Langsung ke konten utama

Ayahku Sayang

Ayah sayang…


Siang itu aku mengantarmu, tanpa memeluk dan mencium wajahmu seperti yang dilakukan oleh orang-orang dan Ijal, adik lelakiku. Aku mengintipmu dari balik jendela mobil yang akan membawamu ke barat negeri ini. Setelah mempersiapkan semua keperluan ayah dan ibu, waktu itu aku banyak merenung. Kupaksa bibirku tersenyum, kupaksa tegar hatiku. Tak ingin gambarkan takut dan luka hati ini. Hati kecilku berbisik ketika itu, mungkin siang itu adalah pandangan terakhir mata kita ayah, aku, anak perempuanmu, dan kau, ayah yang kubanggakan.


Aku berdoa, terus menerus, hingga mobil yang membawamu hilang dari pandangan. Dan jerit dalam hati kian lebar. Ketakutan menganga Yah, merajai ruang hatiku yang sempit. Semoga di barat negeri ini ada penawar atas deritamu. Semoga sakitmu cepat berakhir, Yah.


Kutinggalkan rumah nenek, tempat sebulan terakhir ayah menetap. Ini pula yang sering kutangisi, sakitmu membuatmu jauh dari rumah. Aku tahu kau begitu rindu pada rumah yang telah kau bangun dengan keringatmu. Tempat kita berkumpul menghabiskan suka dan duka, susah senang. Ayah, kau tahu, aku sudah menyiapkan kamarmu dengan baik, membeli sprei baru berwarna merah hati, memasang gorden baru dengan warna yang sama, bahkan aku berniat mengecat ulang kamarmu, Yah. Sebagai kejutan ketika ayah pulang dari rumah sakit setelah lebaran tahun lalu.

Kembali kutelan kecewa, sakit ayah tak kumengerti. Bingung! Mengapa ayah tak boleh pulang ke rumah sendiri? Mengapa ayah bisa kian parah bila ada di rumah. Aku tak mengerti, ada apa di rumah kita.


Ayah sayang

Ini adalah hari menunggu yang pertama,

Belum ada kabar apa yang dilakukan orang-orang di sana untuk menyembuhkan ayah. Dan aku semakin takut Yah…sangat. Aku menangis dalam diam.

Tetapi tangisku pecah, ketika menjelang pukul sepuluh pagi, Ijal menyuruhku untuk kembali membereskan kamar ayah. Aku bertanya mengapa, dan untuk apa? Kamar ayah sudah rapi, sudah wangi, aku sengaja membeli pengharum ruangan yang menurutku paling wangi. Lalu kusemprotkan setiap hari ke kamar ayah.

Ayah akan dibawa pulang. Kata ijal, yang kutangkap dengan makna lain. Maka, kamar adalah pilihanku ketika itu. Aku tak bisa menangis dengan teriakan. Maka air mata mengalir adalah luka paling perih ketika itu. Tapi, itupun tak lama, Yah.


Kau telah mengajariku ketegaran, dan hidup tanpa air mata. Karena itu aku tak menangis terlalu lama, Yah. Aku ke luar, membereskan rumah kita. Mengangkut kursi ke kamar belakang. Menggelar tikar. Orang-orang mulai datang. Menunggu kepulangan ayah. Aku menanti dengan gelisah. Lara yang kembali nganga dalam keguguan.


16 Januari 2008

Ayah sayang…

Lama sekali engkau datang.

Meulaboh – Idi Rayeuk bukanlah jarak yang dekat. Aku tahu itu, apalagi aku tahu mobil ambulans itu tentu tak akan membawamu dengan sembarangan. Mereka pasti akan sangat hati-hati sekali. Hatiku teriris Yah, membayangkan wajah ibu, dan wajah Diah, adik perempuanku yang mengiringmu sepanjang perjalanan. Air mata mereka mungkin telah kering, seperti keringnya ketakutan selama ini. Yang hancur berkeping-keping. Karena masing-masing telah bergelar menjadi status yang baru.


Ya Allah…

Menjelang pukul 10 malam ayah tiba. Tapi mesjid sudah dahulu ayah singgahi. Dan orang-orang menshalatkan ayah di sana. Aku mencium kening ayah dengan takzim, dengan air mata yang kutahan agar tak jatuh pada dahimu yang memerah. Begitu sempurnanya luka malam itu, Yah. Aku seperti mendengar rumah kita menangis jerit. Terisak pilu karena kehilanganmu. Rumah kita hampir tak muat, menahan orang yang ingin bersimpuh untukmu.


17 Januari

Aku seperti melihat bayangmu ayah, senja hari ketika matahari memerah di langit Tuhan.

Kau berdiri di pintu tengah, aku melihatmu dengan jelas. Tapi hanya sesaat, karena setelah itu aku lebih memilih tidur, badanku menghangat.

Ayah sayang…

Pun ketika pada malam-malam berikutnya kau sering datang dalam mimpiku, itu tak lebih sebagai petunjuk. Kau menuntunku, untuk tetap bekerja keras, mengajariku tentang tugas dan tanggung jawab. Aku ingat sekali, ketika aku bermimpi, ayah memberikan kemudi itu padaku. Padahal ayah kan tahu aku tidak bisa menyetir. Tapi itulah petunjuk, yang ayah kirimkan untukku.


Ayah sayang…

Kau tak pernah mengajariku berdendam, maka kulapangkan hatiku untuk memberi maaf pada pemberi luka untuk hidupmu, hidup ibu, hidup kami.

21:46 pm

03 dec 2008

Komentar

  1. wah... cepet banget..

    salut.... tuk Ihan...

    BalasHapus
  2. Innalillahi...
    Bersabar ya Ihan...Semoga beliau berbahagia di alam sana.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Meningkatkan Performa dengan Ponsel Premium yang Low Budget

Image by telset.id  Sebagai pekerja media, kebutuhan saya pada ponsel pintar bisa dibilang levelnya di atas kebutuhan primer. Bukan, saya bukan kecanduan pada smartphone , tetapi pekerjaanlah yang membuat saya sangat tergantung pada benda mungil itu. Begitulah teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan manusia, khususnya orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan internet seperti saya ini. Dengan perangkat mungil bernama smartphone, saya bisa dengan mudah memeriksa surel atau tulisan-tulisan dari rekan-rekan wartawan yang akan saya edit. Tentunya tanpa perlu membuka perangkat yang lebih besar lagi, yaitu laptop. Lebih dari itu, saya membutuhkan perangkat smartphone yang cukup untuk menunjang pekerjaan saya. Kecuali saat tidur, selama itu pula saya selalu terhubung dengan ponsel. Tak terkecuali di akhir pekan atau di tanggal merah sekalipun. Lagipula, siapa sih yang mau berpisah sesaat saja dengan ponselnya di era Revolusi Industri 4.0 ini? Berprofesi sebagai jurnalis