Langsung ke konten utama

Sepakbola dan Pemenang Sejati


SAMPAI detik ini saya belum menemukan di mana letak 'kenikmatan' menyaksikan pertandingan sepak bola. Sekalipun pertandingan itu sekelas World Cup yang paling ditunggu-tunggu umat manusia sejagat.

Ya, saya kerap terheran-heran saat melihat orang-orang di sekeliling saya begitu antusias menunggu jadwal pertandingan sepak bola. Apalagi jika yang akan bertanding merupakan klub-klub sepak bola tersohor. Tentunya dengan pemain yang sudah menjadi bintang kelas dunia. Bukan lagi sekelas 'tarkam'.

Saya juga tak habis pikir saat seorang remaja perempuan tiba-tiba merajuk. Hasratnya menonton pertandingan antara Indonesia vs Thailand di Piala AFF gagal total, gara-gara adik lelakinya ingin menonton  film The Edge di chanel yang berbeda.

Kini bola bukan hanya milik laki-laki, tapi juga milik kaum perempuan. Sayangnya, saya belum bisa menyukai bola seperti saya menyukai senyumnya Neymar yang manis.

Bagi saya, yang menarik justru setelah pertandingan selesai. Menarik membaca berbagai status di time line media sosial. Menarik mencermati bagaimana seorang penggemar meluapkan kegembiraan ketika tim jagoannya menang. Pun sebaliknya, letupan emosi tersurat dengan jelas lewat umpatan-umpatan manakala tim yang didukungnya dengan setengah hati kalah dengan 'cantik'.


Layaknya sebuah pertandingan sepak bola, begitulah kehidupan kita sedang berlangsung. Ada banyak mata yang sedang menanti 'pertarungan' kita di arena kehidupan ini. Mata-mata itu menunggu dengan cemas, dengan perasaan waswas, penuh harap. Apakah seseorang yang sedang bertarung di arena kehidupan ini bisa memenangkan pertandingan atau justru kalah.

Seorang mahasiswa yang tak kunjung mendapatkan gelar sarjana, seorang sarjana yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan, seseorang yang sudah bekerja namun belum juga bisa menaikkan status sosialnya, pasangan yang tak kunjung mendapatkan keturunan, seorang suami yang tak pernah bisa memenuhi kebutuhan keluarganya secara layak, seorang perempuan yang sedang menanti jodohnya, orang tua yang berharap mendapat kebahagiaan dari anak-anaknya, atau seorang istri yang tak pernah pandai meracik rempah.

Mereka semua ibarat atlet sepak bola yang sedang bertanding di lapangan masing-masing. Orang-orang di sekitarnya adalah penonton yang sedang menanti kapan mereka akan mencetak gol. Di antaranya ada yang berteriak, bertepuk tangan, bersorak sorai memberi semangat. Memberi isyarat agar terus bergerak, bergerak, bergerak, melaju, melaju, melaju. Jangan pedulikan hambatan! Fokus!

Namun tak sedikit juga yang meragukan, meremehkan, menyepelekan, bahkan mencibir, ketika 'bola' yang ditendang melenceng dari gawang.  Bahkan saking derasnya menerima 'kiriman' emosi negatif, petarung yang harusnya bisa menang justru jatuh, terpuruk, tak bisa bangkit lagi.

Sungguh, menjadi petarung itu berat. Risikonya ketika kalah dianggap pecundang. Padahal si petarung sudah mengerahkan seluruh energinya untuk berlaga. Jika kita tidak bisa mendukung seseroang karena suatu alasan, janganlah menjadi penghalang baginya.

Kekalahan mengajarkan dua hal; pertama, tentang KEBERANIAN menghadapi tantangan. Kedua, tentang KEBERANIAN menghadari cibiran. Hanya PEMBERANI yang siap kalah, karena mereka BERANI mencoba. Dan mereka yang BERANI bangkit setelah kekalahannya adalah PEMENANG SEJATI.[]

Komentar

  1. Sedihnya saya nggak bisa main bola dan selalu dianggap kurang perkasa :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakbola itu cuma salah satu cabang olahraga, jadi nggak perlu sedih. Dan, eh, keperkasaan bukan di bisa atau enggaknya bermain bola kok hahaha

      Hapus
  2. Jelas Liga champions nomer 1, saya sudah rutin setiap tengah pekan walaupun mainnya selalu waktu maling beraksi. Itu sudah berlangsung sejak usia 8 tahun. Kalo disuruh milih, main bola seperti jauh lebih menarik. Buktinya seminggu intensitasnya bisa tiap hari.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.