Langsung ke konten utama

Sulitnya Sportif Pada Diri Sendiri

Tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi seseorang, bukan pula bermaksud untuk menjelek-jelekkan siapapun. Tidak sama sekali karena itu nama orang yang dimaksud sengaja tidak ditampilkan disini demi kenyamanan semua pihak.

Siapapun percaya bahwa terlahir sebagai manusia maka berarti tak luput dari setiap kesalahan, sekecil apapun itu. Namun yang perlu dipertimbangkan adalah apakah kesalahan tersebut mempengaruhi hubungan sosial kita dengan orang lain atau tidak, apakah dengan kesalahan itu semuanya akan baik-baik saja atau bahkan semakin baik (ini termasuk kategori kesalahan yang diinginakan), atau dengan adanya kesalahan tersebut berdampak negatif terhadap jalinan persahabatan kita dengan orang lain (ini jenis kesalahan yang sangat tidak diharapkan kehadirannya).

Cerita ini diawali oleh pertemuan saya dengan seseorang yang bekerja di media secara kebetulan pada awal tahun lalu. Dari sana komunikasi terus berlanjut dan interaksi positif terbangun karena ia meminta saya membantunya disebuah organisasi sosial. Setelah memikirkannya dengan matang akhirnya saya menerima tawaran itu dan mengundurkan diri ditempat kerja yang sebelumnya. Tadinya saya berfikir bahwa lembaga tersebut sudah berjalan normal, tapi ternyata tidak, dan saya tidak menyesal dengan keputusan ini walaupun harus men-setting lagi semuanya dari awal. Lembaga ini masih sangat merah dan benar-benar harus ditata ulang mulai dari struktur organisasi, visi, misi dan program kerja. Saya senang melakukan itu semua karena memang menaruh minat yang besar dilembaga sosial. Dan kesenangan itu bertambah karena saya mendapat partner kerja yang visioner dan pintar.

Kembali ke si wartawan yang tadi mengajak saya bergabung dilembaga tersebut -dia hanya pendiri disana- dia mengajak saya menjadi salah satu kontributor di surat kabar tempatnya bekerja saat itu. Ini merupakan tawaran yang menantang pikir saya saat itu, dengan menerima tawaran ini berarti hobby menulis saya bisa tersalurkan dengan rutin dan dipastikan saya tidak akan melakukan hal-hal lain yang menyimpang diluar itu. Tanpa berfikir dua kali saya langsung mengatakan iya dengan catatan saya tetap memprioritaskan lembaga sosial yang sudah duluan saya kelola.

Hari-hari menyenangkan pun saya lakoni tanpa beban apa-apa, hingga akhirnya dengan beberapa teman yang lain kami memutuskan untuk mempunyai wadah sendiri untuk menyalurkan hobby tersebut secara formal. Maka tak lama setelah itu dibentuklah sebuah media dwi mingguan. Tapi siapa nyana bila disinilah awa ketidak-enakan itu. Hanya persoalan sepele, menyangkut dengan idealisme dan kode etik jurnalistik itu sendiri menurut saya. Sebagai orang yang sudah mengikuti beberapa kali pelatihan dasar dibidang jurnalistik dan banyak belajar dari para senior tentunya saya tahu betul tentang kode etik seorang jurnalis. Apa saja yang boleh dilakukan, bagaimana seharusnya seorang jurnalis memperlakukan narasumber, termasuk soal hal yang remeh temeh seperti apakah seorang jurnalis boleh menerima amplop atau tidak. Disinilah muncul keruncingan masalahnya, saat saya menawarkan dimedia tersebut dicamtumkan sebagaimana yang ada dimedia lain; tidak boleh menerima apapun dalam bentuk apapun bla...bla..bla...

Saya tidak menyangka dengan jawaban yang ia lontarkan, dengan gigi gemeretak, wajah tuanya terlihat sangat marah menahan emosi ia mengatakan begini: Mau dikasih makan apa wartawan kita kalau tidak boleh menerima amplop dari nara sumber!

Dengan suara bergetar namun berusaha untuk tenang saya menjawab: kalau mau dapat duit ya usahakan produk yang kita keluarkan berkualitas, supaya masyarakat mencari dan membeli, lalu dimana letak idealisme kita kalau cari makan dari amplop.

Setelah itu dia pergi dan saya kembali menekuni pekerjaan, saya berfikir bahwa obrolan hari itu sampai disitu saja tapi ternyata tidak. Siapa sangka kalau dia menyimpan dendam untuk saya, walaupun tidak diutarakannya secara verbal. Edisi perdana tetap terbit begitu juga dengan yang kedua, semakin lama semakin kentara bahwa diantara kami ada perbedaan visi dan misi, punya idealisme yang berbeda. Dan akhirnya pada sebuah forum ia menyatakan bahwa saya sudah mengundurkan diri secara resmi padahal saya tidak pernah melakukan itu. Pernyataannya tidak membuat saya kecewa, saya hanya berfikir bahwa tidak ada untungnya menjalin kerjasama dengan orang egois dan kolot seperti itu (maaf, agak kasar sedikit).

Kejadian baru-baru ini membuat kaget teman saya sendiri-bukan saya- dalam sebuah proposal jurnalistik saya menyindirnya secara halus, dan beruntungnya dia membaca proposal tersebut dan langsung berkomentar ”Proposal ini tidak akan diterimaa!” padahal beberapa waktu sebelumnya teman saya sudah beraudiensi dan proposal jurnalistik tersebut diteriman. Ah, saya jadi geli begitu juga teman saya sampai-sampai dia mengatakan ”ternyata dia sangat tidak suka ya dengan dikau....”

Tidak ada konklusi yang berarti dari tulisan ini selain...betapa sulitnya bersikap sportif terhadap diri sendiri. (ihan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

ilustrasi TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi... "Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun. Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya.  "Merahnya parah ngga?" cecarnya. "Parah!" jawabku. Jujur. Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur. Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih k

Nyamannya Kerja Sambil Ngopi di Pinggir Krueng Aceh

Enakkan duduk di sini? :-D Selama Covid-19 ini saya memang lumayan membatasi bertemu dengan orang-orang. Inisiatif untuk mengajak teman-teman nongkrong jarang sekali saya lakukan. Kalau ke kedai kopi, hampir selalu sendirian saja. Kalaupun sesekali bersama teman, itu artinya sedang ada pekerjaan bersama yang tidak memungkinkan kami untuk tidak bertemu. Atau karena ada sesuatu yang perlu didiskusikan secara langsung.  Ini merupakan ikhtiar pribadi saya sebagai tindakan preventif di tengah kondisi pandemi yang semakin tidak terkendali. Teman-teman saya sudah ada yang terinfeksi. Saya turut berduka untuk mereka, tetapi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain mendukung mereka khususnya secara morel. Nah, balik lagi ke cerita kedai kopi tadi. Ada beberapa kedai kopi yang akhir-akhir ini menjadi langganan favorit saya. Tak jauh-jauh dari kawasan tempat saya tinggal di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Walaupun akhir-akhir ini sebagian besar waktu saya ada di rumah, teta

Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

@internet SUDAH dua kali saya menonton film  Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, sebab saya bukan orang yang mudah menitikkan air mata, apalagi hanya untuk sebuah film. Tapi film yang dibintangi Aamir Khan dan Darshel Safary ini benar-benar beda, mengaduk-ngaduk emosi. Masuk hingga ke jiwa. Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau "Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m. Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan menulis, n