Langsung ke konten utama

Tak Ada Yang Beranjak

Menjelang magrib di sebuah warung kopi, di tepi jalan, di depan sebuah Masjid bermenarakan kupiah. Lalu lalang jalanan yang bising, menyuratkan bahwa peredaran waktu seperti tak berpengaruh. Masjid besar yang megah, tempat dikumandangkan kalam-kalam suci yang syahdu, hanya untuk dilalui, dan seolah-olah seperti membisiki; biarkan saja orang-orang suci mempasrahkan dirinya pada sang Illahi di sana.

Pun pintu warung yang dibiarkan tetap menganga, ditepuki denging nyamuk yang menyorak sorai, barangkali mereka sedang mentertawakan kebodohan manusia, bahwa rejeki adalah milik-Nya, tetapi mengapa takut untuk mengistirahatkan aktivitas barang sejenak sekedar untuk menghormati agama yang tercantum dalam kartu tanda pengenal.

Koran yang enggan ditinggal oleh pembacanya, sudah lusuh masai karena seharian berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Mungkinkah bapak itu yang terakhir menyentuhnya hari ini? Bahunya bersandarkan pada punggung kursi plastik yang mengkilat. tak ada tanda-tanda ia akan beranjak, kakinya bergoyang silih berganti dengan ritme yang teratur.

Kalam-kalam suci yang terus mengumandang, menundukkan alam, memberi kesenyapan, udara yang tak lagi berdesau, langit yang tak lagi memerah, hari yang akan berubah warna. Manusia nyaris menyamati mata Kelelawar, berjalan dalam gelap, hidup dalam gelap, untuk memilih kegelapan.

Hingga Azan melesat menembus cakrawala, tak mampu kalahkan gelombang yang bertebaran di badan jalan. pekerja yang masih sibuk dengan gelas kopinya, bapak setengah baya yang masih setia dengan koran lusuhnya, dan aku yang masih memaku di sini. Tak ada yang beranjak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Secangkir Kopi Rempah dan Sepotong Roti Lapis Daging

Bohong kalau aku tak ingin ada kamu di sini. Menikmati malam yang dingin setelah hampir seharian dibebat mendung dan diguyur hujan. Dengan isi kepala dipenuhi sulur-sulur pekerjaan yang menumpuk. Entah karena itu pula akhir-akhir ini aku merasa semakin tak nyenyak tidur. Entah karena rindu untukmu yang kian bertumpuk.

Ini yang keempat kalinya aku datang ke kafe ini. Tak begitu jauh dari rumah. Selain, tempatnya juga nyaman, bebas asap rokok, tak berisik, lapang, dengan pendar-pendar lampu kekuningan yang agak sedikit temaram. Selalu ada tempat untuk membahagiakan diri sendiri. Tempat ini, mungkin saja salah satu di antaranya.

Seorang pelayan pria segera menghampiri begitu aku merapatkan pantat dengan kursi kayu berpelitur cokelat muda yang licin.

"Mau pesan kopi rempah?" tanyanya ramah.

Aku mengangguk cepat. Ya, kopi rempah adalah tujuanku datang ke kafe ini. Selain, berencana menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Juga untuk menghilangkan nyeri yang sejak siang ta…

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…