Doa restu

Aku bahkan tak sempat berfikir tentang kesedihan, dia yang hilang semalam serupa mentari yang akan kembali besok pagi, dengan cahaya dan kehangatan yang sama, paling, ia hanya tenggelam sesaat karena mendung mengurungnya dalam suasana semesta. Dan itulah yang kusebut sebagai ritme. Kehilangan adalah alpa sejenak.

Hatiku adalah tempatku bertanya, pantaskah rindu masih ditasbihkan untuknya? Dan selama itu masih memberi lega, aku tak dapat menolak apapun tentang sesuatu bernama takdir yang tengah hinggap di diriku. Rindu masih miliknya malam ini.

Aku tak akan membiarkan sepi terlalu lama meniduriku, karena aku tak ingin melahirkan sesuatu bernama diam. Maka pada kisah berikutnya, biarkan aku melanjutkannya dalam alur imaji. Biar kuselesaikan sendiri. Sesuatu yang berlaku tanpa syarat ini.

18 may 2011

midnight

Komentar