Langsung ke konten utama

Zenja, Kuceritakan Padamu Secarik Kertas Rahasia

ilustrasi @google 

Zenja,
Ketika diam menjadi syarat, bisakah kita membatalkannya?
Mungkin demi riuh!

Zenja, kira-kira apa yang ada di benak mentari yang belakangan ini terus dikurung cakrawala? Saat aku terbangun di pagi hari, kudapati langit berwarna kelabu. Begitu juga ketika jarum jam berada di pukul dua belas. Harusnya mentari sedang berada di pucak kegarangannya. Yang kilaunya membuat kita terpicing berkali-kali. Membuat kita ingin berteduh dan merindui angin yang bergerak semilir.

Hingga jarum jam bergerak di pukul enam belas, langit masih tetap kelabu. Harusnya ia sedang berwarna jingga, atau emas, atau saga. Dan kilaunya di permukaan laut bagai tumpukan mutiara atau batu permata. Membuat siapa pun yang menyaksikannya akan terkagum-kagum.

Tetapi akhir-akhir ini kudapati langit lebih sering kelabu. Awan terus saja melahirkan butir-butir hujan yang ritmik. Angin berdesau lebih kencang dari biasanya. Malam terasa lebih cepat datangnya. Dan saat malam hadir kita juga tak menyaksikan wajah bulan di kejauhan sana. Bintang-bintang pun memilih meringkuk di ketiak waktu.

Kalau boleh aku menerka-nerka. Barangkali mentari juga tak ingin terus terkurung. Pastilah ingin memberontak. Melepas belenggu dan memunculkan dirinya di antara derasnya hujan. Jika itu ia lakukan, kira-kira apa yang akan terjadi di bumi? Mungkin keriuhan yang teramat sangat, kekhawatiran, rasa cemas dan waswas, dan ketakutan. Oh, mungkin karena itu pula mentari menahan gejolaknya untuk terbit bersamaan dengan mendung yang hebat atau hujan yang parah. 

Zenja, pernahkah kau terfikir bahwa mentari sebenarnya juga ingin sesekali melawan takdir? Tapi ia tak kuasa, tak kuasa pada yang telah menciptakan dirinya. Untuk itulah ia terus patuh. Agar bimasakti tetap terjaga keseimbangannya.

Padahal, sekali waktu mentari pernah berbisik padaku. Lewat angin setelah petang ia pernah sampaikan, bahwa salah satu kebahagiaannya adalah melihat rembulan muncul. Sementara pada saat itu ia sedang tergesa-gesa untuk kembali ke ufuk barat. Ia sangat bahagia meskipun yang selalu disaksikannya adalah wajah bulan yang pucat, tanpa rona sedikitpun. Ia juga sangat bahagia bisa memberikan sedikit cahayanya pada rembulan. 

Saat keduanya berpapasan mentari tak bisa menyembunyikan perasaannya. Hatinya berdegup kencang. Tetapi ia tak bisa memperlihatkan wajahnya kepada rembulan. "Saat kami bersatu semua makhluk akan ketakutan," begitu kata mentari kepadaku.

Aku tak bereaksi apa-apa pada pernyataan mentari ketika itu. Hanya diam. Tapi, Zenja. Ada satu hal yang kupelajari dari sikap keduanya. Mereka -meski tak bisa bersama- tetap saling mendukung, saling bekerja sama, saling memberi semangat, saling mendoakan dalam diam, saling merindukan, saling mencintai sepenuh hati, saling bersabar, saling setia.

Di ambang senja, saat keduanya berpapasan secepat kilat, mereka saling melempar secarik kertas yang ditangkap dengan sigap. Isinya singkat saja. Kepada rembulan mentari menuliskan begini; kupercayakan malam padamu wahai kekasihku. Hiburlah semua makhluk dengan keanggunan dan kesantunanmu. Sementara kepada mentari rembulan menuliskan begini; istirahatlah kekasihku, sesungguhnya pekerjaanmu lebih berat dariku. Terimakasih telah menitipkan secercah cahayamu dalam diriku. Dan dengannya aku menjadi ada. Menjadi berarti.

Ketika diam tak lagi menjadi syarat, 
Maka tak ada lagi kesakralan yang tersisa
~Zenja~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

I Need You, Not Google

Di era kecanggihan teknologi seperti sekarang, mudah sekali sebenarnya mencari informasi. Kita tinggal buka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu bisa berselancar sepuasnya.
Saking mudahnya, kadang-kadang kalau kita bertanya pada seseorang dengan topik tertentu tak jarang dijawab: coba cari di Google. Jawaban ini menurut hemat saya ada dua kemungkinan, pertama yang ditanya benar-benar nggak tahu jawabannya. Kedua, dia malas menjawab. Syukur dia nggak berpikir 'ya ampun, gitu aja pake nanya' atau 'ni orang pasti malas googling deh'. 
Kadang kita kerap lupa bahwa kita adalah manusia yang selalu berharap ada umpan balik dari setiap interaksi. Ciri makhluk sosial. Seintrovert dan seindividualis apapun orang tersebut, dia tetap membutuhkan manusia lain.
Selengkap dan sebanyak apapun 'jawaban' yang bisa diberikan oleh teknologi, tetap saja dia tidak bisa merespons, misalnya dengan mengucapkan kalimat 'gimana, jawabannya memuaskan, nggak?' atau saat dia me…