Kepada Laut, Engkau Kukembalikan

"Temani aku menemui Laut sore ini."

"Iya, tapi untuk apa?"

"Untuk membuang kenangan."

"Maksudmu?"

aku tak menjawab,dan kau sepertinya sedang tak ingin berdebat, maka pada pertanyaan sepotong-sepotong itu kau mengiyakan permintaanku yang setengah memaksa.

maka pergilah kita menemui lautan, ketika malam mulai menjelang, hanya sesaat sebelum aza magrib bergema memenuhi ruak-ruak jagat. dan kita sampai ketika awan telah merah, pertanda matahari telah sempurna habis terkulum oleh kerak-kerak langit.

"Apakah ini tempat yang pernah kita datangi waktu itu?"

"Iya, ini tempatnya, ada apa denganmu, mengapa tiba-tiba ingin kembali ke sini?"

aku tak menjawab, yah, ternyata memang ini tempatnya, batu-batu besarnya masih sama, gelombang ombaknya masih sama, debur iramanya juga, cicak-cicak lautnya, dan juga siput-siput yang menempel di bebatuan, tak ada yang berubah, aku ingat sekali, suatu petang di hari kamis, antara maret dan may, tahun lalu.

sama sepertimu, tak ada yang berubah, caramu mencintai, caramu menyayangi, caramu membuatku senang, seperti bebatu yang tak pernah gugup sekalipun lengang datang silih berganti.

menemui lautan adalah menemuimu. tapi kali ini aku tak ingin melebur dalam jasad dan ruhmu, aku tak ingin tahu apakah asinnya masih sama seperti waktu itu, aku tak ingin kecipaknya menghinggapi tubuhku, aku tak ingin, sebab aku tak mau kita kembali mabuk pada pertemuan yang membuat kita seperti pasang yang tak ingin pernah surut.

petang menjelang malam ini, ketika senyap datang dengan caranya yang maha, ketika desir angin benar-benar membuatku seperti hampir terkapar pada prosesi percintaan kita yang hebat, kau yang berasal dari lautan, maka kukembalikan kepada lautan, karena hanya laut yang dapat mencintaimu tanpa tendensi waktu, tanpat terjeda oleh kondisi dan keadaan, tanpa semua yang membuat kita tak mampu berbuat apa-apa.

kau yang telah lama bertengger di sela-sela jemariku, yang menjadi angin yang menerbangkan seluruh gundah, yang menjadi air yang memadamkan seluruh amarah, yang menjadi unggun yang selalu memberikan kehangatan, adalah yang telah membentuk gurat-guratnya sendiri, adalah yang telah membentuk takdirnya sendiri.

tak sebentar waktu untuk kau tetap utuh di sela jemariku, telah banyak keadaan yang melibatkanmu, ketakutan, kekhawatiran, rasa senang, bahagia, dan entah apa lagi, satu-satunya yang kita punya, setelah hari ini biarkan aku dengan gemuruhku dan engkau dengan gelombangmu.

aku menyaksikanmu sebagai dramatis tiga babak, melayang-layang melawan angin senja yang hebat, aku tak punya kekuatan untuk melemparmu hingga ke tengah samudera, maka kubiarkan kau jatuh dan terbenam di dasar lautan, terkulum ombak. itulah saat di mana aku telah mengembalikanmu dengan utuh.

Ulee Lheu

25-May 2011

Komentar