Langsung ke konten utama

Ketika Jiwa Kita Bercinta (6)

“Apa ini?” tanyamu saat aku menyerahkan sebuah paperbag untukmu.

“Kau akan melihatnya sendiri nanti.” Jawabku dengan sepotong senyum datar, dengan air mata yang hampir terjatuh, tapi aku tidak boleh menangis. Sebab kau tak pernah ajarkan aku untuk menyerah, juga pada keadaan.

“Terimakasih banyak.” Katamu lagi. Aku mengangguk. Tak sanggup mengeluarkan walau sepotong katapun untukmu. Hanya tarikan nafas panjang yang kusodorkan untukmu satu persatu.

“Paling tidak ketika kita tidak bisa bersama lagi, ada sesuatu dariku yang bisa kau kenang.” Kataku kemudian. Kau tidak menjawab, mencoba untuk tersenyum tetapi terasa getir. Memang, di antara kita tidak ada yang menegaskan, tetapi kita sama-sama tahu inilang penghujung dari semua prosesi, jalan panjang itu telah menemui perhentiannya.

Ini adalah saat di mana aku harus menjadi penulis yang baik, agar tidak ada sesuatupun yang terlewatkan dari engkau, aku menulisi engkau dengan pandangan mata yang tak pernah beranjak dari dirimu.

“Apa ini?” tanyamu lagi.

“Bukalah, kau akan tahu.”

Kau merobek bungkusnya, sesaat setelah itu aku melihat senyum terindah dari bibirmu, saat kau melihat dirimu ada di hadapanmu. Aku tetap tersenyum meski ingin menangis, rasanya baru kemarin kita berkenalan, lalu kita saling jatuh cinta, lalu kita menjalani hari-hari sebagai kekasih.

“Kau semakin terlihat kecil saja.” Ucapmu setelah kita lama saling diam.

“Tubuhku tergerus rindu yang parah untukmu.”

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk cinta yang parah ini.”

“Di penghujung kebersamaan kita Tuhan mentakdirkan kita untuk menghabiskan separuh malam di bawah purnama.”

“Ya, terimakasih untuk pemberianmu.”

“Bahkan aku tidak bisa memberinya tepat waktu.”

Kau tidak perlu menjawab karena kita telah tahu jawabannya.

Maka, pagi ini ketika kudapati wajahku sembab dan basah aku segera menyesakimu dengan pertanyaan; Cinta, kapan aku menciummu lagi. Dan kau, dengan suaramu yang lembut dan parau mempersilahkanku untuk melakukannya kapanpun aku menghendakinya; ciumlah aku dengan hatimu.



09.00 am
11 oct 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meranti dan sintrong, dua jenis sayuran hutan paling membekas di ingatanku

SAAT menuliskan ini aku sedang dalam kondisi tak "baik", entah kenapa sejak siang tadi aku kurang begitu semangat. Mungkin juga karena sudah beberapa hari ini badanku ngga begitu fit, semalam malah sempat homesick dan rasanya pengen pulang ke kampung. Sampai-sampai menetes air mata dan rindu begitu kuat sama almarhum ayah.

Saat-saat rasa "galau" itu melanda, tiba-tiba Mbak Adel yang di Bandung posting gambar eceng gondok yang akan disayur. Jujur saja seumur hidup aku belum pernah makan daun itu. Di Aceh daun eceng gondok biasanya dijadikan pakan bebek. Tapi aku -dan juga keluarga- suka sekali dengan daun genjer, yang habitatnya sama seperti eceng gondok. Sama-sama hidup di air. Yang oleh kebanyakan masyarakat Aceh lainnya juga dijadikan pakan bebek. Melihat postingan Mbak Adel ini teringat saat masih anak-anak, ibuku sering memasak daun-daunan liar.

Aku akan memutar ulang beberapa cerita masa kecilku tentang jenis sayur-sayuran, yang aku yakin hanya orang-orang &q…

Mau Cantik, Kok Ekstrem?

TIDAK seperti biasanya, pagi tadi pagi-pagi sekali bibi sudah membangunkanku. Padahal beberapa menit sebelum ia masuk ke kamar, aku baru saja menarik selimut. Berniat tidur lagi karena hari Minggu. Tapi...

"Kak, bangun!" katanya. Meski dia bibiku aku tetap saja dipanggilnya 'kakak'. Maksudnya 'kakak' dari adik-adik sepupuku. "Coba lihat wajah Bibi," sambungnya sebelum aku menjawab. Aku bangun.

Dan ops! Untung saja aku bisa mengontrol emosiku. Kalau tidak aku pasti sudah berteriak. Kaget dengan perubahan wajahnya. 

"Merahnya parah ngga?" cecarnya.

"Parah!" jawabku. Jujur.

Setelah menyampaikan 'uneg-uneg' soal wajahnya yang mendadak berubah itu si bibi kembali masuk ke kamarnya. Mungkin tidur. Mungkin mematut wajahnya di cermin. Aku, tiba-tiba saja nggak selera lagi untuk tidur.

Bibiku seorang ibu muda yang mempunyai tiga anak. Umurnya sekitar 32 atau 33 tahun. Perawakannya mungil, kulitnya putih kemerahan. Dengan kulitnya yang p…

Mekanik Kecil

Beberapa bulan lalu aku nonton film Taare Zameen Par, tentang seorang bocah yang mengalami disleksia. Film yang dibintangi Aamir Khan itu cukup menggugah, bukan hanya karena akting para pemainnya yang sangat menyentuh, tapi setelah menonton film ini aku mendapatkan pengetahuan baru.

Aku jadi teringat beberapa episode di masa kecilku, yang seolah-olah nggak jauh berbeda seperti yang kulihat di film itu. Saat sekolah misalnya, aku sering sekali memakai topi dan dasi yang miring, sepatu yang terbalik, susah membedakan angka tiga (3) dengan huruf Em (m). Guruku sering bilang kalau huruf-huruf yang kutulis seperti huruf Cina. Pertengahan Januari lalu aku kembali bertemu dengan guru tersebut. Komentarnya sungguh-sungguh membuatku terharu. "Uroe jeh diteumuleh lage huruf Cina, jinoe ka carong jih ngen tanyoe." Kira-kira artinya begini "Dulu menulisnya seperti huruf Cina, sekarang lebih pandai dia dari kita (guru-red)." Aku benar-benar terharu.