Langsung ke konten utama

Arti sebuah kesabaran

Sebagai ilustrasi ringan saya pernah mengalami waktu-waktu yang boleh dikata sangat menyebalkan, saya bahkan sampai menangis saking kesalnya, pasalnya sangat sepele sekali, seseorang yang sudah berjanji akan menghubungi saya ternyata tidak menepati janjinya pada waktu itu karena kesibukannya yang padat. Bagai cacing kepanasan saya terus gelisah, bertanya-tanya mengapa harus ada waktu-waktu yang tidak mengenakkan seperti saat itu.

Namun ada ilustrasi lain lagi yang menurut saya sangat luar biasa dampaknya, berpengaruh sangat tidak baik bagi masa depan seseorang dan dalam hubungannya dengan orang lain. Yang sampai sekarang saya terus bertanya-tanya dalam hati dan menyesalkan dalam hati, ah, jika saja ia sedikit mau lebih sabar.

Beberapa bulan yang lalu saya dan teman-teman mendirikan sebuah usaha kecil-kecilan, kami berjumlah enam orang, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Beruntungnya saya termasuk organ inti dalam usaha tersebut sehingga saya bisa bebas berkreativitas dan mengeluarkan ide-ide demi kemajuan usaha tersebut. Secara riil bisa dikatakan penggerak roda usaha tersebut hanya saya dan seorang teman yang menjabat posisi sebagai direktur, apa, bagaimana, dan akan dibawa kemana usaha tersebut juga sudah jelas tujuannya. Tiada hari yang kami lewati tanpa diskusi yang tujuannya hanya satu, bagaimana usaha ini bisa berkembang pesat? Entah itu dimobil, dirumah, dijalan, disekolah, bahkan diwarung kopi atau dipantai. Kami senang membicarakan semua itu karena kami sangat yakin usaha ini endingnya akan sukses.

Namun, dalam perjalanannya, ada satu orang teman yang boleh dibilang kurang terlibat dalam setiap diskusi yang kami lakukan, hampir tidak pernah memberikan ide-ide, dan “uniknya” selalu menjawab “apa ya?” saat ditanya punya ide apa? Bisa melakukan apa? Dan apa rencana kedepan untuk usaha ini? Ini bukanlah aset yang menguntungkan pikir saya, tetapi saya tidak pernah mengutarakan pendapat itu kepada siapapun, hingga saya mencoba mencari alternatif lain yang pas untuknya dan kami sepakat menjadikannya sebagai bendahara saja di organisasi tersebut karena memang latar belakang pendidikannya ekonomi.

Namun, persoalan tidak hanya sampai disitu, suatu hari saya menyuruhnya untuk menyusun timeline kegiatan yang tinggal diatur waktu menit per menitnya saja, tetapi....teman itu juga tidak bisa. Lama kelamaan semua teman-teman juga merasakan ke-aneh-an, setiap kali kami berdiskusi ada yang tidak nyambung rupanya, kita sudah sampai ke L terpaksa harus balik ke D lagi. Dan ini terus berulang, hingga akhirnya sepakat bahwa ia hanya sebagai pelengkap saja dilembaga ini, sejujurnya kami tidak inginkan ini tetapi mau bagaimana lagi. Tetapi walaupun begitu soal salary dan fee kita sudah sepakat untuk 6 orang ini akan sama setiap bulannya. Intinya kita tidak ingin melakukan perbedaan kepada siapapun.

Hukum alam ternyata tak pernah habisnya, yang tidak tahan dengan kondisi sulit, yang ingin memperoleh hasil secara instant, yang tidak mau berpayah-payah, ia akan tereliminir sendiri. Itulah yang terjadi dengan teman tadi, suatu hari ia mengeluhkan kondisi lembaga yang menurutnya jalan di tempat, belum mampu menggaji karyawannya secara tetap, dan ia tidak bisa bertahan dengan kondisi seperti itu.

Dalam meeting itu kami semua terdiam, merenungi, yah, apa yang dikatakannya memang benar, lembaga kami masih sangat merah, seperti bayi yang baru lahir, usianya saja belum sampai tiga bulan. “untuk itulah kita memerlukan orang-orang kreatif disini, yang bisa memberikan ide dan terobosan brilian untuk kemajuan usaha kita, kita semua menyadari kesulitan seperti yang dirasakan oleh teman-teman, tapi apakah ada yang instant di dunia ini?” ucap saya bertanya entah kepada siapa.

Semua terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan. Singkat cerita sampai hari ini teman itu tidak pernah datang lagi untuk berdiskusi bersama kita.

Satu hal yang sangat kami sesalkan adalah, saat dia meninggalkan kami, lembaga tersebut sudah ada beberapa proyek yang jumlahnya lumayan untuk permulaan, sampai-sampai kepada direktur saya sering mengatakan “jika saja dia mau bersabar beberapa hari lagi, tentu kita akan menikmati bersama-sama jerih payah ini.”

Dua ilustrasi diatas adalah contoh kecil, bisa dialami oleh siapa saja dan lembaga mana saja. Tetapi yang perlu dikaji adalah efek domino dari sebuah sikap tadi.

Pada Ilustrasi pertama yang merasakan dampak dari ketidak sabaran itu hanya saya sendiri, korban perasaan, dan hanya pada waktu itu saja. Tetapi pada ilustrasi kedua pengaruhnya sangat luar biasa sekali, bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga pada orang lain, bagaimana sikap seseorang ternyata sangat berpengaruh pada proses berfikir kreatif orang lain.

Inilah yang sangat jarang dipahami oleh sebagian besar orang, melakukan kesalahan tanpa memperhitungkan untung ruginya, lalu, apakah kita masih berani berfikir bahwa orang akan tetap memerlukan kita untuk memperlancar usahanya? Untuk mengembangkan bisnis?

Siapa yang tidak pernah mencicipi lezatnya ayam goreng KFC? Gurihnya, renyahnya, nyaris sempurna. Sampai-sampai semua orang rela antri hanya untuk sepotong ayam goreng (termasuk anda). Tetapi siapa yang peduli perjuangan berat sang kolonel saat pertama kali memulai usahanya? Kolonel tersebut memulai usahanya pada usia diatas 60 tahun, menawarkan resep ayam gorengnya lebih dari seribu restoran makanan dan baru diterima pada restoran ke 108, bisa anda bayangkan betapa jumlah restoran mkanan pada waktu itu tidak sebanyak sekarang? Dan dia baru menikmati hasil kerja kerasnya pada usia 90 tahun. Pertanyaannya sangat sederhana, bagaimana bila kolonel tersebut patah semangat saat menawarkan resepnya pada restoran yang 107 dan dia tidak mencoba lagi? Jawabannya juga sederhana, kita tidak pernah melihat ada gambar kakek tersenyum di Simpang Lima Banda Aceh.

Semua gambaran diatas hanya media untuk memotivasi semangat kita, bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jauh dekatnya kesuksesan hanya ditentukan oleh seberapa tekun dan kreatifnya kita. Bukan pada besarnya biaya yang kita keluarkan. Artinya, siapapun akan sukses, bila ia pandai mengelola potensi yang ada dalam dirinya. Tetapi, pernahkah kita berfikir bahwa kegagalan juga bisa hadir oleh kesalahan yang sangat sepele, begitulah orang-orang yang tidak menghargai “proses”.

[i]



[i] Lamdingin, 29 Sep. 07

07:58 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.