Enyahlah

wahai lelaki yang selalu hadir dalam mimpi, enyahlah.

jangan usik ruang bawah sadarku dengan hadirmu yang tiba-tiba.

engkau bukan hanya melelahkan fisikku, tetapi juga batinku, perasaanku robek, hatiku tersayat oleh perilakumu.

pasal takwil mimpi ini, entah apa yang membuatmu begitu lekat di ingatan.

tapi mengingatmu bagai menyelinapkan pisau lipat di genggamanku, mengiris-ngiris menitikkan darah tanpa terasa.

tolong, sekali ini saja, aku tidak memohon untuk pentakbulan rindu, tetapi meminta agar engkau menjauh dari pikiranku.



31 Oktober 2011 jam 18:58

Komentar