Langsung ke konten utama

Edukasi Bencana di Produk Kerupuk Teripang Raja Gubang

Kerupuk Teripang Raja Gubang @Bukalapak


KERUPUK teripang? Bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan nama olahan kerupuk yang satu ini. Tetapi bagi masyarakat Kabupaten Simeulue, ini menjadi salah satu produk UMKM andalan yang telah mengangkat nama kabupaten itu. Teripang merupakan jenis hewan laut dengan tekstur tubuh yang lunak (avertebrata) dan menyukai dasar laut. 

Di tangan kreatif warga Simeulue, hewan ini mampu disulap menjadi kudapan yang gurih dan bergizi tinggi. Produk ini turut menghiasi stan Kabupaten Simeulue dalam UMKM Expo 2019 yang dihelat oleh Dinas Koperasi dan UKM Aceh pada 22-26 November 2019 lalu di Banda Aceh.

Usaha kerupuk teripang ini dirintis oleh seorang pria bernama Zulfikar Zaintisa dengan istrinya yang dimulai antara tahun 2006-2007 silam. Kini telah lebih dari sepuluh tahun, produk yang dipasarkan dengan jenama Kerupuk Teripang Raja Gubang ini masih mampu bertahan. 

Saat berbincang-bincang dengan Sukma pada 23 November 2019 lalu, Zulfikar mengakui bila dalam merintis usaha ini ada tantangan tersendiri. Terutama dalam mendapatkan bahan baku, ia harus menyelam hingga kedalaman 30 meter di bawah permukaan laut. Apalagi saat cuaca buruk, tak jarang nyawa menjadi taruhannya. Itu pula yang membuatnya kadang-kadang juga membeli teripang dari nelayan yang harganya sangat mahal untuk kualitas terbaik, mencapai Rp3 juta per kilogram.

“Untuk produk ini kita menggunakan teripang kualitas terbaik,” ujarnya kepada Tabloid Sukma.

Selain teripang, bahan baku lain yang digunakan untuk mengolah produk ini adalah tepung sagu dan rumput laut. Diracik dengan rempah-rempah lain seperti bawang putih, sedikit gula dan garam untuk menambah cita rasa. Selain memiliki rasa original, Zulfikar juga membuat varian lain di antaranya kerupuk teripang rasa jengkol. 

“Kami tidak menggunakan penyedap, pengawet, maupun pewarna buatan, jadi ini sangat alami, sehat dan aman dikonsumsi,” ujarnya.

Teripang ini kata Zulfikar, tidak hanya nikmat di lidah, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan seperti kandungan kolagen yang dipercayai mampu memperbaiki sel-sel tulang rawan dengan cepat, membantu percepatan penyembuhan luka, reumatik, encok, asam urat, diabetes, maaf, dan hepatitis. 

Saat ekspo digelar, Zulfikar tidak hanya menyajikan kerupuk untuk pengunjung, tetapi juga sup teripang yang disajikan dengan campuran mi hun. Produknya juga sudah lulus uji LPPOM Majelis Ulama Aceh. Sehingga dari segi kehalalan tak perlu diragukan lagi.

 Saat ini, usaha yang dikelola Zulfikar mampu mempekerjakan enam pegawai yang sebagian besarnya adalah keluarganya sendiri. Pria itu mengaku memiliki ketertarikan khusus pada semangat berwirausaha, oleh karena itu setelah menikah ia fokus mengembangkan usaha berbasis bahan baku lokal.

“Walaupun untuk saat ini produk kami masih dipasarkan di Aceh dan sesuai dengan permintaan konsumen saja, apalagi ini produk baru bukan seperti kopi yang memang sudah dikenal luas, membuat produk ini memiliki tingkat kesulitannya sendiri,” ujarnya. 

Namun, yang disyukuri oleh Zulfikar, pemerintah telah turun tangan dalam membantu usahanya melalui dukungan peralatan dan melibatkannya dalam pameran-pameran UMKM seperti itu.

Dengan distribusi produk yang masih terbatas, omzet yang didapatnya masih berkisar di angka Rp3-5 juta per bulan. Soal distribusi ini kata Zulfikar, turut dipengaruhi oleh letak Simeulue yang masih sulit dijangkau. Memerlukan waktu lama untuk sampai ke sana. Ia mencontohkan, kalau dari Banda Aceh bisa sampai dua harian baru sampai ke Simeulue, itu pun tergantung cuaca.

“Jadi kalau ingin berkunjung ke Simeulu itu harus mempunyai mental baja,” kata Zulfikar lagi sambil tertawa ramah.

Namun sebagai pengusaha ia mengaku harus siap dengan segala kondisi. Oleh karenanya, meskipun jarak yang cukup jauh, tetapi ia bertekad bisa berpartisipasi dalam event yang digelar Pemerintah Aceh ini. Dengan begitu produknya bisa semakin dikenal luas oleh masyarakat.

“Saya berharap pasar-pasar UMKM diperbanyak, ini bukan saja untuk memperkenalkan produk lokal, tapi juga membuat usaha masyarakat hidup,” katanya.

Menariknya, Zulfikar juga menyelipkan pesan-pesan edukasi mitigasi bencana dalam produknya. Ini merupakan terobosan baru dalam pengemasan produk UMKM. Melalui inovasi ini Zulfikar setidaknya telah mengajarkan kepada kita bahwa kearifan lokal yang mengangkat nilai-nilai maupun pesan-pesan tradisi bisa disandingkan di mana saja.

Berikut syair yang terdapat di kemasan produk Kerupuk Teripang Raja Gubang:

Smong dumek-dumekmo

Linon uwak-uwakmo

Elai kedang-kedangmi

Kilek sulu-sulumo

 

Tsunami mandi-mandimu

Gempa buaian-buaianmu

Gemuruh gendang-gendangmu

Petir cahaya-cahayamu


Tibo nelinon fesang

Uwek asen suruik

Mahea kumuding mek delong

Saat gempa datang

Air laut surut

Segera lari ke gunung



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n