Langsung ke konten utama

Pesan Kepada Teman

"Salam. Terimakasih telah mengantarkan kopian Meretas Jalan Menuju Jingga
(saya menunggu2 anda online dari kemarin).
Saya betul2 gak menyangka, anda menitip itu untuk saya, saya kaget bercampur senang (beberapa saat kemudian terharu), teringat perjuangan anda menulis itu, dan perjuangan anda mengantarnya untk saya. Saya sudah membaca semuanya.
Terimakasih telah berbagi kpd saya.
Jika nanti anda sdh online, saya ingin dengar cerita anda kala mengantarnya kpd saya"



Empat baris pesan muncul dalam bentuk offline message begitu saya membuka program yahoo messenger dilayar komputer. satu dari empat itu tidaklah terlalu menarik untuk diperhatikan, bahkan langsung saya delete tetapi tidak untuk tiga pesan lainnya yang dikirimkan oleh nick name yang sama. membaca pesan tersebut membuat saya serta merta ingin menangis dan mengeluarkan air mata sebanyak-banyaknya. namun karena ditempat umum dan di ruangan terbuka itu tidak mungkin untuk dilakukan. menangis didepan orang? adalah hal yang tidak mungkin saya lakukan dan tidak ingin saya lakukan kecuali dia adalah orang-orang pilihan bagi saya.

karenanya, yang terbaik untuk saat itu adalah memilih rest room sebagai tempat yang tepat untuk mengeluarkan semua air mata yang mulai menggenang saat kalimat terakhir selesai saya baca. aneh sekali. saya merasa cengeng, sangat cengeng bahkan sejak Meretas Jalan Menuju Jingga selesai ditulis. menangislah saya sepuasnya di kamar mandi, beruntungnya kondisi kamar mandi tersebut bersih dan nyaman sebagai fasilitas yang disediakan untuk umum.

tapi bukan soal itu yang ingin saya ceritakan, melainkan perihal cerita saya yang ditunggu oleh seorang teman tersebut. anggap saja ini sebuah kejutan baru untuknya. aktivitas yang semakin padat akhir-akhir ini membuat saya jarang sekali bisa online pada siang hari. paling itu baru bisa dilakukan setelah pukul tujuh malam. hal yang berbeda dialami oleh teman saya, ia bisa online mulai pagi hingga pukul enam sore. perbedaan inilah yang membuat intensitas kami "bertemu" menjadi berkurang dan oleh karenanya saya terpaksa "menitipkan" pesanannya di ruang tamu ini.

seorang teman, yang saya sedikit sekali mengetahui tentangnya, tidak tahu asal-usulnya, tidak tahu dimana ia tinggal, saya hanya tahu nama lengkapnya, dimana dia bekerja, sedikit tentang latar belakangnya sebagai aktivis, tapi tentu saja saya tidak akan mengatakan siapa teman saya itu. saya ragu apakah kami pantas disebut sebagai teman (atau mungkin sahabat?) mengingat serba sedikitnya pengetahuan kami tentang masing-masing tadi.

semua itu kemudian menjadi penting dan berarti saat ia menjadi istimewa dalam keseharian saya, dialog-dialog yang kami lakukan, seloroh, semua terasa hidup dan banyak menginspirasi saya dalam banyak hal. saya banyak belajar dari ketenangan dan kematangannya dalam berfikir. satu hal yang akan selalu saya ingat, dia hadir dalam hari-hari berat saya, menemani saya, termasuk dalam proses menyelesaikan Meretas Jalan Menuju Jingga. menenangkan saat saya dengan asertifnya mengemukakan apa yang saya maui dan inginkan. dia memang teman yang menyenangkan, tidak pernah menyalahkan, tidak pernah menggurui, tidak pernah mendikte, walaupun ia berhak melakukan itu mengingat usia kami yang memang terpaut jauh. karena itu saya menjadi sangat hormat dan menjunjung tinggi apa yang dulu pernah kami sepakati. dan dengan itu semua ia masih sering menerima kemarahan dan kejengkelan saya yang terkadang tidak masuk akal. mau mendengar jerit hati saya, mau merasakan tangis dan air mata terpendam saya, dan kadang iseng memberikan jalan keluar yang konyol. tapi itulah kelebihannya.


dari awal saya memang sudah berfikir untuk memberikan kejutan itu untuk nya. sejak itu terfikirkan oleh saya, saya hanya berharap agar ia masih bekerja ditempatnya yang sekarang sehingga tidak perlu repot-repot mencari-cari alamatnya untuk menitipkannya. karena itulah, begitu cerita tersebut selesai saya tulis, saya buru-buru mengeditnya lalu mem-print out nya hingga hampir pukul sebelas malam. menjelang tengah malam itu saya pulang kerumah dengan niat ingin menitipkan sesuatu dalam amplop besar berbentuk surat yang harus saya tulis tangan (saya sengaja tidak ingin mengetiknya). lalu barulah setelah itu saya mengirimkannya kepadanya.

tapi niat itu hanya sampai pada niat saja, karena begitu sampai dirumah saya kecapean dan sangat lelah. rasa kantuk yang luar biasa membuat saya tidak sanggup menuliskan apapun walau hanya sepotong tulisan untuknya. tapi alangkah tidak enaknya ditengah rasa kantuk yang mendera itu saya harus mengerjakan pekerjaan lain (bahan presentasi untuk esok hari) yang mau tidak mau harus saya selesaikan malam itu. dan selesai hingga akhirnya saya terkapar dilantai. semestinya kata-kata ini tidak dituliskan disini, tapi dihalaman kertas putih dengan tinta hitam yang saya punyai. tapi....

esoknya seperti biasa, saya memasukkan naskah tersebut didalam amplop besar. bercampur dengan isi tas yang lain. bahan presentasi, botol minuman, dua buah kotak pensil besar yang berbeda fungsi, dan cet berecet lainnya yang tidak perlu disebutkan satu persatu tapi sangat berarti demi kenyamanan beraktivitas.

maka sebelum pukul lima sore saya sudah berhasil menitipkan itu pada petugas khusus yang ada disana. tentunya setelah dua kali saya bertemu orang yang salah untuk menitipkan itu. saya memang bertekad ia harus menerima itu pada hari tersebut (tapi saya tidak tahu apakah dia menerimanya hari Jumat sore itu atau tidak).

"Titip ini untuk Bapak Bla bla bla..." kata saya sambil menyerahkan amplop. petugas tersebut mengangguk seraya mengatakan apakah saya perlu dibuatkan nota penerimaan atau tidak. dan saya menjawabnya tidak perlu. saya berfikir, kalaupun teman saya itu tidak menerimanya atau amplop itu hilang, berarti memang saya yang belum beruntung.

tidak ada perjuangan apa-apa untuk mengantarkan bungkusan itu kepadanya seperti yang ia katakan. hanya datang, menitipkan lalu menuju kantin dan memesan Peunajoh Raja disana. saya senang, telah memenuhi janji saya pada diri saya sendiri. dan saya senang, dia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya.

21:03
rumah cinta
28/8/07



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.