Langsung ke konten utama

Training Event Organizer

Banyaknya jumlah tenaga kerja lokal yang mengalami pemutusan hubungan kerja oleh lembaga-lembaga International (NGO) yang berada di Aceh karena habisnya masa tugas lembaga tersebut bukanlah hal yang menyenangkan. Sebaliknya justru menimbulkan kemirisan mengingat akan semakin memperbesar jumlah pengangguran di Nanggroe Aceh Darussalam.
Bagi orang-orang yang mempunyai kreatifitas yang tinggi dan inovatif tentunya ini bukanlah kendala tetapi bagaimana dengan mereka-mereka yang mengalami jalan buntu setelah tidak bekerja lagi di lembaga-lembaga yang disebutkan diatas? (atau mungkin saja anda salah satunya…)

Tjute punya solusi untuk anda!!!

Sedikit yang tahu bahwa Event Organizer merupakan bisnis yang menjanjikan dimasa depan, bagi seorang pemula memulai bisnis ini tidaklah terlalu sulit, cukup dengan mengorganisir kegiatan-kegiatan kecil seperti ulang tahun, perkawinan saudara/tetangga, halal bi halal di kantor, dan acara seremonial lainnya.

Namuun anda masih bingung untuk memulainya? Temukan solusi dan jawaban komplitnya di Training Event Organizer yang dilaksanakan oleh Tjute (consultan, event organizer and promotion)

Materi workshop cukup praktis dan aplikatif, ditujukan bagi pemula yang ingin memulai bisnis Event Organizer dengan tingkat resiko sekecil mungkin (anti gagal).

hari/tanggal : rabu-kamis, 5 & 6 Desember 2007
tempat : lantai 1 Aula Harian Aceh J. T. Iskandar Lambhuk Ulee Kareng Banda Aceh
waktu : pkl 08.30 s.d selesai

materi dan pemateri

1. Dream Building about E.O Teamwork & Leadership (Bapak Zulkifli Abdul Gani Said)

1. Perencanaan Bisnis & Strategi Perolehan Peserta (Bapak Vito Gama)
2. Manajemen Event (Bapak Vito Gama)
3. Strategi Mendapatkan Sponsor (Bapak Jauhari Samalanga)
4. Membuat Proposal (Bapak Djeliteng Pribadi)


dengan biaya pendaftaran Rp. 150.000 anda sudah mendapatkan Makalah, Makan siang, dan Snack
untuk informasi dan pendaftaran dapat melalui email tjute_konsultan@yahoo.com dan Hp : 0813-60504909
note:
peserta hanya untuk 50 orang
batas maksimal mendaftar s.d tgl 15 november 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.