berat untuk memulai sesuatu dengan kata-kata. Hingga akhrinya hanya isyarat yang membuat Serunai berani melangkah masuk. Mengikuti perempuan anggun tadi menuju kamar dimana laki-laki itu berbaring, lemah, hanya matanya yang terlihat bercahaya.

Serunai terbeliak, inikah lelaki gagahnya dulu? Cintanya yang telah membawa sengah jiwanya terbang. Betapa ….betapa ingin ia mengurangi beban itu, semuanya, tetapi kediaman telah membuat mereka hanyut dalam perasaan. Hening, hanya degub jantung satu sama lainnya saling bersahut-sahutan. Hening yang panjang, yang berubah menjadi leguhan dan tangis saat pelan-pelan ia menyaksikan bibir lelaki itu tersungging ke arahnya. Sementara di atas kepalanya ia melihat malaikat mengapung-ngapung seperti kapas.


2 November 2008
dipersembahkan kepada Z
Marpho Amattonte; kupu-kupu


* Cerpen ini sudah pernah dimuat di Koran Aceh Independen, edisi Ahad, 30 November 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…