Langsung ke konten utama

Sehari Setelah Purnama


Selalu ada cerita yang membuat kisah kita tak pernah selesai. Sehari setelah purnama, matahari begitu lantang dan mengirimkan denyut di atas ubun-ubun. Melewati lorong-lorong sembunyi sehari setelah purnama, di pucak siang yang begitu gagah, memiliki nikmat berbeda daripada menyusurinya ketika langit baru saja basah, dan langit mulai temaram.
Debarannya terasa lebih kencang, sebab lorong-lorong yang kulalui sepi dari lalu lalang manusia, kesepian yang membuat mereka menaruh perhatian lebih kepada siapa saja yang melintasi mereka. Gemericik air terdengar lebih jelas, sebab mereka mendominasi suasana ketimbang beberapa manusia yang memilih untuk diam, berdialog dengan diri sendiri atau sekedar membolak-balikkan Koran, mengamati perkembangan politik terkini.
Dan suara ketukan sepatuku di lantai terasa semakin nyaring saja, seiring dengan berakhirnya lorong sembunyi, hingga akhirnya sampai di muara yang membawaku menuju dunia lain. Dunia di mana alasnya terbuat dari karpet tebal yang mewah dan lembut. Yang mampu menyirap suara gesekan sepatuku sehingga mampu meredam debar yang semakin kencang di dalam hati. Dunia yang jauh lebih sepi namun memberikan nuansa temaram yang nyaman.
Dunia yang ketika kulihat sosokmu, bagai memasuki pusaran air di samudera biru yang liar, segera aku tersedot ke dalamnya, dan ketika aku menyadari, aku telah terdampar di pelukanmu yang datar. Wangi kulitmu menyelusup ke rongga hidungku, bagai aroma lotus yang mampu memejamkan mata, sekaligus mengendurkan syaraf-syaraf.
Ya, sehari setelah purnama kali ini kita memiliki waktu lebih untuk sekedar bercakap-cakap. Memang masih bagai ombak yang terus dikejar gulungan berikutnya, kita pun terpaksa menyelingi antara menuntaskan rindu dengan pembicaraan politik mengenai kandidat gubernur. Simulasi pencoblosan menjadi semacam pertautan jari, jemariku yang tampak kecil bergelung di jari-jarimu yang besar dan agak kasar.
Kita bagai berlari dikejar dering-dering telepon penting dari orang-orang seberang, bibir kita menarik segaris senyum, sebagai bentuk persetujuan bahwa kita merasa terganggu. Tetapi kondisi itu hanya masalah peran yang telah biasa kita tuntaskan.
Kita pernah berlari sambil menautkan bibir, kita pernah berjalan sambil bersulang, masing-masing membawa cawan rindu berwarna ungu. Kita pernah melakukan semuanya, menyudahi ketergesaan dengan tenang, berjalan dan bersikap santai dengan hati yang dilanda amuk gemuruh. Apalagi hanya melewatkan sedetik waktu untuk menjawab telepon, lalu kita memiliki waktu yang panjang untuk menyelesaikan gelisah.
Ini dunia yang aku dapat melihat air bergemericik biru di bawahnya, dengan hanya menyingkap sedikit tabirnya aku mampu melihat matahari dengan utuh, berwarna jingga dan beranjak untuk lebih condong. Dan selebihnya adalah warnamu yang menyelubungi seluruh inderaku.
Rabu, 8 februari 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk. Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya. Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin. "Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah. Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang seja