Langsung ke konten utama

UNESCO adakan training ICT di Banda Aceh

Belasan penulis dan jurnalis yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi di Banda Aceh mengikuti kegiatan training Information, Communication and Technology (ICT) di ruangan Multimedia Learning Center (MLC) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, 29-31/10. kegiatan ini diselenggarakan oleh UNESCO bekerja sama dengan Nurul Fikri, lembaga yang memfokuskan diri pada pengembangan pendidikan khususnya dibidang informasi teknologi.

Bapak Rusmanto, perwakilan UNESCO dari Jakarta dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan memperdalam wawasan mengenai perkembangan ilmu komunikasi, informasi dan teknologi. khususnya bagi para jurnalis dan penulis. "Perkembangan kemajuan informasi komunikasi sangat membantu tugas-tugas para jurnalis dan penulis karena secara langsung dapat menyampaikan ide-idenya melalui media internet." katanya dalam sambutan pada hari pertama, 29/10.

hal senada juga diungkapkan oleh Alfi Rahman, ketua panitia dari Nurul Fikri cabang Banda Aceh, ia mengatakan bahwa melalui kegiatan ini para jurnalis dan penulis dapat mempublikasikan sendiri tulisan-tulisannya melalui kemajuan teknologi informasi. sehingga proses penyampaian informasi kepada publik menjadi cepat.

ia juga mengharapkan para peserta nantinya dapat mentransformasikan lagi ilmu yang sudah mereka peroleh karena para peserta telah dibekali materi Training of Trainer (TOT). selain itu juga ada materi dasar tentang pengenalan internet seperti tata cara membuat e-mail, mengelola mailinglist, dan membuat website/blog hingga html.

para peserta mengaku sangat senang mengikuti pelatihan ini meskipun sebagian besar diantaranya sudah memahami dan sudah dapat mengaplikasikan materi yang disampaikan. Nelly, salah satu peserta pelatihan mengatakan kegiatan ini sangat bermanfaat baginya, selain memperdalam pengetahuannya mengenai seluk beluk internet "sekarang saya juga sudah dapat membuat web log sendiri." katanya senang.



Komentar

  1. wah dah mulai ya pelatihannya, aduhnana ga tau ada pelatihannya, mangnya pengumuannya dimana? kapan dibuat lagi pelatihan kek gini?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Salam blogger :-)

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.